My WordPress Blog
Budaya  

Kisah Kecil untuk Masa Depan Gemilang

Masa Kecil yang Penuh Kekurangan

Kami berlima sudah siap dengan piring seng masing-masing. Berbaris dengan tertib untuk menunggu ibu membagikan makanan di pring kami. Aku si bungsu perempuan dan keempat kakakku laki-laki semuanya mendapat bagian yang sama. Satu kepal nasi dan potongan kecil telur rebus. Ya, satu telur rebus dibagi tujuh untuk kami makan bersama. Tak lupa nasinya dikasih garam dan jelantah yaitu minyak goreng sisa untuk menggoreng ikan asin. Kadang ada sambel goang atau sambel bawang yang menemani.

Kami makan bersama di pagi hari sebelum kami berangkat ke sekolah kami masing-masing dengan berjalan kaki. Kata ibu, sarapan itu penting. Ya, setidaknya perut kami tidak kelaparan saat menerima pelajaran di sekolah sehingga dapat belajar dengan baik. Maka ibu selalu mengupayakan untuk menyediakan sarapan di pagi hari dengan uang belanja seadanya dari Bapak yang bekerja sebagai buruh harian di pabrik yang penghasilannya tak seberapa untuk menghidupi kami bertujuh.

Kehidupan di Gubuk Tengah Sawah

Waktu itu kami tinggal di rumah reot tengah sawah. Gubuk berbilik bambu tepatnya karena tak layak disebut rumah. Namun kami bersyukur bisa tinggal didalamnya sehingga tak kepanasan dan kehujanan. Bos Bapak di pabrik berbaik hati mempersilakan tanah kosongnya untuk kami tinggali saat kontrakan rumah kami sebelumnya telah jatuh tempo dan Bapak belum punya uang untuk memperpanjang kontrakan. Maka Bapak membuat rumah ala kadarnya dengan bilik bambu dan kayu yang ada.

Di gubug tengah sawah itulah, kami menanam tanaman pangan seperti singkong, ubi, kacang panjang, tomat, cabe, papaya, pisang, dan membuat kolam ikan. Untuk makan sehari-hari, ibu terbiasa memasak sayur daun singkong atau kacang panjang dengan kuah yang banyak menggunakan tungku kayu bakar. Lauk seadanya, kadang hanya tahu, tempe atau telur yang jumlahnya sangat terbatas. Kami bisa makan ikan saat panen dari kolam yang kami kelola sendiri.

Kehidupan yang Sederhana

Saat beras habis, dan Bapak tidak punya uang untuk membeli beras, kami hanya makan singkong atau ubi dengan sayur. Tak apa, kami sudah terbiasa dengan segala kondisi yang ada. Faktor ekonomi membuat kami nrimo hidup dengan apa adanya. Bisa makan sehari tiga kali saja kami sudah bersyukur. Walau tak jarang kami harus hidup prihatin dan berpuasa karena keadaan yang memaksa kami seperti itu.

Kenangan yang Tak Terlupakan

Sekarang, saat aku sudah dewasa dan menjadi orangtua, kenangan masa kecil itu begitu membekas dalam ingatanku. Kadang aku pun merindukan masa-masa itu. Masa dimana keluarga kami harus berjuang untuk sekedar bisa bertahan hidup. Kenangan masa kecil yang serba kekurangan dari segi ekonomi membuat aku lebih kuat dalam menghadapi berbagai cobaan hidup di masa kini. Aku bersyukur, hidupku sekarang tidak serba kekurangan. Lebih dari cukup.

Pentingnya Gizi Seimbang

Maka, aku pun selalu berusaha memberikan nutrisi yang terbaik untuk anak-anakku. Seperti ibu, aku selalu menekankan betapa pentingnya sarapan setiap hari sebelum sekolah dan beraktivitas. Maka aku selalu menyiapkan sarapan pagi setiap hari untuk keluargaku. Dengan telur ayam utuh untuk satu orang. Tidak lagi dibagi-bagi menjadi potongan kecil seperti saat aku masih kecil dulu. Gizi seimbang harus aku penuhi setiap hari.

Jika dulu kita mengenal adanya istilah 4 sehat 5 sempurna, sekarang kita harus mengenal gizi seimbang yang diemplementasikan dengan isi piringku. Apa saja isi piringku? Isinya adalah setengah piring dengan sayur dan buah, dan setengah pring dengan makanan pokok dan lauk pauk. Komposisi untuk sayuran adalah 2/3 bagian dari setengah piring, dan buahnya ada 1/3 bagian dari setengah piring. Demikian pula halnya untuk makanan pokok porsinya adalah 2/3 bagian dan lauk-pauk porsinya 1/3 bagian dari setengah piring.

Masa Depan yang Menentukan

Pemenuhan gizi seimbang untuk nutrisi keluargaku ini menjadi bahan baku penentu di masa depannya. Pemilihan menu gizi seimbang tidak harus yang mahal, yang penting kebutuhan nutrisi seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan nutrisi penting lainnya dapat tercukupi. Satu piring kecil untuk masa depan yang besar tidak hanya sekedar makan lalu kenyang saja. Tapi apa yang kita makan menentukan bagaimana kualitas hidup di masa depan.

Karena pemenuhan gizi seimbang yang baik dapat membantu konsentrasi dalam belajar, menjada daya tahan tubuh atau imun, dan dapat membentuk pola kebiasaan hidup sehat sampai dewasa. Segala kebiasaan baik perlu ditanamkan sejak dini. Pola makan sehat ini sangat penting agar anak ceria, fokus dalam belajar dan jarang sakit. Aku menyadari bahwa perubahan kecil di dapur dapat membuka pintu masa depan bagi seorang anak.

Masa Depan Gemilang dari Hal-Hal Kecil

Sepirig kecil makanan sehat dengan gizi seimbang yang disajikan setiap hari bisa membangun masa depan yang besar. Aroma nasi yang hangat, senyuman seorang ibu saat menyajikan makanan untuk anaknya, menjadi memori indah yang akan selalu lekat dalam ingatan. Masa depan gemilang bisa tumbuh perlahan, dari hal-hal kecil yang kita siapkan secara tulus untuk anak-anak tercinta. Jangan biarkan makanan dengan pengawet, pewarna dan micin merenggut masa depan anak-anak kita.

Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *