Sumedang: Kabupaten Paling Progresif di Ekosistem Rebana
Sumedang menjadi salah satu kabupaten yang paling cepat bergerak dan progresif dalam ekosistem Rebana di Jawa Barat. Kawasan ini menjadi koridor ekonomi baru yang strategis bagi provinsi tersebut, mencakup tujuh kabupaten/kota seperti Kota dan Kabupaten Cirebon, Subang, Indramayu, Majalengka, Kuningan, dan Sumedang.
Deputy CEO BP Rebana, Budhiana Kartawijaya, menyampaikan bahwa Sumedang tidak hanya siap menerima investasi, tetapi juga telah menyiapkan fondasi digital infrastruktur yang kuat. Hal ini disampaikannya setelah menjadi moderator sesi “CEO Talk dalam West Java Investment Summit (WJIS)” pada 14 November 2025 lalu.
WJIS adalah forum ekonomi tahunan ke-7 yang digelar oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Barat. Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menjadi salah satu pembicara dalam sesi “CEO Talks for West Java New Economic Corridor ‘How West Java Wins: Leveraging Trade, Technology, and Talent for Global Success'”.
Bupati Dony menyampaikan komitmen Sumedang terhadap investor, termasuk kemudahan berinvestasi dan pemberian insentif. Menurut Budhiana, Sumedang memiliki enam gerbang keluar di sepanjang Tol Cisumdawu, akses yang tidak dimiliki daerah lain. Hal ini membuat Sumedang hanya beberapa menit dari Bandung di barat dan Bandara Kertajati di timur.
Ekosistem Pendidikan yang Subur
Selain itu, Sumedang memiliki ekosistem pendidikan yang subur. Kecamatan Jatinangor menjadi pusat ilmu pengetahuan, dengan banyak perguruan tinggi top berada di sana. Beberapa perguruan tinggi saat ini menjalin kerja sama dengan Pemkab Sumedang untuk membuka kampus. “Perguruan tinggi ini melahirkan talenta muda untuk industri manufaktur, digital, dan jasa,” kata Budhiana.
Infrastruktur Air yang Kuat
Di sektor infrastruktur air, Sumedang diperkuat oleh hadirnya beberapa bendungan, seperti Bendungan Jatigede, Cipanas di Ujungjaya, dan Sadawarna di Surian. “Bendungan Jatigede adalah salah satu bendungan terbesar di Indonesia, yang menjadi tulang punggung air baku, pariwisata, dan energi,” ujarnya.
Potensi Wisata yang Luar Biasa
Sumedang memiliki modal besar di sektor pariwisata. Panorama Bendungan Jatigede yang mempesona, kawasan perbukitan yang indah, kuliner lokal seperti tahu sumedang yang terkenal, serta tradisi budaya yang kuat memberi peluang lahirnya destinasi unggulan baru. “Dengan akses Cisumdawu yang sangat cepat, Sumedang bisa menjadi destinasi one-day trip bagi Bandung dan Cirebon, sekaligus weekend getaway bagi wisatawan Jabodetabek,” tuturnya.
Dengan konsep green tourism dan smart tourism, Sumedang bisa menjadi wajah baru pariwisata Jawa Barat bagian timur. Budhiana menegaskan bahwa keunikan budaya harus dipelihara agar menjadi ciri unik nan menarik. “Infrastructure and Culture are two sides of coin. Tak boleh pembangunan infrastruktur membunuh kultur, membunuh ciri-ciri budaya lokal,” ujarnya.
Digitalisasi Birokrasi yang Radikal
Keunggulan Sumedang tidak berhenti pada ekonomi dan pariwisata saja. Daerah ini juga menjadi pelopor digitalisasi birokrasi di tingkat nasional. Semua proses administrasi, mulai dari pembuatan KTP, KK, hingga layanan kesehatan, dilakukan secara cepat, transparan, dan mudah diakses.
“Dengan populasi sekitar 1,1 juta jiwa, bupati dapat memantau pola penyakit, tren kesehatan, sampai kebutuhan layanan publik berdasarkan data real-time,” ujar Budhiana. Kondisi ini membedakan Sumedang dengan daerah lain, karena keberanian melakukan digitalisasi pemerintahan secara radikal.
Platform Investasi yang Modern
Pemerintah kabupaten membangun platform invest.sumedangkab.go.id, sebuah portal modern yang memudahkan investor mengakses peluang, potensi lahan, regulasi, dan layanan. “Semua melalui satu journey yang intuitif. Platform ini menegaskan bahwa Sumedang tidak hanya membuka pintu bagi investor, tetapi menyediakan lorong yang terang, jelas, dan tanpa hambatan,” katanya.
Dashboard Transparansi Fiskal
Yang lebih menarik lagi, Sumedang membangun dashboard transparansi fiskal, yang memungkinkan masyarakat mengetahui berapa uang masuk ke Sumedang dan digunakan untuk apa? bahkan pada level harian. Dengan prinsip good data, good decision; bad data, bad decision, Sumedang menjadikan data sebagai milik publik. “Prinsipnya jelas, move the data to the people, not move the people to the data. Ini adalah bentuk pemerintahan modern yang jarang ditemukan di daerah lain,” katanya.
Masa Depan Jawa Barat
Dengan seluruh capaian tersebut, Sumedang menjadi kabupaten yang paling siap menghadapi era global shift hari ini. Sumedang menjadi contoh bagaimana pemerintah daerah bisa menyambut ekonomi global tanpa kehilangan akuntabilitas, transparansi, dan kedekatan dengan rakyat.
Di lingkup lebih besar, Rebana Metropolitan akan terus bekerja untuk menyiapkan enam kabupaten/kota lain agar mampu memasuki dunia connectography dengan percaya diri, digital, terhubung, kompetitif, dan inklusif.











