YOGYAKARTA,
Bulan Januari tahun 2026 menjadi awal yang penuh tantangan bagi bangsa Indonesia. Bencana banjir yang melanda Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan daerah lainnya meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat. Musibah ini tentu tidak diinginkan, namun harus dihadapi bersama dengan semangat kebersamaan dan kekuatan batin.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, memberikan pesan penting dalam menghadapi tahun baru. Ia menyerukan kepada seluruh warga bangsa untuk memperkuat jiwa, pikiran, dan tindakan berbasis hikmah serta kebijaksanaan. Refleksi spiritual, intelektual, dan sosial menjadi kunci dalam menjalani kehidupan kebangsaan yang lebih terarah dan cerdas.
“Mari lakukan refleksi spiritual, intelektual, dan sosial dalam kehidupan kebangsaan agar perjalanan ke depan semakin terarah di jalan yang benar dan lebih tercerahkan,” ujar Haedar dalam acara Refleksi Akhir Tahun “Bangkit Bersama untuk Indonesia”.
Ia juga mengajak untuk tidak terjebak dalam euforia dan pesta pora. Sebaliknya, ia menekankan pentingnya empati terhadap sesama yang sedang berjuang menghadapi musibah. Dengan semangat baru, bangsa ini harus lebih tangguh dan bersatu dalam menghadapi tantangan hidup.
Haedar menegaskan bahwa nilai-nilai ketuhanan (hablum minallah) yang diajarkan oleh agama-agama di Indonesia harus dipertahankan. Hal ini sejalan dengan nilai Pancasila sebagai fondasi negara. Di tengah bencana, spirit kebangkitan harus dibangun, bukan malah menciptakan keriuhan atau suasana pesimis.
“Kami menaruh hormat kepada saudara-saudara korban terdampak bencana yang masih terus berjuang mengatasi kesulitan dengan kesabaran dan semangat kebersamaan yang tinggi,” kata Haedar.
Selain itu, ia menyampaikan bahwa pasca-bencana menjadi momen untuk mengevaluasi kondisi ekosistem Indonesia secara menyeluruh. Kajian-kajian harus dilakukan dengan pendekatan multidisiplin dan multiperspektif, didukung riset lapangan yang andal agar hasilnya mendekati kebenaran yang substansial.
“Bersama dengan itu mari menata Indonesia di bidang politik, sosial, ekonomi, tata ruang, lingkungan, dan semua aspek secara benar dan tersistem menuju Indonesia yang lebih baik dan berkemajuan,” tegas Haedar.
Ia menekankan pentingnya kohesivitas hidup bersama dalam menghadapi bencana maupun dinamika kehidupan berbangsa. Dasar Persatuan Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika harus menjadi patokan hidup bersama, bahkan dalam situasi sulit sekalipun.
“Jadikan keduanya sebagai nilai yang hidup (living value) dan teraktualisasi dalam kehidupan bersama,” jelas Haedar.
Haedar juga menyoroti pentingnya menjaga kerukunan antarkomponen bangsa. Ia memperingatkan agar menghindari perpecahan, saling menyalahkan, atau membodohkan satu sama lain. Kebersamaan yang tulus dan otentik menjadi kunci utama.
“Jaga kerukunan dan kehormatan antarkomponen bangsa yang menjadi penopang kuat keindonesiaan,” imbuhnya.
Dalam situasi kritis, media sosial sering kali menjadi wahana perseteruan yang mengoyak persatuan. Haedar menegaskan bahwa harga terlalu mahal jika bangsa ini pecah akibat kelalaian dalam penggunaan media sosial.
“Alangkah ruginya hidup ini jika manusia menjadi korban kebebasan media sosial yang liar, padahal seluruh warga bangsa sejatinya saling memerlukan untuk hidup bersama dalam harmoni dan keadaban tinggi,” tegas Haedar.
Di tengah konstelasi global yang kompleks, Indonesia dituntut lebih waspada dan seksama dalam menghadapi berbagai aspek kehidupan. Transformasi kehidupan yang bermakna menjadi kunci agar Indonesia mampu melangsungkan kehidupan dan memproyeksikan masa depan yang pasti dan benar arah.
“Pastikan bahwa Pemerintah Negara Republik Indonesia secara nyata dan konsisten mampu melaksanakan kewajiban konstitusionalnya dalam melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,” ujar Haedar.
Haedar juga mengimbau para tokoh politik dan pejabat negara untuk memiliki jiwa, pemikiran, serta orientasi kenegarawanan yang luhur dalam memimpin Indonesia. Arah berbangsa-bernegara harus sejalan dengan nilai, konstitusi, dan cita-cita nasional yang diletakkan oleh para pendiri negara.
“Para elit dari seluruh komponen bangsa, termasuk para pemimpin agama, dituntut kiprah kenegarawanannya dengan mengedepankan kepentingan bangsa dan negara daripada hasrat diri, kelompok, dan golongan sendiri. Jadilah suluh pencerah bangsa dengan nilai-nilai luhur kehidupan yang kaya makna,” tegas Haedar.
Seluruh rakyat Indonesia harus semakin terdidik dan dewasa agar mampu menjalani kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dengan lebih baik di tengah persaingan tinggi dengan bangsa-bangsa lain di berbagai kawasan.
“Mari berlomba-lomba dalam kebaikan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pegangi nilai-nilai luhur dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara agar masa depan Indonesia makin berjaya,” ungkap Haedar.
“Seluruh pihak mesti bergerak bersama dengan wawasan jauh ke depan dalam ikatan Persatuan Indonesia yang kokoh dan otentik menuju Indonesia Raya yang berkemajuan dan berperadaban utama,” imbuhnya.











