Peran KH. Imam Jazuli dalam Dinamika Internal PBNU
KH. Imam Baihaqi, pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Jannah, Sarang, menyampaikan bahwa ketika PBNU mengalami dinamika internal yang cukup keras, muncul sosok KH. Imam Jazuli dengan gerakan dan ide-ide progresifnya sebagai penanda bahwa politik dan pergerakan di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) masih memiliki landasan ideologis yang kokoh. Keterlibatan Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia ini dalam kemelut internal PBNU menurut kesaksian penulis bukanlah sebuah upaya mencari panggung, melainkan sebuah manifestasi dari “ghirah” (semangat) dan dedikasi seorang santri yang tak ingin rumah besarnya kehilangan arah.
Sebelum menjatuhkan pilihannya untuk mendukung supremasi Syuriah, tepatnya setelah Muktamar NU yang menetapkan KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) sebagai Ketua Umum, langit di atas Lampung dan Jakarta tampak mendung. Ketegangan antara PBNU dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menjadi pemandangan yang mengkhawatirkan bagi mereka yang memahami sejarah.
Indikasi ketegangan muncul dari berbagai peristiwa, termasuk teguran PBNU kepada pengurus cabang tertentu dan arahan politik Gus Yahya yang dianggap kurang sejalan dengan aspirasi PKB, yang berpuncak pada absennya Cak Imin di acara pelantikan PBNU di Kalimantan Timur. Beberapa pengamat mengaitkan ketegangan ini dengan persepsi bahwa kepengurusan PBNU saat itu kurang mengakomodir kader PKB.
Realitas itulah, ditambah pandangan bahwa periode kepemimpinan Gus Yahya dinilai minim program konkret dan sering diliputi kegaduhan internal. KH. Imam Jazuli melihat fenomena ini bukan sekadar friksi antarelite, melainkan sebuah pertarungan ideologi yang serius.
PKB: Rahim Ideologis NU
Hal fundamental yang menguatkan keyakinan KH. Imam Jazuli adalah kesadaran historis bahwa PKB lahir dari rahim NU dan berfungsi sebagai alat politik satu-satunya milik NU. Fakta sejarah ini, sayangnya, seringkali terabaikan oleh pihak-pihak yang tidak menginginkan persatuan antara NU dan PKB dalam mengemban amanat umat.
Bagi Kiai Imam, panggilan PBNU terhadap pengurus daerah hingga absennya tokoh-tokoh kunci dalam agenda nasional organisasi bukan sekadar drama politik. Hal ini adalah sinyal retaknya sinergi antara “Jamâiyah” dan “alat politiknya”. Beliau menyadari bahwa jika PBNU menjauh dari PKB, maka ada mata rantai sejarah yang sedang dipaksa putus.
Kesadaran itulah yang menggerakkan beliau untuk mengambil sikap kritis. Sikap kritis yang tidak lahir dari kebencian, melainkan dari kegelisahan seorang pecinta yang melihat kekacauan di tengah kepemimpinan yang minim program nyata dan seringkali gaduh. Pada akhirnya KH. Imam Jazuli memotori dalam barisan Presidium Muktamar Luar Biasa (MLB) bersama tokoh-tokoh seperti Gus Salam Shohib adalah ijtihad politik yang berat namun harus diambil.
Beliau meyakini bahwa PKB adalah anak kandung yang lahir langsung dari rahim NU. Sebagai satu-satunya partai yang didirikan secara resmi oleh PBNU, PKB adalah alat perjuangan politik yang sah bagi warga Nahdliyin. Kiai Imam dengan tegas mengingatkan adanya “tangan-tangan gelap” yang berupaya mengebiri hubungan ini.
Keyakinan yang Terbentuk dari Warisan Ayah
Beliau melihat upaya menjauhkan NU dari PKB sebagai pelemahan sistematis terhadap amanat jamaah. Maka, keterlibatan beliau dalam menyikapi kebijakan Gus Yahya adalah bentuk perlawanan terhadap upaya deparpolisasi NU yang dianggapnya tidak kontekstual dengan sejarah pendirian partai tersebut.
Keyakinan ini semakin kokoh berkat wasiat almarhum ayahandanya, KH. Anas Sirojudin. Sang ayah pernah berkisah tentang Kiai Sanusi Gunung Puyuh Sukabumi, yang meskipun menjalankan ibadah ala NU secara kaffah (menyeluruh), memilih jalur politik di luar NU (Masyumi), yang kemudian melahirkan Ormas PUI (Persatuan Umat Islam).
Menurut pandangan ayahandanya, PUI bukanlah NU sejati karena belum kaffah dalam ber-NU secara politik. Analogi ini menegaskan pandangan bahwa menjadi NU yang kaffah berarti juga mendukung dan berjuang melalui PKB sebagai alat politik resminya. Lebih dari itu, realitas membuktikan bahwa hanya PKB yang saat ini menjadi alat politik NU dan konsisten berjuang total untuk kepentingan pesantren dan NU secara keseluruhan.
Dedikasi dan Idealisme
Di tengah hiruk pikuk akan tuduhan pragmatisme, KH. Imam Jazuli tetap tegak dengan integritasnya. Beliau tidak sedang mengincar kursi di PBNU, tidak pula berhasrat pada posisi strategis di PKB, apalagi kursi di birokrasi pemerintahan. Dunia pesantren adalah pelabuhan terakhir dan utamanya. Seluruh tenaga, pikiran, dan sumber daya yang beliau miliki telah diikrarkan untuk pengembangan pesantren.
Tampak jelas bahwa Kiai Imam telah melampaui segala urusan materi dan benar-benar selesai dengan urusan duniawi tersebut. Kerelaan beliau menggunakan dana pribadinya sendiri, bahkan tidak sedikit jumlahnya, untuk menegakkan prinsip-prinsip yang beliau yakini menjadi bukti kuat akan hal ini. Di luar itu, sependek pengetahuan penulis, Kiai Imam tidak berkenan menerima infak, sodaqoh, wakaf, atau hadiah dari pihak manapun, termasuk dari walisantri, publik, apalagi tokoh politik.
Kiai Imam, yang kini mengasuh lebih dari 5000 santri di empat pesantren, juga menegaskan pilihannya untuk tetap berada di jalur kultural. Beliau menjelaskan bahwa dengan kesibukan mengelola pesantren, sangat sulit baginya untuk terlibat aktif dalam organisasi formal. Maka, tak berlebihan selama delapan tahun terakhir, beliau konsisten tidak menghadiri acara seremonial apapun, kecuali untuk momen-momen krusial PKB, seperti saat memberikan sambutan di acara ulang tahun PKB di JCC, Muktamar PKB di Bali, acara FPTP PKB, serta pertemuan kultural dengan Presidium MLB.
Sikap ini menunjukkan komitmen beliau dalam menjaga keseimbangan antara tanggung jawab pendidikan pesantren dan kontribusi politik melalui pendekatan kultural yang kuat. Jika hari ini beliau bersuara lantang, itu karena cintanya yang mendalam pada NU. Bukankah cinta sejati seringkali menuntut pengorbanan yang total? Tindakannya secara konsisten mencerminkan dedikasi yang tulus terhadap nilai-nilai luhur, bukan demi keuntungan pribadi.
Kesimpulan
Maka keterlibatannya dalam lingkaran kritis PBNU adalah cara beliau menjaga agar organisasi ini tetap berjalan di atas rel yang benar. Beliau memilih jalan yang beresiko dari puja-puji kekuasaan demi memastikan bahwa rumah besar NU tetap menjadi pengayom bagi pesantren dan partai yang lahir dari keringat para ulamanya.
KH. Imam Jazuli adalah potret kiai muda yang punya pendirian, bahwa politik sebagai alat khidmah (pelayanan), bukan sebagai tangga pemuas ambisi. Kehadirannya dalam dinamika internal PBNU memberikan warna bahwa dalam setiap kritik, selalu ada doa dan harapan agar NU kembali pada khitmahnya yang sejati: sebagai pelayan umat dan penjaga gawang aspirasi politik kaum santri.











