My WordPress Blog

Siap Beroperasi 2026, Pabrik Fraksionasi Plasma Pertama di Indonesia Hadir dengan Standar Global

Sektor Kesehatan sebagai Prioritas Utama

Sektor kesehatan menjadi salah satu pilar utama dalam pembangunan masa depan Indonesia. Dalam sambutannya pada acara Penyerahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dan Buku Alokasi Transfer ke Daerah (TKD), Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa kesehatan akan menjadi prioritas utama dalam alokasi anggaran tahun 2025, bersama dengan pendidikan.

“Pendidikan dan pelayanan kesehatan inilah jalan keluar sesungguhnya dari kemiskinan,” tegasnya.

Namun, di balik komitmen tersebut, Indonesia masih menghadapi tantangan struktural di sektor kesehatan. Salah satunya adalah ketergantungan penuh terhadap Produk Obat Derivat Plasma (PODP) impor. Hingga saat ini, kebutuhan nasional terhadap PODP seperti albumin dan imunoglobulin intravena (IVIG) masih dipenuhi 100 persen dari luar negeri.

PODP merupakan obat-obatan vital yang digunakan dalam penanganan berbagai kondisi serius, mulai dari sirosis hati, luka bakar, pascaoperasi, gangguan autoimun, hingga terapi pasien dengan defisiensi imun. Ketergantungan terhadap impor berdampak langsung pada tingginya harga obat berbasis plasma, sehingga akses masyarakat terhadap terapi esensial menjadi terbatas.

Ketika pasokan bergantung pada impor, fluktuasi harga global, gangguan logistik, hingga kebijakan proteksionisme negara produsen dapat langsung memengaruhi ketersediaan obat di dalam negeri.

Potensi Besar yang Belum Terealisasi

Ironisnya, Indonesia sebenarnya memiliki potensi suplai plasma darah yang sangat besar. Dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta jiwa, Indonesia memiliki basis donor darah yang luas dibandingkan banyak negara lain. Namun, ketiadaan fasilitas pengolahan plasma membuat potensi tersebut belum termanfaatkan secara optimal.

Setiap tahun, Indonesia tercatat membuang hingga 200.000 liter plasma darah karena ketidaktersediaan infrastruktur fraksionasi plasma yang memenuhi standar internasional. Plasma yang seharusnya dapat diolah menjadi produk obat bernilai tinggi justru tidak termanfaatkan, sementara kebutuhan nasional terus dipenuhi melalui impor.

Mewujudkan Kedaulatan Kesehatan

Sebagai langkah nyata mewujudkan kedaulatan di bidang kesehatan, Indonesia Investment Authority (INA) menjalin kemitraan strategis dengan SK Plasma untuk mendirikan fasilitas fraksionasi plasma berskala besar pertama di Indonesia di Karawang, Jawa Barat.

SK Plasma merupakan perusahaan biofarmasi asal Korea Selatan yang berfokus pada pengembangan dan produksi Produk Obat Derivat Plasma (PODP). Perusahaan ini merupakan bagian dari SK Group, salah satu konglomerasi terbesar di Korea Selatan. SK Plasma memiliki pengalaman panjang di industri pengolahan plasma dengan sejarah bisnis yang dimulai sejak 1970.

Fasilitas fraksionasi plasma modern di Korea Selatan telah beroperasi dengan standar internasional serta mengekspor produknya ke lebih dari 20 negara. Fasilitas yang mulai beroperasi penuh pada 2026 itu diproyeksikan menjadi pabrik pengolahan plasma terbesar di Asia Tenggara.

Proyek Strategis Nasional

Vice President of Investment Indonesia Investment Authority (INA) Andre Jonathan Cahyadi mengatakan, proyek tersebut menjadi bagian penting dari agenda strategis nasional di sektor kesehatan, khususnya dalam membangun kapasitas manufaktur biofarmasi berstandar global di dalam negeri.

Dari perspektif INA, sektor kesehatan merupakan salah satu prioritas utama investasi. Proyek ini tidak hanya menghadirkan investasi asing langsung, tetapi juga memperkuat ketahanan sistem kesehatan nasional.

“Kami ingin berhenti bergantung pada impor. Selama pandemi Covid-19, kami belajar betapa berisikonya (sektor kesehatan Indonesia) saat pasokan global terhenti. Dengan memproduksi secara lokal, kami tidak hanya menjamin pasokan domestik, tetapi juga menempatkan Indonesia di peta global bersama 20 negara lainnya yang memiliki teknologi ini,” ujar Andre.

Progres Pembangunan

Berkesempatan mengunjungi fasilitas fraksionasi plasma PT SK Plasma Core Indonesia di Karawang, Jawa Barat, Kamis (18/12/2025). Dari luar, kawasan pabrik terlihat seperti kompleks manufaktur farmasi modern. Sistem keamanan yang diterapkan pun berlapis. Ini tampak dari pengaturan akses keluar-masuk yang ketat. Setiap pengunjung wajib terverifikasi serta mengenakan alat pelindung diri sebelum memasuki area produksi.

Saat berkeliling area pabrik, terlihat rangkaian bangunan utama yang telah berdiri hampir sepenuhnya, mulai dari area fraksionasi, ruang pemurnian, hingga fasilitas pengisian steril. Beberapa peralatan berteknologi tinggi tampak sudah terpasang dan siap memasuki tahap pengujian. Di sejumlah titik, aktivitas penyempurnaan instalasi masih berlangsung. Ini menandai fase akhir pembangunan fasilitas biofarmasi berskala besar tersebut.

Fasilitas Produksi Berstandar Internasional

Pihak pengelola juga memperlihatkan area pendukung, seperti sistem rantai dingin (cold chain), ruang pengendalian mutu, serta fasilitas penunjang yang dirancang untuk memenuhi standar produksi farmasi global. Seluruh alur produksi dirancang terintegrasi untuk menjaga mutu plasma donor sejak tahap awal hingga menjadi produk obat derivat plasma.

Presiden Direktur PT SK Plasma Core Indonesia Ted Roh memaparkan, kesiapan pembangunan fisik pabrik fraksionasi plasma sudah 98,72 persen. Fasilitas di Karawang dirancang untuk mencakup seluruh rantai produksi PDMP, mulai dari proses fraksionasi plasma, pemurnian, pengisian steril, pengeringan beku, dan pengemasan.

Menuju Produksi Lokal 2026

Setelah seluruh tahapan validasi, kualifikasi, dan inspeksi GMP rampung pada 2026, fasilitas ini ditargetkan mulai memproduksi PDMP secara lokal. Produk awal yang akan dihasilkan mencakup albumin dan IVIG, dua produk plasma yang saat ini paling dibutuhkan dalam layanan kesehatan nasional.

Andre menegaskan, kesiapan fasilitas dan penerapan standar global menjadi fondasi penting sebelum Indonesia benar-benar memasuki fase produksi mandiri. Ia melihat proyek ini sebagai langkah strategis membangun kemampuan industri kesehatan nasional dengan standar internasional.

Dengan rampungnya pembangunan fisik dan dimulainya tahapan validasi, Indonesia bersiap memasuki babak baru dalam pengelolaan plasma darah. Untuk pertama kalinya, plasma donor dalam negeri akan diolah secara komprehensif di fasilitas berstandar global langsung dari Karawang.

Dina Nabila

Penulis yang mengamati perkembangan gaya hidup sehat dan tren olahraga ringan. Ia suka jogging sore, membaca artikel kesehatan mental, dan mencoba menu makanan sehat. Menurutnya, menulis adalah cara menjaga keseimbangan pikirannya. Motto: “Sehat dalam pikiran, kuat dalam tulisan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *