Perdebatan tentang Sumber Oksigen Bumi: Laut atau Hutan?
Pernyataan Anggota DPR RI Fraksi NasDem Viktor Laiskodat yang menyebut hutan bukan penyumbang oksigen terbesar di Bumi mendadak menuai perhatian publik pada akhir Desember 2025. Viktor menilai laut melalui fitoplankton dan alga justru menjadi produsen utama oksigen dunia, sehingga istilah hutan sebagai “paru-paru dunia” dinilainya kurang tepat, bahkan mengaitkan mencairnya es kutub dengan potensi peningkatan produksi oksigen.
Pandangan tersebut memicu perdebatan luas di ruang publik. Benarkah laut menyumbang oksigen lebih banyak daripada hutan? Sejumlah warganet menilai pernyataan itu benar secara data, tapi berpotensi menyesatkan jika dijadikan dasar pembenaran kebijakan yang mengabaikan perlindungan hutan.
Para pemerhati lingkungan menegaskan bahwa ekosistem darat dan laut tidak dapat dipisahkan. Kerusakan hutan, misalnya, dapat meningkatkan sedimentasi yang merusak terumbu karang, memicu ledakan alga beracun, hingga berkontribusi pada kenaikan suhu laut. Dampaknya bukan hanya dirasakan di darat, tetapi juga mengancam keseimbangan ekosistem laut dan kehidupan manusia.
Oleh karena itu, para ahli mengingatkan bahwa perlindungan lingkungan harus dipandang sebagai satu kesatuan. Hutan dan laut saling terhubung dalam satu sistem ekologis yang harmonis, sehingga menjaga salah satunya dengan mengorbankan yang lain justru berisiko memperparah krisis lingkungan secara keseluruhan.
Laut dan Hutan Sama-Sama Penghasil Oksigen, Skala Waktunya Berbeda
Peneliti Ahli Utama BRIN, Widodo Setiyo Pranowo, menegaskan perdebatan soal sumber utama oksigen Bumi kerap disederhanakan secara keliru. Menurutnya, baik laut maupun hutan memiliki peran penting dalam menghasilkan oksigen, hanya saja kontribusinya perlu dilihat dalam dua skala waktu berbeda, yakni tahunan dan jutaan tahun.
“Dalam skala produksi tahunan, sekitar separuh oksigen yang kita hirup berasal dari laut, terutama dari fitoplankton di permukaan laut, sementara sisanya dihasilkan tumbuhan darat termasuk hutan,” ujar Widodo saat dimintai keterangan, Kamis (1/1/2026).
Namun, jika ditarik dalam rentang waktu geologis, ia menjelaskan bahwa sebagian besar oksigen di atmosfer Bumi justru berasal dari laut, terutama mikroorganisme purba yang hidup jutaan tahun lalu.
Terkait anggapan bahwa hutan hujan seperti Amazon adalah “paru-paru dunia”, Widodo meluruskan persepsi tersebut. “Amazon bukan pabrik oksigen, melainkan penyangga iklim global,” katanya. Ia menjelaskan bahwa Amazon memang memproduksi oksigen, tetapi sebagian besar langsung digunakan kembali oleh pohon, hewan, mikroba, serta proses pembusukan, sehingga kontribusi oksigen bersihnya ke atmosfer nyaris netral.
Meski begitu, peran Amazon tetap krusial dalam penyimpanan karbon, stabilitas iklim, dan keanekaragaman hayati. “Sederhananya, dari dua kali kita bernapas, satu tarikan napas itu bisa dibilang kita ‘berutang’ pada laut,” ujarnya.
Ketika Laut Tertekan, Bumi Ikut Terancam
Widodo juga mengingatkan bahwa kemampuan laut menghasilkan oksigen tidak kebal terhadap krisis iklim dan pencemaran. Pemanasan global membuat suhu laut meningkat, sehingga oksigen semakin sulit larut dan menyebabkan lapisan oksigen terlarut menjadi terstratifikasi.
Akibatnya, suplai oksigen ke lapisan laut yang lebih dalam melemah, bahkan di wilayah pesisir dapat muncul zona hipoksia atau dead zones akibat pencemaran nutrien. “Dalam 50 tahun terakhir, lautan dunia sudah kehilangan sekitar 2 persen stok oksigennya. Angkanya tampak kecil, tapi dampaknya besar bagi ekosistem ikan, industri perikanan, dan rantai makanan laut,” kata Widodo.
Ia menegaskan, meski manusia tidak akan tiba-tiba kehabisan oksigen untuk bernapas karena atmosfer Bumi sangat besar, penurunan kemampuan laut memproduksi oksigen dan menyerap karbon dioksida dapat mempercepat krisis iklim dan mengganggu ketahanan pangan.
Peran sentral laut itu, lanjut Widodo, tidak lepas dari fitoplankton yang bekerja layaknya “hutan mini” di samudra. Meski berukuran mikroskopis dan biomassa totalnya jauh lebih kecil dibanding hutan darat, fitoplankton memiliki laju reproduksi tinggi dan sebaran sangat luas. “Bahkan satu spesies bakteri laut, Prochlorococcus, diperkirakan menyumbang sekitar 20 persen oksigen global,” jelasnya.
Berdasarkan temuan ilmiah tersebut, Widodo menekankan bahwa istilah paru-paru Bumi seharusnya tidak dilekatkan pada satu ekosistem saja. “Paru-paru Bumi itu bukan hanya Amazon, tapi juga samudra. Kalau laut sakit, Bumi ikut sesak napas,” pungkasnya.
Laut Menghangat, Produksi Oksigen Tertekan Karena Perubahan Iklim
Sementara itu, pakar oseanografi Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK) Institut Pertanian Bogor (IPB), Tri Prartono, menjelaskan bahwa perubahan iklim memberi tekanan nyata terhadap kemampuan laut memproduksi oksigen. Peningkatan suhu laut membuat air menjadi lebih hangat, yang secara fisik berdampak langsung pada kandungan oksigen terlarut.
“Sifat dasar air itu, kalau suhunya naik, daya larut gas termasuk oksigen akan turun,” ujar Tri saat dihubungi secara terpisah, Kamis (1/1/2026).
Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kadar oksigen di laut, tetapi juga mengganggu proses biologis organisme produsen oksigen, khususnya fitoplankton. Menurut dia, suhu yang terlalu hangat dapat merusak struktur sel fitoplankton, terutama bagian yang berfungsi menangkap cahaya matahari. Akibatnya, proses fotosintesis menjadi tidak optimal.
“Kalau struktur penangkap cahaya rusak, efektivitas fotosintesis menurun, dan produksi oksigen ikut berkurang,” jelasnya.
Masalah tersebut diperparah oleh pencemaran yang banyak terjadi di wilayah pesisir. Limbah dan penurunan kualitas air menghambat pertumbuhan fitoplankton. “Penurunan pertumbuhan fitoplankton berarti semakin sedikit organisme yang berfotosintesis, dan itu artinya produksi oksigen juga menurun,” kata Tri.
Ketika Laut dan Atmosfer Berebut Oksigen
Tri Prartono menekankan bahwa ekosistem laut tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung erat dengan atmosfer. Interaksi ini terjadi melalui pertukaran gas, termasuk oksigen, yang sangat bergantung pada perbedaan tekanan parsial antara air laut dan udara.
“Jika tekanan parsial oksigen di air lebih tinggi karena produksi fitoplankton maka laut akan menyumbangkan oksigen ke atmosfer, dan itu sangat bermanfaat bagi makhluk hidup yang bernapas,” paparnya.
Namun, situasi bisa berbalik ketika ekosistem laut rusak. Saat produksi oksigen di laut menurun, tekanan parsial oksigen di air menjadi lebih rendah dibandingkan di udara. “Dalam kondisi itu, justru oksigen dari udara akan terserap ke laut. Artinya, terjadi semacam kompetisi pemanfaatan oksigen antara laut dan kehidupan di darat,” ujar Tri.
Ia mengingatkan, kerusakan ekosistem laut yang menghambat fotosintesis fitoplankton bukan sekadar persoalan lingkungan pesisir, melainkan ancaman global. “Jika oksigen di laut terus menurun, dampaknya bisa membahayakan kehidupan makhluk hidup di muka Bumi secara keseluruhan,” tegasnya.
Penjelasan ini menegaskan bahwa laut dan hutan bukan dua entitas yang saling menggantikan, melainkan satu sistem ekologis yang saling bergantung ketika salah satunya terganggu, keseimbangan Bumi ikut terancam.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











