Pengalaman Menelusuri Baku Boulevard
Saat berjalan di sepanjang Baku Boulevard, saya merasa terpesona oleh keindahan Danau Caspia yang terbentang luas. Jalan pedestrian yang lebar dan nyaman memberikan pemandangan yang luar biasa. Zoyir menjelaskan bahwa area ini dirancang dengan konsep desain lingkungan yang menyerupai beberapa daerah dari berbagai negara. Ada lingkungan khusus yang menghadirkan tanaman kaktus yang berasal dari Amerika Serikat.
Kaktus-kaktus tersebut ditempatkan dalam lingkungan khusus dengan berbagai jenis. Saya agak bingung karena Azerbaijan memiliki empat musim, di mana separuh tahunnya cukup dingin atau sejuk. Bagaimana mungkin kaktus bisa hidup di sana? Namun, ternyata kaktus-kaktus itu tumbuh dengan baik dan dirawat dengan sangat baik. Mungkin mereka memiliki metode khusus untuk menjaga kehidupan kaktus tersebut.
Di sepanjang jalan, ada pameran foto yang menampilkan fauna dan flora khas Azerbaijan serta tempat-tempat indah yang memadukan budaya dan alam. Pameran ini gratis dan memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk belajar lebih banyak tentang keunikan Azerbaijan.
Baku Boulevard dibangun khusus untuk warga kota dan para wisatawan agar dapat menikmati keindahan Danau Caspia dari sudut pandang Baku. Danau Caspia yang sangat besar dibatasi oleh beberapa negara seperti Azerbaijan, Iran, Turkmenistan, Kazakhstan, dan Rusia. Meskipun disebut sebagai Laut Caspia oleh sebagian orang, sebenarnya Danau Caspia adalah danau air tawar yang tidak terhubung dengan laut.
Setelah menikmati angin pagi yang sepoi-sepoi, saya menemukan sebuah bangunan yang menyerupai Miniature Mode Gakuen Cocoon Building di Shinjuku, Tokyo. Desain bangunan ini sangat menarik dan menjadi pusat aktivitas. Saya meminta izin Zoyir untuk mengamati area tersebut sementara dia beristirahat. Ia memang sering beristirahat meskipun tidak pernah memintanya.
Setelah cukup lama mengamati bangunan tersebut, kami melanjutkan perjalanan hingga mencapai dermaga yang cukup jauh masuk ke Danau Caspia. Di sini, saya banyak berfoto karena dermaga sangat indah. Desainnya sesuai dengan kebutuhan semua orang, dengan latar belakang kota Baku di kedua sisinya. Dermaga ini masuk hingga sekitar 500 meter, membuat saya merasa seperti berada di atas danau, menikmati keindahan kota Baku.
Di ujung dermaga, saya berada di dua sisi yang berbeda dengan latar belakang kota Baku yang cantik. Langit biru yang ceria menambah keindahan suasana tersebut.
Selama sekitar satu jam, kami berpindah-pindah untuk berfoto dengan keindahan kota Baku. Akhirnya, Zoyir mengajak saya melanjutkan perjalanan. Karena musim gugur, siang hari lebih pendek dibanding malam. Jam 8.00 pagi matahari baru tampak seperti jam 6.00 pagi di Jakarta, sedangkan jam 5.00 sore di sana seperti jam 6.30 di Jakarta. Kami harus cepat agar tidak gelap saat berfoto.
Setelah berjalan lagi, kami tiba di lingkungan perkotaan yang juga berada di pesisir Danau Caspia. Kami sempat berfoto dengan “Gedung Carpet” yang menyerupai gulungan karpet dan menikmati es krim sebelum menuju dermaga terakhir sebelum masuk ke sebuah mall dengan konsep mirip Sydney Opera House.
Di dermaga tersebut, kami berhenti karena agak sulit untuk berfoto. Kami hanya menikmati permainan burung camar yang terbang tinggi dan memberikan makan mereka dengan remahan roti yang kami bagikan dengan beberapa turis lainnya.
Akhirnya, kami menikmati malam yang lumayan panjang untuk kembali ke hotel melalui jalan yang berbeda. Kami menemukan suasana malam di Baku yang sangat gemerlap, terutama lampu-lampu dekoratif yang memancarkan sinar berwarna-warni di bangunan-bangunan ikonik Azerbaijan.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











