My WordPress Blog

Pelatih Afrika Minta Boikot Piala Dunia 2026 Protes Kebijakan Trump

Isu Pemboikotan Piala Dunia 2026 Menyebar di Kalangan Pelatih Internasional

Menjelang kick-off Piala Dunia 2026, isu pemboikotan turnamen prestisius empat tahunan itu mulai menyebar ke berbagai kalangan. Kali ini, isu tersebut datang dari kalangan pelatih internasional yang menyoroti sisi politik yang mengiringi penyelenggaraan turnamen.

Salah satu tokoh yang menyampaikan ide untuk memboikot gelaran Piala Dunia 2026 adalah Claude Le Roy, juru taktik asal Perancis yang melegenda di Afrika. Ia melontarkan pernyataan tersebut sebagai bentuk protes terhadap kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang dinilainya merugikan benua Afrika. Termasuk dalam hal pembekuan visa bagi warga dari 75 negara, termasuk Senegal dan Pantai Gading yang masuk dalam daftarnya.

“Saya bertanya-tanya, apakah tidak sebaiknya menyerukan boikot Piala Dunia 2026,” kata Le Roy dikutip daru L’Equipe. Sebagai informasi, panggung sepak bola terbesar global yang mempertemukan 48 bangsa ini dijadwalkan berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026.

Kedekatan Le Roy dengan Afrika

Menurut Le Roy, wacana boikot Piala Dunia 2026 tersebut relevan jika dikaitkan dengan sikap Donald Trump terhadap Afrika. Sikap keras yang ditunjukkan Le Roy tidak luput dari kedekatan emosionalnya dengan Afrika. Meski lahir di Perancis, nama Le Roy tumbuh dan melegenda di Benua Afrika. Perjalanan panjangnya di dunia sepak bola tak terlepas dari sepak bola Afrika.

Salah satu pencapaian terbesarnya ketika membawa Kamerun menjawarai Piala Afrika 1988. Bukan hanya Kamerun, Le Roy juga pernah menahkodai sejumlah tim nasional Afrika, seperti Senegal pada periode 1989-1992, RD Kongo (2004-2006; 2011-2013), Ghana (2006-2008), Kongo (2013-2015), hingga Togo (2016-2021).

Dari rekam jejak tersebut, kedekatan Le Roy dengan benua Afrika tertaut secara emosional. Itulah alasan, mengapa Le Roy tidak ragu untuk vokal bersuara tentang Afrika.

Le Roy menilai kebijakan politik Donald Trump telah merusak tatanan sosial dan kemanusiaan di Afrika, terutama melalui kebijakan yang berkaitan dengan organisasi nonpemerintah (LSM). “Dia adalah presiden yang merusak Afrika dengan mematikan semua LSM,” ucap Le Roy dalam wawancara dengan Le Figaro, sebagaimana dikutip dari L’Equipe. “Di situlah letak tragedi benua ini,” sambungnya.

Kritik Terhadap FIFA dan Presiden AS

Kritik yang dilontarkan Le Roy tidak berhenti pada ranah politik saja. Dia juga menarik hubungan dengan dunia sepak bola global. Le Roy menyenggol kedekatan Presiden FIFA, Gianni Infantino, di tengah situasi geopolitik yang sedang memanas ini. “Melihat perilaku Donald Trump terhadap benua ini, dengan seorang presiden FIFA, Gianni Infantino, yang membanggakan diri berada di sisinya,” ucap Le Roy. “Para pemimpin di tingkat tertinggi sepak bola tidak pernah lagi berbicara tentang sepak bola, melainkan hanya soal uang,” tambahnya.

Le Roy menegaskan bahwa dirinya akan terus bersuara dan memperjuangkan kebaikan untuk sepak bola Afrika. “Saya menghadiri konferensi pers CAF atau Konfederasi Sepak Bola Afrika, saya beberapa kali ingin berbicara, tetapi saya tidak pernah diberi mikrofon karena semua orang tahu saya pasti tidak akan bersikap menyenangkan,” tutur Le Roy. “Perjuangan saya dalam hal ini belum berakhir,” tegasnya.

Ancaman Boikot dari Jerman

Turnamen paling besar se-dunia ini juga terancam diboikot oleh Pemerintahan Jerman, andai kata Trump benar-benar mencaplok Greenland. Mengutip dari, Selasa (20/1/2026), Juru bicara kebijakan luar negeri dari fraksi CDU/CSU di parlemen Jerman, Juergen Hardt mengungkapkan bahwa boikot bakal jadi pilihan terakhir jika Trump tetap bersikeras soal Greenland. “Menolak keikutsertaan dalam turnamen akan dipertimbangkan sebagai langkah terakhir untuk membuat Presiden Trump berpikir jernih mengenai isu Greenland,” ujar Hardt, dikutip dari TASS.

Sebagaimana diketahui, Donald Trump sangat menginginkan Greenland dengan alasan kepentingan keamanan nasional.

Boikot dari Politisi Inggris

Sebelumnya, seruan boikot juga sudah menggema di dunia politik internasional, sebagaimana dikutip dari, Jumat (16/1/2026). Boikot Piala Dunia 2026 sempat digaungkan oleh 23 anggota parlemen Inggris lintas partai. Secara blak-blakan, mereka mendesak FIFA untuk menghapus AS dari daftar kontestan Piala Dunia 2026. Mereka menilai, AS sebaiknya baru diikutsertakan setelah menunjukkan “kepatuhan yang jelas terhadap hukum internasional dan penghormatan terhadap kedaulatan negara lain”.

Para politisi itu menyatakan keprihatinan khusus terhadap kejadian yang mereka sebut sebagai “penculikan Presiden Nicolas Maduro”. Mereka menilai peristiwa ini sebagai “intervensi langsung terhadap urusan dalam negeri negara berdaulat”.

Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *