Sejarah Perkembangan Bahasa Melayu Menjadi Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia, sebagai bahasa persatuan yang dijunjung tinggi sejak Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928, memiliki akar yang dalam dan bersejarah. Bahasa ini berasal dari bahasa Melayu, yang sebelumnya menjadi lingua franca di Kepulauan Nusantara. Dalam artikel ilmiah yang ditulis oleh Samuel Mamoto pada tahun 2023 dengan judul “Sejarah Perkembangan Bahasa Melayu Menjadi Bahasa Indonesia”, terdapat empat alasan utama mengapa bahasa Melayu menjadi dasar dari bahasa Indonesia:
- Pada sekitar abad ke-7 M, saat perdagangan internasional di sepanjang pantai timur Sumatra tengah berkembang pesat, masyarakat Sriwijaya menggunakan bahasa lokal tersebut sebagai bahasa komunikasi dalam aktivitas perdagangannya.
- Kerajaan Sriwijaya juga dikenal lintas negeri sebagai pusat penyebaran agama Buddha.
- Pada masa itu, bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa pengantar dalam lembaga pendidikan di Bumi Sriwijaya.
- Di sisi lain, bahasa Melayu juga hadir sebagai bahasa resmi dalam setiap pertemuan organisasi lokal.
Prasasti Kedukan Bukit di Palembang, Sumatra Selatan, yang bertarikh 683 M, menjadi saksi bisu perluasan penggunaan bahasa Melayu di masyarakat pesisir pada masa itu. Selain itu, ada prasasti Talang Tuwo di kota yang sama dengan tanggal 684 M dan prasasti Karang Brahi di tepi Sungai Batanghari yang bertarikh 686 M, yang menggunakan bahasa Melayu kuno dan tertulis dalam aksara Pallawa.
Pada perkembangannya, bahasa Melayu yang digunakan dalam komunikasi perdagangan, karya sastra, dan dakwah Islam hingga abad ke-15 M adalah varian sederhana dari Melayu Klasik atau sering disebut Melayu Pasar. Dialek ini lebih mudah dipelajari dan menyebar ke berbagai daerah yang menjadi pusat perdagangan. Selain dalam bentuk Melayu Pasar, bahasa Melayu juga hadir dalam berbagai karya sastra seperti hikayat dan lainnya. Penyebarannya sangat luas mulai dari kawasan Samudra Pasai hingga Tidore.
Terpilihnya bahasa Melayu Riau-Lingga sebagai dasar dari bahasa Indonesia, seperti yang ditulis Sutan Takdir Alisjahbana tahun 1949 dalam buku “Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia”, disebabkan karena struktur linguistiknya yang sederhana, cenderung bersifat netral, dan sudah lebih dulu digunakan dalam interaksi sosial secara luas di tengah masyarakat Kepulauan Nusantara. Selain itu, bahasa Melayu Riau-Lingga dinilai lebih halus dan baku, sehingga para ahli bahasa kala itu menyepakati penggunaannya sebagai dasar dari bahasa Indonesia.
Meskipun terpilihnya bahasa Melayu Riau-Lingga melalui konsensus intelektual dan politik pada awal abad ke-20, transformasinya menjadi bahasa nasional tetap melalui perjalanan panjang. Dalam perjalanannya, terdapat serangkaian kebijakan kebahasaan yang harus dibangun dengan kesadaran kolektif akan sebuah media pemersatu dalam sebuah bangsa yang memiliki keragaman etnolinguistik.
Perkembangan bahasa Melayu menuju bahasa Indonesia juga didukung oleh infrastruktur literasi yang sudah ada sejak masa kolonial. Pada masa Pemerintah Hindia Belanda, melalui Balai Pustaka, salah satu ragam Melayu ditetapkan sebagai bahasa penerbitan resmi. Melalui standardisasi tersebut, bahasa tersebut mempermudah masuknya ke ranah pendidikan, administrasi, hingga pers nasional.
Mulai dari penggandaan berbagai buku pelajaran, kamus, karya sastra, dan terbitan populer dalam ragam Melayu baku telah mempercepat proses internalisasi bahasa dalam kehidupan masyarakat. Momentum puncaknya terjadi dalam Sumpah Pemuda yang terjadi tanggal 28 Oktober 1928, di mana para tokoh pemuda dari berbagai organisasi kedaerahan secara serentak berkomitmen untuk menjunjung tinggi “bahasa Indonesia” sebagai bahasa persatuan.
Setelah Indonesia merdeka, peran bahasa Indonesia semakin diperkuat melalui konstitusi dalam Pasal 36 UUD 1945 yang menyatakan bahwa “Bahasa negara ialah bahasa Indonesia.” Pemerintah kemudian mengembangkan berbagai program pembinaan dan pengembangan bahasa, seperti penyusunan ejaan, pengayaan kosakata, penyusunan tata bahasa baku, penelitian, dan pengajaran dalam lembaga pendidikan.
Dalam ranah linguistik, perkembangan bahasa yang memadukan akar Melayu dengan dinamika peminjaman kosakata dari berbagai bahasa, mencerminkan sejarah panjang Nusantara sebagai kawasan perdagangan internasional. Interaksi intens dengan budaya asing seperti India, Arab, Persia, Tiongkok, hingga Eropa turut memengaruhi perkembangan bahasa Indonesia.
Warisan leksikal dari Sanskerta juga ditemukan dalam ranah kebudayaan, politik, dan keagamaan. Keberagaman tersebut menandai sifat bahasa Indonesia sebagai bahasa terbuka dan terus berkembang.
Pada aspek sosial, bahasa Indonesia telah menjadi alat mobilitas dan integrasi bangsa. Dengan status tunggalnya sebagai bahasa resmi negara dan bahasa pengantar pendidikan, membuatnya tersebar luas hingga ke pelosok negeri tanpa menggeser kedudukan bahasa daerah sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional. Bahasa Indonesia justru hadir sebagai titik temu antaretnis dan antarwilayah.
Kini, bahasa Indonesia telah menunjukkan dirinya sebagai bahasa yang hidup, dinamis, dan terus berkembang mengikuti perkembangan zaman. Bahasa ini telah menjadi wadah ekspresi ilmiah, budaya, ekonomi, dan digital, serta tampil sebagai bahasa besar dengan ratusan juta penutur. Keberhasilannya telah benar-benar menyatukan keragaman dalam satu identitas kebahasaan yang kokoh.
Sebagai generasi penerus, kita harus menyadari dan memaknai secara mendalam perjalanan bahasa Indonesia yang tidak terlepas dari peran bahasa Melayu sebagai akarnya. Berawal dari bahasa perdagangan di wilayah pesisir, kini menjadi simbol pembangunan nasional yang strategis. Sejarah telah mencatatkan bahwa bahasa memiliki peran penting dalam menciptakan bangsa yang merdeka, setara, dan berdaulat. Bahasa Indonesia hari ini adalah buah dari perjalanan kolaboratif linguistik yang cerdas, kolaboratif, dan tetap terbuka untuk tumbuh bersama menuju masa depan.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











