Permasalahan Homebase Unit Kerja di BRIN
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria akan segera menyelesaikan berbagai permasalahan yang dialami para peneliti, salah satunya berkaitan dengan kebijakan homebase unit kerja. Kebijakan ini telah menjadi keluhan para peneliti BRIN sejak awal tahun ini.
Arif menyatakan bahwa ia akan mempelajari keluhan terkait homebase unit kerja tersebut. Menurutnya, semua aspirasi harus didengar dan dicarikan solusinya. “Saya akan mengumpulkan para Eselon I untuk mendengarkan update terhadap achievement yang sudah dicapai, kendala tantangannya seperti apa,” ujar Arif setelah serah terima jabatan menjadi Kepala BRIN, pada Selasa, 11 November 2025.
Setelah mengumpulkan para Eselon I BRIN, Arif akan meramu kebijakan-kebijakan yang bermasalah untuk dicarikan alternatif penggantinya. “Bagaimana jalan keluar yang harus kami lakukan untuk mengatasi masalah dan tantangan tersebut,” tambah Arif.
Dalam dua bulan ke depan, Arif juga akan menampung masukan dan evaluasi dari para pegawai dan periset di BRIN menjadi suatu kerangka kerja. Dokumen dan rencana strategis, kata dia, akan digodok dalam dua bulan ini untuk menggenjot kemajuan riset di Tanah Air.
Rektor IPB University ini menilai isu pangan dan energi sebagai kajian strategis yang sangat membutuhkan orkestrasi dan kolaborasi dari berbagai lembaga dan kementerian. Arif mengaku sudah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, hingga perguruan tinggi, untuk pengembangan riset di dua sektor tersebut.
Masalah yang Dihadapi Peneliti
Keberadaan kebijakan homebase unit kerja menjadi momok bagi para peneliti di BRIN karena mengharuskan seluruh periset yang tersebar di berbagai daerah untuk pindah ke unit penelitian masing-masing, sesuai penempatan dan kepakarannya.
Seorang peneliti BRIN di Kawasan Sains dan Edukasi Ahmad Baiquni di Yogyakarta menyebut fasilitas di kantor pusat belum memadai untuk menampung semua peneliti. Dia mencontohkan Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Soekarno di Cibinong, Kabupaten Bogor. Kawasan itu ditujukan menjadi homebase Pusat Riset yang ada di bawah Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan, Organisasi Riset Kesehatan, serta Organisasi Riset Pertanian dan Pangan.
Khusus untuk peneliti hayati di Yogyakarta, ia mengungkap persoalan bahan penelitian. Banyak bahan kimia berbahaya yang saat ini disimpan di laboratorium mitra, seperti di Universitas Gadjah Mada (UGM). Menurutnya, para peneliti khawatir kantor pusat tidak memiliki fasilitas yang aman untuk menyimpan bahan-bahan tersebut.
“Di Cibinong, teman-teman sering kesulitan mendapatkan tempat duduk,” katanya pada Rabu, 20 November 2024, “Pagi-pagi mereka harus datang lebih awal untuk berebut tempat duduk. Kalau tidak dapat, mereka terpaksa ke kafe untuk bekerja. Setiap hari.”
Alasan Diterapkannya Kebijakan Homebase
Sebelumnya, Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian beralasan homebase unit kerja bertujuan meningkatkan kapasitas para peneliti dengan dukungan fasilitas yang sama dan lebih terpusat. Dengan anggaran yang terbatas, menurutnya, konsentrasi fasilitas di pusat-pusat unggulan dinilai sebagai langkah strategis.
“Karena anggaran BRIN terbatas, anggaran negara, anggaran pemerintah juga terbatas, maka dipusatkan di pusat keunggulan masing-masing. Nah para periset silakan datang ke sana, dikumpulkan ke sana untuk mengembangkan ilmunya,” ujar Amrulla pada akhir November tahun lalu.
Defara Dhanya berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”











