Atlet Muaythai Kota Kotamobagu Mengeluhkan Minimnya Pendampingan Selama Porprov Sulut XII
Atlet Muaythai Kota Kotamobagu, Renaldo Kasibulan, menyampaikan kekecewaannya terhadap kurangnya pendampingan dan jaminan keselamatan selama berlaga di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sulawesi Utara XII tahun 2025. Keluhan ini menyebar luas di media sosial dan mendapat respons yang cukup besar dari masyarakat.
Renaldo mengalami cedera serius saat berada di semifinal pertandingan, sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. Meski sedang dalam kondisi sakit, ia tetap melanjutkan pertandingan hingga babak final dan berhasil meraih medali perak untuk Kota Kotamobagu. Namun, pengalamannya tersebut membuatnya merasa tidak nyaman dan mempertanyakan kesiapan pihak terkait.
Kondisi yang Menyebabkan Kekecewaan
Menurut Renaldo, saat insiden cedera terjadi, para pendamping yang seharusnya hadir di lokasi pertandingan tidak ada. Ia mengaku bingung karena tidak ada tenaga medis atau pendamping dari pemerintah yang dapat membantu. Justru, pengurus KONI Kotamobagu yang pertama kali datang dan membantu serta mengurus kebutuhan Renaldo, termasuk saat ia dilarikan ke rumah sakit.
Keprihatinan Renaldo tidak hanya terbatas pada kejadian tersebut, tetapi juga terhadap kesiapan pihak yang bertanggung jawab atas keselamatan atlet. Ia menyatakan bahwa ia tidak akan melanjutkan ke ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) mendatang akibat pengalaman buruk ini.
“Saya tentu kecewa dengan hal ini,” ujar Renaldo saat ditemui, Selasa (2/12/2025). Meskipun kini sudah mulai pulih dan bisa berjalan, ia berharap pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pendampingan dan penanganan keselamatan atlet.
Tanggapan dari Pihak Terkait
Kepala Bidang Olahraga Kota Kotamobagu, Hendra Mokoagow, menjelaskan bahwa sebelum Porprov digelar, pihaknya telah mengirimkan surat kepada Dinas Kesehatan. Surat tersebut bertujuan untuk meminta bantuan tenaga medis, obat-obatan, serta perlengkapan penunjang kesehatan bagi para atlet. Permintaan tersebut diajukan sebagai langkah pencegahan, namun hingga pertandingan berlangsung, tidak ada bantuan maupun tenaga medis dari pihak tersebut yang hadir mendampingi atlet.
“Kami sudah ajukan surat untuk meminta adanya bantuan tenaga medis dan obat-obatan. Tapi tak ada, bahkan sampai acara pelepasan kontingen tak ada,” tutur Hendra.
Diketahui bahwa setiap cabang olahraga yang berangkat ke Porprov sudah memiliki pendamping dari SKPD yang ditunjuk langsung oleh Wali Kota, Weny Gaib. Untuk cabang olahraga Muaythai, pendamping tersebut berasal dari Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM serta Bidang Ekonomi Pembangunan Kotamobagu. Hal yang sama juga diutarakan Renaldo, bahwa pendamping tersebut tidak berada di arena saat insiden terjadi.
Langkah yang Akan Diambil
Di sisi lain, Wakil Ketua KONI Kotamobagu, Anugerah Begie Chandra Gobel, menyatakan bahwa KONI akan segera berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Kotamobagu untuk membahas serta mengevaluasi permasalahan ini. Termasuk hal-hal yang berkaitan dengan penanggung jawab keselamatan atlet, tidak hanya dalam tahap persiapan tetapi juga setelah ajang berlangsung.
“Secapatnya kami akan berkoordinasi dengan pemerintah. Evaluasi ini penting untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang pada iven-iven berikutnya,” ucapnya.
Renaldo kemudian berharap peristiwa ini dapat ditindaklanjuti oleh Wali Kota dan Wakil Wali Kota Kotamobagu dengan mengevaluasi kembali kinerja para pendamping yang ditunjuk untuk mendampingi atlet selama Porprov kemarin.
Hasil Kontingen Kotamobagu dalam Porprov Sulut XII
Sebagai informasi tambahan, dalam ajang Porprov Sulut XII, kontingen Kotamobagu berhasil meraih total 98 medali. Terdiri dari 24 emas, 37 perak, dan 37 perunggu, sekaligus menempatkan Kotamobagu pada posisi keenam klasemen perolehan medali.











