Pengaruh Nominasi Oscar terhadap Karier Aktor
Akademi Film atau Oscar tetap dianggap sebagai penghargaan film paling bergengsi di dunia hingga saat ini. Meskipun secara harfiah, skala penghargaan ini tidak benar-benar global, karena memang dirancang untuk film-film yang diproduksi dan tayang di Amerika Serikat. Namun, pengaruhnya memang terasa hingga ke seluruh dunia.
Para aktor atau aktris yang berhasil meraih nominasi atau piala Oscar akan menjadi perbincangan hangat. Karier mereka bisa berubah drastis. Tapi seberapa besar pengaruhnya sesungguhnya? Mari kita lihat fakta-faktanya berikut ini.
Nominasi Oscar Meningkatkan Nama Aktor
Tidak bisa dimungkiri, nominasi Oscar menjadi dekorasi yang sulit diabaikan dalam karier seorang aktor atau aktris. Sekali mendapatkannya, hidup mereka dipercaya akan berubah. Gaji mereka otomatis naik dan tawaran audisi pun bakal membanjiri.
Hal tersebut memang benar. Contohnya adalah kemenangan Dustin Hoffman, Anthony Hopkins, Daniel Day-Lewis, dan Tom Hanks pada pertengahan 1980-an hingga 1990-an, yang mengubah jalur karier mereka. Bahkan, nominasi saja sudah cukup untuk membuat nama mereka melambung dan menjadi incaran banyak sutradara serta casting director.
Contoh lainnya adalah Matt Damon dengan Good Will Hunting, Jeremy Renner dengan The Hurt Locker, Bradley Cooper dengan Silver Linings Playbook, dan Paul Mescal dengan Aftersun. Hal serupa juga terjadi pada banyak aktris, seperti Carey Muligan dengan An Education, Natalie Portman dengan Closer dan Black Swan, Margot Robbie dengan I, Tonya, Emma Stone dengan Birdman dan La La Land, Jennifer Lawrence dengan Winter’s Bone dan Silver Linings Playbook, serta Meryl Streep dengan Kramer vs. Kramer.
Kemenangan atau setidaknya nominasi sudah cukup membuat mereka masuk jajaran elite. Dalam waktu singkat, proyek-proyek baru yang tak kalah berkualitas mereka lakoni dan koleksi, menambah gengsi portofolio mereka.
Masalah Etis dan Diskriminasi dalam Industri Film
Namun, ini bukan fenomena universal. Fenomena ini hanya berlaku untuk aktor dan aktris kulit putih. Silakan tengok bagaimana nasib para aktor berlatar belakang kulit berwarna dan minoritas yang pernah memenangkan piala Oscar atau setidaknya dapat nominasi.
Beberapa nama seperti Lupita Nyong’o dengan 12 Years a Slave, Daniel Kaluuya dengan Get Out!, Steven Yeun dengan Minari, Riz Ahmed dengan Sound of Metal, Lily Gladstone dengan Killers of the Flower Moon, Halle Berry dengan Monster’s Ball, Chiwetel Ejiofor dengan 12 Years a Slave, Sophie Okonedo dengan Hotel Rwanda, dan Yalitza Aparicio dengan Roma.
Nyong’o, Gladstone, Yeun, Ejiofor, dan Ahmed mungkin beberapa nama yang berhasil mempertahankan status elitenya sebagai pemenang Oscar dengan bergabung di proyek-proyek menarik beberapa tahun setelahnya. Namun, coba perhatikan nama lain dari daftar tadi. Mereka hampir ditelan bumi. Alasan mereka beragam, kebanyakan berpindah fokus di belakang layar. Ejiofor dan Okonedo masih aktif, tetapi lebih sering mendapat peran pendukung ketimbang tokoh utama.
Nyong’o sendiri mengaku setelah kemenangannya di Oscar 2014, ia memang dapat banyak tawaran film, tetapi masih terpaku pada stigma yang melekat pada etnisitasnya. Lily Gladstone setelah Oscar 2024 memilih untuk fokus pada proyek independen dan cerita dari perspektif penduduk pribumi seperti dirinya.
Yeun, Ejiofor, dan Ahmed dapat kesempatan mencoba lebih banyak peran di luar stigma etnik mereka. Namun, tetap harus diakui kecepatan mereka mendapatkan proyek bagus tidak sebanding dengan yang didapat aktor kulit putih. Jika mereka butuh hitungan tahun, aktor kulit putih seperti Eddie Redmayne dan Cillian Murphy bisa mendapatkannya dalam hitungan bulan.
Struktur Industri Film yang Tidak Berubah
Pertanyaannya, mengapa aktor atau aktris kulit putih mendapat keuntungan lebih besar dari Oscar? Ini bisa berakar dari tradisi industri film Amerika yang memang memprioritaskan mereka. Riwayat kolonialisme, segregasi, dan diskriminasi rasial yang melestarikan supremasi kulit putih bukan sesuatu yang mudah dihilangkan dari tradisi masyarakat.
Belum lagi, secara struktural, tokoh-tokoh strategis (sutradara, penulis naskah) dalam industri film Amerika Serikat masih didominasi orang kulit putih dan bergender pria. Ini setidaknya berdasarkan data tahun 2024 yang dirilis UCLA dalam Hollywood Diversity Report 2025. Tak heran, peluang untuk aktor dan aktris kulit putih meluas, tetapi tidak untuk aktor-aktor kulit berwarna yang mewakili kelompok etnik atau bangsa tertentu. Terbukti, pemeran utama dalam film-film Hollywood pun masih didominasi aktor atau aktris kulit putih ketimbang kulit berwarna.
Jadi, seberapa besar pengaruh nominasi Oscar untuk karier seorang aktor? Jelas ia bagus untuk publisitas si aktor atau aktris, tetapi mengeklaim mereka bakal mengubah hidup seorang aktor agaknya berlebihan. Perjalanan karier mereka pada akhirnya tergantung pula oleh ketersediaan serta kecocokan proyek dengan visi personal masing-masing aktor. Namun, faktor etnisitas tidak bisa dilupakan, mengingat industri film Hollywood memang sensitif terhadap ciri fisik.













