BOGOR,
Hujan deras baru saja turun ketika angkot hijau bernomor 08 menepi di Jalan Raya Bogor-Jakarta, Cibinong, Senin (1/12/2025) sore. Dari balik kaca depan yang mulai berembun, terlihat seorang perempuan mengulurkan tangannya ke luar jendela sambil meneriakkan arah trayek. “CCM, Citeureup. Muat, muat. Langsung jalan, gak ngetem lagi,” serunya sambil menengok kanan-kiri penumpang dengan aman. Perempuan itu bernama Yuke Elizabeth, 36 tahun, sopir angkot yang mengandalkan trayek Citeureup-Pasar Anyar untuk menghidupi dua anaknya di rumah.
Kedua tangannya cekatan mengoperasikan setir, lampu sein, pedal, dan tuas persneling. Gerakannya tegas, menunjukkan bahwa seorang ibu pun bisa menguasai jalanan Bogor seperti pengemudi laki-laki lainnya. Di luar, hujan turun semakin deras. Genangan air melingkari ban angkot, tetapi Yuke tetap menjaga ritme mesin, menembus gelombang air yang sesekali memercik ke tubuhnya. Dari panas terik, hujan deras, hingga kemacetan berlapis, semuanya ia libas setiap hari. Namun, ada satu hal yang tidak pernah keluar dari kepalanya, yaitu anak-anaknya menunggu di rumah.
Angkot hijau itu bergerak pelan menuju arah Citeureup. Yuke sesekali menengok ke kaca spion, memastikan penumpang duduk aman dan tidak terciprat air hujan, sebelum akhirnya kembali fokus pada lalu lintas yang kian padat menjelang jam pulang kerja. Dengan satu tangan memegang setir dan tangan lainnya siap mengoper perseneling, Yuke tampak terbiasa menghadapi kondisi apa pun, baik jalan licin, jarak pandang pendek, hingga antrean kendaraan yang tidak kunjung surut. Sorot matanya tajam mengamati celah jalan, sedangkan mulutnya tetap sigap menawarkan ruang kosong untuk penumpang baru. “Kosong, kosong. Silakan naik, langsung jalan, nggak ngetem lagi,” katanya sambil sedikit memiringkan badan ke luar jendela, sesuatu yang ia lakukan berulang kali setiap hari agar angkotnya tidak pulang dengan setoran kurang.
Keadaan ini sudah biasa baginya, di tengah jalanan yang penuh klakson, asap, dan air hujan. Peran ganda Dia bekerja bukan hanya untuk mengejar penumpang, tetapi juga mengejar harapan agar kedua anaknya bisa makan layak. Di tengah dominasi sopir laki-laki di trayek angkutan umum Kabupaten Bogor, kehadiran Yuke menawarkan potret lain tentang perempuan yang menjalankan peran ganda. Ia bekerja hampir sepanjang hari tak pernah libur, menembus kemacetan, panas, dan hujan, sambil tetap memikirkan anak-anaknya di rumah.
Di sela-sela perjalanan, Yuke bercerita bahwa ia sudah hafal dengan setiap tikungan rute Citeureup-Pasar Anyar dan sebaliknya. Namun, tak ada yang lebih ia hafal selain rasa cemas terhadap anaknya yang ditinggal di rumah selama ia mencari nafkah. “Kalau lagi hujan begini, saya kepikiran terus mereka sudah makan atau belum,” ucapnya pelan, sambil kembali memutar setir menembus antrean mobil dan motor.
Sore itu, mengikuti Yuke dari Kota Bogor hingga memasuki wilayah Citeureup. Sesekali ia berhenti menurunkan penumpang, lalu kembali memanggil yang lain. Semua dilakukan dalam ritme cepat, tanpa jeda, tanpa keluhan. Angkot kembali melaju, dan Yuke menerobos genangan air yang mengisi ruas jalanan. Tubuhnya sedikit tersentak oleh hentakan ban, tetapi ia terus mengemudi. Kondisi ini sudah menjadi bagian dari ritme hidupnya. “Dari mulai panas, hujan, macet, sudah biasa lah itu. Apalagi Bogor kan cuaca nggak menentu, ya tetap harus jalan karena ini pekerjaan saya buat menafkahi anak,” ucapnya.
Yuke tumbuh sebagai anak tunggal yang sejak kecil sudah dibiasakan mandiri. Ibunya baru meninggal tiga minggu lalu, sedangkan ayahnya masih tinggal di rumah sebelah dan sibuk. Sejak SMP, ayahnya pula yang mengajarkan ia menyetir mobil. Mantan sekretaris Kemampuan itu membantunya memasuki dunia kerja lebih awal, bahkan sebelum lulus D3 dari Universitas Indonesia pada 2010. Selama itu, Yuke sempat bekerja sebagai sekretaris dan asisten pribadi di sejumlah perusahaan. Kariernya berkutat pada pekerjaan administratif yang menuntut mobilitas tinggi. Ia terbiasa mendampingi pimpinan bepergian, termasuk mengemudi sendiri bila diperlukan.
Namun, pandemi Covid-19 mengubah jalan hidupnya. Perusahaan tempatnya bekerja menerapkan sistem kerja dari rumah. Gaji tidak menentu. Sinyal internet bermasalah. Saat itu, keadaan ekonomi sulit dan suaminya meninggal dunia. Situasi itu membuatnya memilih mundur. Saat masa berduka setelah suaminya wafat, ayahnya mendorongnya kembali bekerja agar perekonomian tetap jalan. Ayahnya yang terus membantunya sambil meminta agar bekerja menjadi sopir angkot dulu. Yuke mengaku bahwa itu sebagai batu loncatan dan sekaligus mengalihkan pikiran dari kehilangan sang suami. Niat awalnya hanya tiga bulan. Yuke justru bertahan sampai hari ini atau sudah 5 tahun bekerja sebagai sopir angkot.
Selama lima tahun terakhir, ia membawa Angkot Trayek 08 Citeureup-Pasar Anyar milik seorang pengusaha bernama Bu Ila. Setoran harian sebesar Rp 280.000 harus ia penuhi. Bila tak cukup, ia menomboki sendiri. “Yang paling menakutkan itu bukan jalanan, tapi kalau enggak ada duit buat setoran, sepi penumpang,” ujarnya. Dalam sehari, Yuke bisa membawa pulang pendapatan bersih sekitar Rp 100.000 hingga Rp 200.000. Sebulan, ia memperkirakan bisa membawa pulang sekitar Rp 5 juta. Namun, pendapatan itu akan langsung terbagi untuk biaya makan, kebutuhan harian, sekolah anak, serta ongkos pengasuh. Anak pertamanya duduk di bangku SD, sedangkan anaknya yang lain masih balita.
Tak pernah libur Untuk memenuhi kebutuhan, Yuke hampir tidak pernah libur. Ia memulai waktu kerja dari jam 6, kadang siang bila tubuh terlalu lelah. Ia pulang menjelang tengah malam karena menunggu jam bubaran pekerja mal CCM yang menjadi salah satu sumber penumpang tambahan. “Kalau enggak narik, anak enggak makan,” kata dia. Ia hafal sebagian besar langganan, terutama pekerja garmen yang selalu pulang di jam yang sama. Persaingan antar-sopir memang ada, tetapi menurut Yuke sudah seperti dinamika harian di jalan. “Ada serunya juga jadi sopir angkot, setiap hari tuh ketemu orang berbeda dan suasana atau pemandangan berbeda,” ujarnya.
Meski perempuan, Yuke mengaku hampir tak pernah mengalami gangguan serius atau membahayakan dirinya. Ia dikenal tegas dan tak segan membentak penumpang yang mencoba merugikan dirinya atau orang lain. Copet dan penumpang pura-pura gila karena tak membayar sesuai tarif pun pernah ia hadapi. Ada pula penumpang korban kriminal yang ia bantu antarkan. Tips atau tambahan uang dari penumpang yang baik juga kerap ia terima. “Ya ada aja penumpang yang gak mau bayar sesuai tarif, kan jarak jauh 14 ribu, jarak dekat 5 ribu. Tapi banyak juga yang baik, ngasih tip, mungkin sebagian karena melihat saya satu-satunya perempuan yang jadi sopir angkot, bekerja sendirian menghidupi dua anak,” ucapnya.
Kondisi angkot yang sering turun mesin membuatnya mampu melakukan perbaikan kecil sendiri. Namun, bila kerusakan besar, setoran pun terancam tidak terpenuhi. Bensin dan gas menjadi pengeluaran harian yang tak bisa dihindari. Sekali pengisian bisa mencapai Rp 90.000, tergantung kondisi jalan dan kemacetan. Di balik ketegasan Yuke sebagai sopir angkot, ia menyimpan kekhawatiran sebagai ibu. Jarang bersama anak Sejak ibunya wafat, ia semakin jarang memiliki waktu bersama anak-anak. Rasa bersalah muncul setiap kali pulang larut malam. “Kadang saya merasa gagal sebagai ibu karena jarang ketemu mereka,” tuturnya. Kedua anaknya kini diasuh bergantian oleh ayahnya dan seorang pengasuh yang ia bayar dua hari sekali.
Pernah, anak sulungnya ikut naik angkot saat ia tak bisa pulang dan rindu ingin bertemu. “Dia enggak malu. Dia ngerti ibunya kerja sopir angkot,” kata Yuke mengenang. Kepada anak-anaknya, Yuke menanamkan nilai disiplin, pantang menyerah, dan pentingnya pendidikan. Ia sadar kehidupannya bergantung pada pekerjaan informal tanpa masa depan yang pasti. Ia tidak ingin anak-anak mengulang perjuangannya. “Jujur, rajin belajar, jangan minta-minta,” begitu pesan yang terus ia ulangi dan tanamkan untuk kedua anaknya.
Meski menikmati mengemudi dan merasa cocok bekerja di jalan, Yuke berharap suatu saat bisa kembali ke pekerjaan kantoran atau memiliki usaha sendiri. Bahkan, membeli angkot sendiri, bila kelak mampu. Di momen Hari Ibu, ia menitipkan satu pesan kepada pemerintah, yakni buka lapangan kerja seluas-luasnya bagi perempuan pekerja informal seperti dirinya. “Hidup di jalan itu berat. Saya juga enggak mau selamanya begini. Buat ibu-ibu di luar sana, terus semangat cari uang, jangan malu apa pun itu pekerjaannya, karena kita (perempuan) yang semangat aja masih kadang susah, gak boleh pesimis, gak boleh berkecil hati,” ujarnya. Yuke menutup hari hingga tengah malam. Di balik deru mesin angkot 08 yang ia kemudikan setiap hari, ada cerita tentang ketangguhan seorang ibu yang menembus cuaca dan jalanan padat demi masa depan anak-anaknya. Baginya, kemudi angkot bukan sekadar alat mencari nafkah, tetapi cara untuk memastikan hidup terus bergerak.











