Bisnis, SAPPORO — Jalan-jalan ke Jepang mungkin bagi sebagian orang terasa biasa. Namun, bagaimana dengan tinggal selama sehari dua malam di rumah keluarga Jepang? Saya pikir tidak semua orang cukup beruntung untuk mengalaminya.
Saya berkesempatan mengalami langsung tinggal bersama keluarga asli Jepang pada Jumat (5/12/2025) malam hingga Minggu (7/12/2025) pagi. Ini menjadi salah satu agenda dalam Jenesys Exchange Program 2025 yang saya ikuti pada 2-9 Desember 2025 lalu.
Jenesys atau Japan-East Asia Network of Exchange for Students and Youths merupakan program pertukaran pemuda yang diinisiasi oleh Pemerintah Jepang. Tujuannya yakni untuk mempererat persahabatan, rasa saling pengertian, dan jejaring di antara generasi muda di Asia Pasifik.
Saya mengikuti program tersebut bersama enam orang jurnalis lain dari berbagai media di Indonesia. Di Jepang, kami bergabung dengan jurnalis asal Thailand dan Malaysia selama program ini.
Selama di sana, kami mengunjungi tiga kantor media dan berdiskusi dengan jurnalis senior. Pilihan program ini tentu masuk akal, sebab kami diundang karena profesi kami sebagai jurnalis.
Namun, rupanya kunjungan ke kantor media bukanlah satu-satunya agenda yang ditawarkan oleh Jenesys. Pada hari keempat, kami dibagi ke beberapa keluarga Jepang untuk tinggal bersama mereka dan merasakan langsung kehidupan orang Jepang di rumah mereka.
Di artikel ini, saya akan menceritakan pengalaman saya selama tinggal bersama keluarga Jepang yang menerima saya di rumah mereka. Pengalaman sehari dua malam ini mungkin sederhana dan singkat, tetapi bisa sekilas memberikan potret kehangatan keluarga Jepang di musim dingin bersalju.
Saya akan sedikit menceritakan tentang tempat wisata yang kami kunjungi, yang mungkin bisa kamu pertimbangkan kalau suatu saat berkunjung ke negara ini. Selain itu, saya juga akan menyinggung tentang praktik keagamaan Jepang, terutama karena topik ini merupakan salah satu kontras budaya yang paling kental antara Indonesia dan Jepang. Jika kamu berminat, silakan dibaca sampai akhir.
Oya, perjalanan kami ke Jepang bermula di Tokyo. Namun, pada hari kedua, Rabu (3/12/2025), kami berpindah ke kota lain, yakni Sapporo, ibu kota Prefektur Hokkaido, pulau di utara Jepang. Jepang telah memasuki musim dingin, dan di Sapporo ini salju sudah menebal.
Nah, pengalaman saya di keluarga Jepang terjadi di kota Sapporo ini. Pada Jumat (5/12/2025), setelah sebelumnya kami mengunjungi Fuji Women’s University, kami dikenalkan dengan upacara minum teh Jepang. Upacara minum teh di Jepang adalah tradisi menyajikan teh hijau yang telah berkembang selama berabad-abad dan menjadi bagian dari budaya menyambut tamu di sana. Singkatnya, upacara ini dilakukan sebagai bentuk penyambutan keluarga Jepang terhadap kami yang akan tinggal di rumah mereka.
Upacara minum teh sendiri kerap kali dimaknai sebagai upaya untuk menghadirkan makna di balik hal yang tampak sangat sederhana, yang mungkin kita lakukan tanpa benar-benar sadar. Tiap-tiap tahap dalam pembuatan teh disadari, diresapi, dan disaksikan bersama, memberi kita waktu untuk merasakan momen perjumpaan yang tengah terjadi.
Usai upacara itu, saya diperkenalkan dengan keluarga yang akan menerima saya di rumah mereka. Waktu itu, teman-teman lain dibagi dua sampai tiga orang jurnalis per keluarga, tetapi saya cukup beruntung karena boleh tinggal sendiri bersama keluarga angkat tersebut.
Keluarga Yano. Saya lebih dahulu bertemu dengan sang ibu, Yoko Yano, dan sempat bercakap-cakap tanpa tahu bahwa dia yang akan menerima saya di rumahnya. Belakangan, suaminya, Atsushi Yano turut hadir. Singkatnya, malam itu saya dibawa untuk tinggal bersama mereka.
Bayangan saya tentang rumah keluarga Jepang umumnya yakni seperti rumah Nobita di kartun Doraemon, dengan pintu geser kertas washi di rangka kayu dengan lantai tatami. Namun, rumah-rumah di Hokkaido umumnya bergaya Eropa. Rumah keluarga Yano berupa bangunan kokoh dengan dinding tebal yang jelas dirancang untuk tahan terhadap cuaca ekstrem, terutama musim dingin bersalju seperti saat itu.
Lantai bawah digunakan sebagai garasi, sedangkan ruang keluarga justru berada di lantai dua, sehingga untuk masuk ke rumah kami harus menaiki tangga dari depan. Begitu membuka pintu, tidak serta-merta masuk ke ruang utama. Ada beberapa lapis transisi dengan sekat kaca, ruang khusus untuk meletakkan sepatu dan sandal, sebelum akhirnya mencapai ruang keluarga.
Udara di luar terasa menusuk tulang, tetapi begitu pintu tertutup, kehangatan langsung terasa. Dinding luar rumah didominasi kaca-kaca lebar yang membuat cahaya alami masuk dengan melimpah, meski tetap dilapisi tirai tipis untuk menjaga privasi. Di pintu masuk, saya disambut Pero, anjing peliharaan mereka. Seekor pug berusia dua tahun yang lincah dan ramah pada orang baru. Putra mereka yang berusia 16 tahun belum tampak saat itu, masih mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, sedangkan dua anaknya yang lain sedang kuliah di kota lain.
Jepang terkenal dengan tata ruang yang sederhana dan efektif. Begitu juga kesan saya ketika pertama kali masuk ke rumah ini. Di lantai dua ini, ruang keluarga menyatu dengan ruang makan dan dapur. Di sampingnya, kamar mandi, ruang cuci, dan WC terpisah di satu sisi, sedangkan sisi lainnya area tangga menuju lantai dua. Ada empat kamar tidur di atas dengan lorong kecil. Saya mendapatkan kamar dengan jendela lebar yang menghadap ke halaman rumah.
Bagaimana kesan pertama saya tentang keluarga Jepang ini? Tenang, ramah, hangat, dan baik hati. Saya disambut dengan baik oleh keluarga Yano. Terus terang, saya berusaha mencari tahu di internet seperti apa karakteristik dan budaya rumah tangga Jepang agar tidak salah bersikap. Namun, sebenarnya keramahtamahan khas Asia umumnya tak jauh berbeda.
Malam itu, saya dijamu dengan okonomiyaki, hidangan rumahan Jepang, mirip martabak telur dengan berbagai bahan campuran tambahan, dipanggang bersama di atas pelat besi di meja makan. Dengan menyantap bersama dari panggangan yang sama, ini sebenarnya cara keluarga Jepang untuk mengatakan bahwa tamu diterima sebagai bagian dari keluarga, tanpa perlu banyak kata.
WISATA & AGAMA
Saya beristirahat dengan nyaman di malam pertama itu, dengan salju yang tebal di luar rumah, tetapi lebih hangat di dalam kamar. Pagi harinya, perwakilan dari Jenesys sempat mendatangi rumah keluarga Yano untuk mengetahui kabar kami. Setelahnya, saya pergi berwisata. Yoko sempat mengungkapkan beberapa pilihan untuk kami eksplorasi di hari itu. Pilihan saya jatuh pada Kuil Hokkaido, karena rasa penasaran saya tentang praktik keagamaan di Jepang. Kita tahu, di Indonesia agama merupakan aspek yang sangat kental dalam kehidupan bersama, tetapi di Jepang yang saya dengar tidak demikian.
Hari itu sangat cerah, Sabtu (6/12/2025). Jalanan masih bersalju bekas hujan salju di hari sebelumnya, tetapi hari itu tidak turun salju. Kami berkendara menuju Hokkaido Jinggu, kuil Shinto terbesar dan terpenting di Hokkaido. Kuil ini dibangun pada abad ke-19, bersamaan dengan proses integrasi dan pengembangan Hokkaido ke dalam Jepang modern.
Hokkaido Jingu memuliakan kami (dewa) pelindung pembukaan dan pengelolaan wilayah, serta kemudian juga Kaisar Meiji, tokoh penting dalam modernisasi Jepang. Oleh karena itu, kuil ini tidak hanya religius, tetapi juga simbol sejarah dan identitas regional. Banyak wisatawan memenuhi kuil tersebut hari itu. Saya diajarkan beberapa ritual Shinto oleh Yoko dan Atsushi, seperti mencuci tangan dan berkumur sebagai simbol pembersihan diri, menepuk tangan dua kali, membungkuk, dan menepuk sekali lagi sebagai simbol penghormatan ilahi, dll.
Saya juga membuka Omikuji Fortune atau lotre ilahi, menulis dan menggantung doa, dan membeli beberapa cinderamata di sana. Saya pikir, keluarga Yano adalah pemeluk Shinto, karena mereka mengetahui dan mempraktikkan ritual Shinto di kuil itu. Rupanya tidak demikian. Tidak sesederhana itu.
Nah, di bagian ini saya mau menceritakan sedikit tentang bagaimana penghayatan keagamaan di Jepang. Keluarga Yano mengetahui dan mempraktikkan ritual Shinto di Hokkaido Jingu, tetapi itu tidak otomatis menjadikan mereka “pemeluk Shinto” dalam pengertian yang biasa dipahami di Indonesia. Di Jepang, Shinto bukan pertama-tama agama yang menuntut pengakuan iman, melainkan tradisi hidup. Ritual dijalani sebagai bagian dari kebiasaan sosial, penghormatan pada alam, leluhur, musim, dan keberuntungan, bukan sebagai deklarasi keyakinan eksklusif atau identitas iman.
Karena itu, seseorang bisa menjalankan ritual Shinto, mengikuti upacara Buddhis, memiliki altar kecil di rumah, tetapi tetap mengatakan bahwa dirinya “tidak beragama”. Praktik-praktik tersebut dipahami sebagai warisan budaya dan cara menjaga harmoni, bukan soal percaya atau tidak percaya dalam kerangka teologis. Yoko menjelaskan bahwa dia membawa anak-anaknya ke kuil tersebut ketika berusia satu, tiga, lima dan tujuh tahun. Sementara itu, ketika ada sanak keluarga yang meninggal, biasanya mereka menggunakan upacara agama Buddha.
Di rumah keluarga Yano pun ada kamidana, altar kecil Shinto yang ditempatkan di dinding rumah. Katanya, ini umum ditemui di rumah keluarga-keluarga Jepang. Kamidana berfungsi sebagai ruang simbolik untuk menghormati kami, roh atau kekuatan alam dalam tradisi Shinto. Di dalamnya biasanya diletakkan ofuda, jimat suci yang dibawa dari kuil Shinto, serta persembahan sederhana seperti air, beras, atau garam.
Penjelasan lebih dalam tentang karakteristik agama di Jepang sempat kami peroleh juga dalam kunjungan Jenesys ini, tepatnya saat mengikuti kelas budaya Jepang di Fuji Women’s University oleh Mia Tillonem. Dia dosen wanita muda asal Finlandia di universitas tersebut. Mia menjelaskan bahwa di Jepang, dua agama yang mendominasi yakni Buddha sebesar 47% dan Shinto 48%. Anehnya, jumlah penganut agama yang tercatat mencapai 172 juta, padahal jumlah penduduk Jepang hanya 124 juta (2023).
Ini terjadi karena satu orang yang sama bisa tercatat di dua komunitas agama sekaligus. “Hal yang makin membingungkan adalah ketika orang Jepang ditanyai agama mereka, biasanya mereka mengatakan tidak beragama. Contohnya, survei oleh NHK melaporkan 62% responden mengatakan mereka tidak percaya pada agama apa pun,” kata Mia, Jumat (5/12/2025).
Di Jepang, kata Mia, Shinto bisa dikatakan sebagai agama asli, dengan karakteristik politeistik, tetapi tanpa ada sosok pendiri, nabi, atau kitab suci tertentu. Pusat ritual keagamaan dilakukan di kuil dan bersifat sangat lokal dan terpusat pada masing-masing kuil. Beda kuil, beda dewanya. Maka, ada istilah Yaoyorozu no Kami, atau delapan juta dewa. Artinya, ada tak terhitung banyaknya dewa atau kami di Jepang.
Di sisi lain, agama Buddha datang dari China dan dipraktekkan sejak abad ke-6 masehi. Namun, menurut Mia, agama Buddha lebih bercorak filosofis atau intelektual ketimbangkan penghayatan iman seperti Kristianitas atau Islam.
LANJUT …
Keluarga Yano tampaknya ingin memastikan satu hari kebersamaan kami benar-benar efektif dan berkesan. Sepulang dari kuil tersebut, kami menjemput Junki Yano, anak bungsu mereka dari sekolah usai mengikuti ujian Bahasa Inggris. Perjalanan selanjutnya sudah turut bersama Junki.
Usai makan siang di salah satu restoran ramen, kami melanjutkan wisata ke Okurayama Ski Jump Stadium. Tempat ini merupakan arena lompat ski yang dibangun untuk Olimpiade Musim Dingin Sapporo 1972 dan hingga kini masih digunakan untuk kompetisi internasional.
Kami menuju ke puncak lintasan lompat ski menggunakan chairlift atau kereta gantung. Dari atas Okurayama, kamu akan melihat lintasan curam ski jump, serta bentang luas kota dan alam Sapporo dalam satu panorama. Pengelola kawasan ini pun menyediakan fasilitas restoran dan makanan ringan untuk dinikmati pengunjung. Ada pula museum olimpiade. Ini yang menjadikan tempat ini bukan hanya fasilitas olahraga, tetapi juga destinasi wisata ikonik.
Di tempat ini, saya sempat mengajak keluarga Yono video call bersama keluarga saya untuk saling menyapa secara langsung, sekaligus menunjukkan ke keluarga keindahan musim salju di Sapporo.
Beranjak dari sana, keluarga Yono memutuskan untuk pergi ke luar kota, tepatnya ke Otaru. Lokasinya sekitar 30 km atau setengah jam perjalanan dari Okurayama. Otaru ini adalah kota tuanya Hokkaido, sebelum kota baru dan modern Sapporo dibangun. Otaru terkenal dengan Kanal Otaru, jalur air panjang yang menjadi saksi sejarah ketika kota ini masih menjadi pelabuhan penting dan pusat perdagangan Hokkaido pada awal abad ke-20.
Deretan gudang tua di sepanjang kanal, yang kini dialihfungsikan menjadi kafe, toko suvenir, dan galeri, memberi suasana nostalgis yang berbeda dari Sapporo yang modern dan fungsional. Jalanan Otaru memberi sensasi yang khas. Toko-toko suvenir berjajar rapat, etalasenya memamerkan cinderamata khas Jepang, sedangkan pengunjung dari berbagai negara lalu lalang dengan mantel tebal dan napas yang mengepul tipis di udara dingin bersalju.
Kota tua ini terasa seperti persilangan pedesaan Jepang dan Eropa. Bangunan batu bergaya Barat berdiri berdampingan dengan ritme Jepang yang tertib, menciptakan suasana yang nostalgis sekaligus hidup. Menjelang malam, suasana lebih temaram, membangkitkan perasaan unik yang sulit untuk diungkapkan. Di ujung jalan, berdiri Otaru Steam Clock, jam uap ikonik yang menjadi penanda kawasan itu. Setiap 15 menit, jam ini mengeluarkan semburan uap, disertai melodi lonceng bergaya Westminster chime yang bergema lembut di sekitarnya.
Di belakangnya berdiri Otaru Music Box Museum, toko kotak musik yang ikonik dan menjadi salah satu penanda paling dikenal di kota ini. Di dalam bangunan yang didominasi rangka kayu tua itu dijual ratusan kotak musik dengan berbagai bentuk, ukuran, dan melodi, dari lagu klasik Eropa hingga nada-nada sederhana yang akrab di telinga. Cukup lama kami menikmati suasana Otaru sebelum akhirnya memutuskan pulang dan menutup hari ini dengan banyak kenangan.
PERPISAHAN
Ya, hanya sehari itu sebenarnya saya berada bersama mereka. Tidak cukup lama untuk benar-benar mengenal dan sepenuhnya merasakan hidup bersama keluarga Jepang. Namun, saya mendapatkan kesan yang sangat baik tentang keluarga Jepang dari pengalaman ini.
Saya masih tidur di rumah mereka malam itu, tetapi esok paginya kami kembali ke Sapporo International Student Center bertemu dengan tim Jenesys. Ya, acara perpisahan sebelum kami akan kembali ke Tokyo. Di momen yang relatif singkat itu, saya masih sempat berbagi pengalaman dengan Yoko-san, dan bertanya tentang kehidupan mereka, kabar anak-anaknya di perantauan, dan alasannya mau berpartisipasi dalam program ini.
Rupanya, Yoko pernah tinggal di Bulgaria selama 2 tahun. Pengalamannya diterima dengan baik oleh keluarga asing di Bulgaria mendorongnya untuk melakukan hal yang sama di Jepang, menerima keluarga asing di rumahnya. Yoko adalah seorang guru SD, khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Dia pergi di Bulgaria pada tahun 2000 bersama JICA (Japan International Cooperation Agency) untuk menjadi sukarelawan, pengajar anak berkebutuhan khusus.
“Saya pikir sekarang giliran saya untuk membantu orang-orang dari negara lain di Jepang. Saya juga ingin berbagi budaya negara lain kepada anak-anak saya,” katanya.
Jadi, saya bukanlah orang asing pertama yang diterimanya di rumah mereka. Mereka pernah juga menerima tamu dari Malaysia, Singapura, Amerika, dll. Sebelum Covid-19, mereka cukup sering menerima tamu asing seperti kali ini, tetapi sejak Covid-19 jauh berkurang. Yoko cukup lancar berbahasa Inggris. Hal ini memudahkan komunikasi kami selama saya di rumah mereka. Namun, baginya kendala bahasa dengan tamu-tamu asing di rumahnya selama ini tidak pernah menjadi masalah.
“Saya pikir bahasa tidak begitu penting, yang paling penting adalah hati dan penerimaan kita terhadap tamu yang hadir,” katanya.
Pada awal tahun ini, salah satu kawannya di Bulgaria dulu berkesempatan datang ke Hokkaido. Yoko pun menyambutnya bersama anaknya di rumah mereka selama empat hari.
Sehari-hari, Yoko berangkat mengajar ke sekolahnya pada pukul 07.30 dan tiba dalam 5 menit. Sekolah di Jepang mulai pukul 08.00. Anaknya, Junki, biasanya berangkat dengan sepeda, tetapi di musim dingin menggunakan bus. Yoko dan Junki biasanya kembali di rumah sekitar pukul 16.30 sore.
Sementara itu, Atsushi suaminya bekerja di perusahaan konstruksi dan arsitektur, berangkan sekitar pukul 08.00, tetapi kembali dengan waktu kerja yang tidak selalu menentu. Sama seperti keluarga Indonesia pada umumnya, akhir pekan menjadi momen kebersamaan keluarga. Namun, di musim salju seperti saat ini, keluarga Jepang jarang beraktivitas di luar rumah.
Momen kebersamaan kami berakhir hari itu. Kami sempat bertukar cinderamata untuk kenang-kenangan. Acara perpisahan hari itu pun diwarnai dengan canda tawa. Kami sempat mengajak keluarga-keluarga yang menerima kami untuk bergoyang bersama dengan lagu Indonesia Timur.
Pengalaman singkat ini tentu tidak cukup untuk memahami Jepang secara utuh. Namun, kehangatan yang saya rasakan di rumah keluarga Yano, di musim salju yang dingin, meninggalkan kesan yang menetap. Boleh saya katakan, pengalaman ini menjadi sebuah pengantar untuk mengenal Jepang lebih dalam, negara dengan sejarah yang panjang dengan bangsa kita.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.











