My WordPress Blog

Tolitoli di Persimpangan: Rencana Besar Terancam Dipangkas, Masyarakat Minta Prioritas Rakyat

Rancangan Ambisius Pemda Tolitoli Menghadapi Ketidakpastian Anggaran

Sebuah rancangan besar dari pemerintah Kabupaten Tolitoli untuk tahun anggaran 2026 kini menghadapi ketidakpastian yang cukup besar. Berhembus kabar bahwa pemda akan mengalami pemotongan anggaran hampir Rp 200 miliar, yang memicu kontroversi dan kekhawatiran di kalangan pengamat maupun masyarakat lokal.

Rencana Besar, Anggaran Menipis

Sejak awal, visi pembangunan Tolitoli untuk 2026 digambarkan sebagai proyek besar yang mencakup percepatan infrastruktur — jalan, jembatan, digitalisasi — serta intervensi sosial secara agresif. Ini sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2025–2045, di mana Pemda Tolitoli menetapkan prioritas strategis untuk memperkuat konektivitas desa, mengentaskan kemiskinan, dan membangun kapasitas ekonomi lokal.

Namun, kabar pemangkasan anggaran yang santer belum dapat dikonfirmasi secara resmi. Seorang anggota DPRD dari fraksi pengusung pemerintah, yang meminta identitasnya disamarkan, menyatakan: “Ada sinyal kuat pemotongan anggaran, nyaris Rp 200 miliar. Tapi saya tak bisa berbicara banyak karena pembahasan masih berjalan.” Jika benar, pengurangan sebesar itu bisa mengguncang prioritas pembangunan yang sudah disiapkan.

Kritik Dari Pengamat: Fokus pada Rakyat, Bukan Selingkuhan Anggaran

Pengamat lokal menggarisbawahi bahwa di tengah pemangkasan anggaran, pemerintah daerah justru harus melakukan rekonsiliasi besar-besaran. “Kalau anggaran turun drastis, mestinya Pemda merevisi program agar lebih pro-rakyat,” kata seorang analis keuangan publik di Sulawesi Tengah. “Beban biaya tidak mendesak seperti perjalanan dinas pejabat — yang selama ini telah menyedot belanja puluhan miliar — seyogyanya ditekan sekeras mungkin. Rakyat lebih butuh jalan yang bisa dilewati, sekolah layak, layanan kesehatan dasar.”

Mereka menyoroti bahwa alokasi anggaran untuk belanja operasional birokrasi sering kali menjadi penghambat optimalisasi dana pembangunan. Di tengah krisis fiskal, efisiensi adalah kata kunci — bukan pemotongan program strategis, tetapi pemilahan mana yang benar-benar melayani rakyat.

Tekanan dari Atas: Pengawasan Provinsi dan Kebutuhan Data Akurat

Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, telah memberi peringatan keras bahwa data kemiskinan dan kebutuhan masyarakat harus diperbaiki agar program bantuan tidak salah sasaran. Dalam rapat kerja daerah beberapa waktu lalu, ia meminta Pemda Tolitoli merumuskan usulan anggaran dengan lebih terperinci, agar usulan bisa menjadi dasar intervensi yang tepat dan efektif.

Salah satu program provinsi yang menjadi sorotan adalah Berani Cerdas, yang menyalurkan beasiswa kepada mahasiswa asal Tolitoli. Hingga awal Oktober 2025, sekitar 1.000 mahasiswa Tolitoli telah menerima manfaat dari program ini.

Reputasi Keuangan yang Layak, Tapi Tantangan Keberlanjutan

Menariknya, meski menghadapi tekanan anggaran, Pemkab Tolitoli baru-baru ini mencatat prestasi: mereka meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk laporan keuangan tahun anggaran 2024 — ini kali keenam berturut-turut.

Namun, WTP tak selalu mencerminkan kemampuan untuk menjaga prioritas publik ketika anggaran menurun tajam. Menurut pengamat, tantangan sebenarnya adalah mempertahankan integritas pengelolaan keuangan sambil tetap membuat kebijakan yang menyentuh kehidupan sehari-hari warga miskin di Tolitoli.

Jalan ke Depan: Antara Efisiensi dan Komitmen Sosial

Jika pemangkasan anggaran sekitar Rp 200 miliar benar-benar terjadi, DPRD dan Pemda menghadapi dilema: apakah memangkas program ambisius atau merestrukturisasi anggaran agar mendahulukan program dasar bagi rakyat?

Anggota DPRD yang anonim itu menyebut bahwa negosiasi masih terus berlangsung. “Kami belum memutuskan final, tetapi memang ada desakan untuk efisiensi,” ujarnya.

Sementara itu, pengamat menyarankan agar revisi anggaran tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga politis: “Ini saatnya pemimpin daerah menunjukkan komitmen nyata: menempatkan rakyat sebagai prioritas, bukan menjalankan proyek besar untuk pencitraan atau popularitas.”


Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *