My WordPress Blog

Jika Ibu Tidak Menikahi Ayah, Apakah Ia Akan Bahagia?



Pagi itu rumah cukup sibuk. Ada yang bersiap akan sekolah, kuliah dan bersiap antar anaknya sekolah. Seorang ibu sedang repot menyiapkan sarapan dan hal lain menyangkut rumah tangga. Sedangkan seorang bapak dengan rambut gondrong asik mengisap dan mengembus rokok di meja makan.

“Bu kunci motor mana bu…”

“Bu buatkan kopi…”

“Bu…”

Semua memanggil ibu, seperti sebuah absen wajib pagi hari. Keluarga ini sederhana. Tinggal di dalam rumah yang cukup luas namun ornamen nyantampak lama. Tidak ada kesan minimalis. Genteng tampak mulai rapuh. Atap rumah tampak kehitaman. Bareng seperti menumpuk dimana-mana. Anggota keluarga ini terdiri dari ibu Wulan, Bapak Tio. Anak pertama bernama Anis (single parent), anak kedua bernama Alin (mahasiswa kedokteran) anak bungsu Asya (SMA) dan anak Anis bernama Nando.

Dalam film ini sosok Ibu bagaikan tiang pengokoh keluarga. Ibu yang bekerja keras membuka jasa laundry. Keliling ambil baju kotor dari rumah kerumah. Sedangkan ayahnya saat ini dikenal sebagai orang yang suka keluyuran judi online dan mabuk dengan teman setongkrongan.

Anis sedang berjuang cari kerja sambil mengasuh anak. Alin sedang bergelut dengan skripsi kedokteran namun sedang gusar karena ada peninjauan beasiswa akibat efisiensi, sedangkan Asya SMA di semester akhir menuju lulus. Sosok Bapak yang seharusnya memimpin keluarga tampak tak ada. Bahkan lebih kepada beban keluarga. Perempuan mandiri itu bernama Ibu Wulan. Hingga suatu malam hujan deras datang. Atap di rumah bocor, tiba-tiba ambruk jatuh. Menyebabkan atap rumah bolong da kemasukan air hujan yang deras. Bapak sedang tak ada di rumah. Jadilah ibu yang naik ke atas genteng untuk menutup atap bocor sementara dengan terpal.

“Hati-hati disana Bahaya Alin!” Ucap ibu dari atas ketika melihat Alin mendekat.

Alin baru saja pulang dari kosan. Tiap bulan sesekali, Alin pulang supaya tidak bulak balik Jakarta-Bogor, Alin ditemani pacarnya Irfan. Seorang pengusaha yang memiliki keluarga kaya. Namun Irfan sebagai lelaki sendiri saat itu hanya diam saja tak membantu kala semua sedang sibuk membawa ember dan mengangkat barang melindungi barang elektronik basah akibat kebocoran atap.

“Ada lelaki ga sih disini? Malah cosplay jadi Ayah!” Ucap Anis menyindir Irfan.

Bapak pulang kondisi sudah tidak hujan. Rumah masih berantakan. Pak Tio pulang kerumah hanya untuk makan, tidur, mandi, dan merokok. Selebihnya ia tidak ada di rumah. Keliling entah kemana saat ditanya selalu marah. Membela diri, “Aku juga berusaha, aku juga mikir untuk keluarga ini!” Itu jawabnya. Setiap ada tagihan pinjaman online atau dep kolektor datang Pak Tio mengambil uang simpanan ibu untuk membayar hutangnya.

Suatu ketika saat membereskan barang Alin menemukan buku lama milik ibunya. Ternyata Diary. Disana pada tahun saat ibu masih remaja ibunya menulis sosok pemuda bernama Biru. Entahlah itu nama asli atau sekedar panggilan.

Diceritakan dalam buku itu Wulan dan Biru menatap kembang api bersama saat tahun. Sambil merayakan usia ke 5 tahun mereka berpacaran. Biru bilang ia ingin menikmati tahun baru bersama ke 6,7, 8 sampai keseratus. Wulan tertawa “Mana ada manusia yang hidup sampai usia sebanyak itu..”.

“Mungkin usia manusia tidak, tapi perasaan cintaku akan sama selamanya..” ucap Biru.

Alin menutup buku diary itu. Kini ia berspekulasi, siapa lelaki yang diceritakan ibu.

Ibu mencari uangnya untuk membenarkan atap yang bocor. Namun tidak ketemu. Bapak Tio mengatakan uangnya dipakai dulu. “Nanti pasti diganti, aku beli kado untuk anaknya Tita”, Kata Pak Tio.

“Tapi kan atap ini lebih penting Pak. Sudah ambruk.. bisa bahaya…”

“Iya nanti diperbaiki! Sudah tenang saja saya cari tukang untuk memperbaiki..”

Siang ini atap diperbaiki, oleh Tukang. Pak Andri yang mengantarkan tukang itu.

“Pak Andri ini siapa?” Tanya Alin pada Asya.

“Pak Andri ini sering mampir kak. Dokter. Sering bantu ibu kalau sakit. Mampir bawa obat. Baik kok.. kamu sih datang kerumah sebulan sekali jadi gatau apa yang terjadi kan,” ucap Asya.

Pagi ini Irfan sudah datang. Katanya diminta Ayah datang untuk ikut ke acara Tante Tita, katanya supaya lebih dekat dengan keluarga. Mereka sekeluarga datang ke rumah Tante Tita. Tita adalah Adiknya Bapak Tio. Rumah itu besar. Adik-adik Tio tampak orang yang kaya. Tio tampak dihargai oleh adik-adiknya. Obrolan Tio dan adik-adiknya sampai pada Alin yang tak lama lagi akan meikah dengan Irfan. Dan salah satu Adik bilang.. “Asal jangan pinjem uang saja..sampai pergi menantu lamanya karena uangnya ga dibalikin…” Mendengar hal itu membuat Tio Geram dan pergi.

Keluarga Tio jadi tim sibuk cuci piring kala Tante Tita punya acara seperti ini.

“Udah tau rumah mau ada acara, kok ART nya malah pulang kampung… ” ucap Anis sebal sambil mencuci piring.

Tiba-tiba Bapak Tio datang sambil marah “Kenapa jadi cerita ke orang-orang kalau bapak pinjam uang sama mantan suami Anis?”

“Kan semua sudah bapak kembalikan..” mulai lah cekcok di dapur Tante Tita menyebabkan semua orang melihat kejadian itu.

Mereka pulang diam seribu kata dalam perjalanan pulang. Alin kembali baca buku diary ibu setelah melihat notifikasi di handphone nya tentang tahun baru dan kembang api. Dikisahkan dalam tulisan Wulan.. Biru datang kerumah menemui orangtua Wulan. Disana Biru menceritakan aktivitasnya.. selain sedang menjadi mahasiwa kedokteran, Biru juga sedang membuka usaha sablon baju kecil-kecilan yang sedang ia rintis. Bapaknya Wulan marah, karena Biru jadi lelaki yang tak fokus. Biru diminta keluar, karena tidak cocok jadi calon suami yang baik buat Wulan.. masa depan masih belum jelas. Saat itu hujan deras turun.. sambil memeluk Wulan Biru berjanji akan datang lagi ketika dirinya sudah sukses.

Sepulang dari rumah Tante Tita konflik tak juga reda malah makin bertambah. Alin membaca buku diary ibu dan membawa bukunya baca sampai depan kamar. “Ngapain lo baca buku diary nya ibu? Gak sopan.. ” ucap Anis.

“Ibu, Pak Andri ini siapa? Pak Andri ini mantan nya Ibu kan?”

Ibu terkesiap, dan terdiam menunduk.

“Belum selesai urusan kamu dengan lelaki itu?” Ucap Tio lalu berlalu.

“Lu kejer bapak sekarang! Lu tanggungjawab!!” Ucap Anis tegas pada Alin.

Tio ke tempat praktik dokter Andri. Disana ia menggedor pintu klinik. Mencari dokter Andri. Dan hampir terjadi perkelahian, membuat para pasien terkejut dan menjadi perhatian. Terakhir sebelum pergi Tio melempar tong sampai sampai kaca klinik pecah. Alin duduk mendengar penjelasan dokter Andri. Dokter Andri tak memungkiri bahwa ia pernah ada cerita dengan Wulan. Namun ia merasa kehadiran Wulan dalam hidupnya telah membuat ia seperti sekarang. Karena semakin seseorang tua pertemanan akan semakin kecil satu persatu orang pergi. Dan membuat orang menjadi sendiri. Kami hanya saling mengisi saja. Saling bantu. Tidak ada lagi perasaan yang lama.

Alin menerima pesan tentang data riwayat medis ibu. Dari data ternyata ibu mengidap kanker pankreas stadium 4 sedang masa kemoterapi. Alin berdiri untuk pulang. Bertemu ibu. Mereka berempat saling berpelukan. Sedih karena selama ini ibu hanya diam saja menyembunyikan sakitnya.

Tio tak pulang kerumah. Sudah biasa.

Alin sedang ambil cuti karena beasiswanya sedang masa peninjauan. Alin mengisi waktu membantu ibu di ruko laundry. Menjemur baju bersama. Melihat ibunya bersusah payah selama ini.. Alin bertanya pada ibu. “Kenapa ibu menikah dengan Ayah?” tanya Alin.

“Kalau ibu tak menikah dengan ayah. Tidak ada kamu dong. Tidak ada Anis dan Aca…”

“Bu, aku gak apa-apa gak dilahirin bu, asal ibu tetap pada masa depan ibu.. ibu ga perlu capek-capek kayuh sepeda. Meladeni dep kolektor karena bapak yang berhutang.. ” ucap Alin sedih. Ibu meceritakan pertemuannya dengan Tio dulu. Ia rekan pengusaha Ayahnya Wulan. Tio datang dalam keadaan cukup matang. Tampan, dan tampak sukses. Tio datang memberi harapan pada Wulan, dan meminta Wulan berhenti kuliah, supaya bisa menikah dengannya. Dan Wulan tak perlu repot bekerja. Wulan mengakui kesuksesan Tio saat muda. Usahanya lancar apalagi saat anak-anak lahir. Namun Tio meminjam uang pada bank dengan nilai yang besar, kemudian perusahaan bangkrut. Malah Tio terjebak dalam judi dan sekarang jadi seperti ini.

Setelah tahu sakit yang dimiliki ibu, Anis dan adik-adik berjanji akan membersamai ibu. Membantu ibu dan membuat ibu tak terlalu lelah bekerja. Mereka sholat berjamaah. Alin mahasiwi kedokteran tahu bagaimana perkembangan ibu. Ibu Kanker pankrea stadium 4 dan sudah menyebar ke hati. Paliatif.. ibu memiliki penyakit yang sudah fase sulit di obati. Rambut mulai rontok. Sering mual dan muntah. Mata Wulan juga tampak kuning akibat penyebaran penyakitnya sampai ke hati.

Alin cerita bahwa ia cuti karena ada peninjauan beasiswa dari kampus. Ibu bilang uang kuliah mudah-mudahan ada rejekinya. Ibu berpesan bahwa sebagai perempuan harus terus sekolah sampai selesai, supaya nanti bisa mandiri.

Beberapa hari ini Anis menemani ibu kemoterapi. Memasak, menyiapkan segala perbekalan anak sendiri. Bangun tidur sudah ada teh sereh untuk ibu. Di tempat Laundry juga Alin menemani.

Malamnya Asya mendatangi Bapak yang sudah lama tak pulang. Ternyata bapak tak tahu ibu sakit keras. Ia hanya tahu ibu sakit biasa dan sudah ke dokter.

Kebersamaan keluarga ini makin hangat. Tanpa Bapak yang belum juga pulang. Mereka makan bersama, tidur bersama. Cerita hal-hal sat mereka masih kecil. Lucunya Alin yang suka main air. Saat ibu ngidam saat hamil Anis, mengidam saat hamil Alin dan Asya. Malam itu tampak hangat akan cerita dan pelukan. Seakan tak ingin melewati moment.

Wulan terbangun saat semuanya terlelap. Mencium, Memegang tangan anak-anak dan cucunya. Dan tidur bersama.

Pagi harinya Alin membangunkan ibu dengan lembut. Alin memeriksa nadi ibu. Ibu sudah terdiam, kaku dan nafas tak lagi mengembang kempis. Ibu meninggal. Pagi itu juga ibu mulai dilakukan persiapan pemakaman. Tetangga datang, termasuk Bapak Tio datang dengan wajah heran karena melihat bendera kuning depan pagar rumah. Tio menangis melihat istrinya di pembaringan. “Ibu udah gak ada. Kita sudah gak punya siapa-siapa kak….” Tangis Alin mendekap Anis dan Asya.

Beberapa hari kemudian dokter Andri datang membawa tas kulit. Ia menyampaikan pesan pada Alin.. terkait uang yang selama ini di tabung oleh Wulan. Uang ini harusnya bisa digunakan untu pengobatan Wulan, namun Wulan menolak.. ia lebih memilih tetap menyimpannya sebagai uang masa depan untuk Anis, Alin dan Asya. Tabungan itu diserahkan pada Alin. Ia memberitahukan pada saudara-saudaranya, termasuk pacarnya, Irfan. “Kalau uang 350 juta ini diketahui bapak.. pasti gak akan lama uang ini habis…”

Mereka menyimpan rapat informasi tentang uang ini. Uang yang akan diperuntukan untuk melanjutkan hidup Alin dan saudaranya. Sepeninggal ibu bapak masih juga tak berubah. Masih seperti dulu. Merokok dan duduk-duduk di rumah saja. Tampak sulit merubah tabiat ayahnya. Sampai Nando juga kehilangan sosok Eyang. Karena Pak Tio yang selalu pergi.

Alin membuka lagi diary ibu. Ternyata sebelum meninggal ibu menulis diarynya lagi.. seakan dia menjawab pertanyaan Alin tentang kenapa ibu menikah dengan Ayah?

Wulan menulis jawaban. Dan jawaban ini membuat aku tersedu. “Jika ibu tak menikah dengan ayah.. mungkin ibu akan menjadi dokter kandungan yang sukses, melihat para pasien sehat. Atau bisa saja ibu sedang fokus dengan hobi olahraga.. atau bisa jadi saat senggang ibu bisa menjemput cucu di sekolah dengan supir dan mobil. Tapi ibu memilih menikah dengan ayah.. melihat kaki kecil itu lahir. Melihat Alin yang suka main air dan menyiram kakak hingga Kak Anis menangis. Menggendong Aca yang menggemaskan. Mau diulang berapa kali pun.. ibu memilih tetap melahirkan kalian…” Alin menangis tersedu membaca jawaban ibu di buku itu.

Hari yang baru.. Alin akan sidang skripsi kedokterannya. Anis mendapat pekerjaan dan mengantar anaknya kesekolah. Sedangkan Asya sekolah dijemput sang pacar. Bapak Tio kembali membuka laundry yang sudah lama tutup.

Pelajaran yang ku petik dari Film ini

Wanita berhak memilih tetap berpendidikan dan mandiri di masa depan

Seorang Bapak seharusnya jadi teladan bagi anak-anak

Pentingnya menabung

Kasih ibu tak terhingga sepanjang masa hanya memberi tak harap kembali

Ibu adalah sosok yang selalu memikirkan orang lain

Semakin besar anak, ia semakin mengerti dan berani mengeluarkan pendapatkan

* Keluarga yang tak terlalu kaya selalu jadi tim sibuk di dapur? Bagian masak atau bagian mencuci piring? Seperti mejadi sesuatu yang umum di perkotaan.

Film Andai Ibu Tak Menikah Dengan Ayah membuka stigma bahwa sosok ibu sekuat itu, dan seorang Ayah yang berubah seiring waktu malah menjadikan sosok itu tak lagi bermakna di depan anak-anak. Sedangkan ibu, tetap menghormati bapak.. namun saking lelahnya ibu hanya diam melanjutkan rutinitas harian saja. Sebagian besar ibu tak menceritakan sakit yang ia miliki supaya tak membuat khawatir anggota keluarga lain.

Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *