Kembali Beroperasi, Reaktor Nuklir Terbesar Jepang Diaktifkan Kembali
Tokyo, Jepang telah mengambil langkah penting dalam upaya pemulihan energi nuklirnya dengan menghidupkan kembali reaktor nuklir terbesar di dunia sejak bencana Fukushima pada 2011. Reaktor nomor 6 di pembangkit listrik Kashiwazaki-Kariwa, yang berlokasi di barat laut Tokyo, mulai beroperasi kembali pada Rabu (21/1/2026). Pengoperasian awalnya tertunda selama satu hari akibat kerusakan alarm, namun diperkirakan akan mulai beroperasi secara komersial bulan depan.
Ini menjadi babak terbaru dalam upaya pemulihan tenaga nuklir Jepang, yang masih memiliki perjalanan panjang. Reaktor ketujuh di lokasi tersebut diperkirakan baru akan beroperasi kembali pada 2030, sementara lima reaktor lainnya kemungkinan akan dinonaktifkan. Hal ini menyebabkan kapasitas pembangkit listrik tersebut jauh lebih rendah daripada saat semua tujuh reaktor beroperasi penuh, yaitu 8,2 gigawatt.
Jepang, yang sangat bergantung pada impor energi, merupakan negara pertama yang mengadopsi tenaga nuklir. Namun, ambisi ini pupus pada 2011 setelah bencana Fukushima Daiichi yang kini dikenang sebagai salah satu kecelakaan nuklir terburuk dalam sejarah. Bencana ini dipicu oleh gempa terkuat yang pernah tercatat di Jepang dan menyebabkan peleburan reaktor serta kebocoran radioaktif.
Bayang-Bayang Kejadian Tahun 2011
Kejadian itu meninggalkan trauma bagi masyarakat setempat, termasuk warga yang dievakuasi. Banyak dari mereka belum kembali meskipun ada jaminan resmi. Para kritikus menilai bahwa Tokyo Electric Power Company (Tepco), pemilik pembangkit listrik tersebut, tidak siap dan respons mereka serta pemerintah tidak terkoordinasi dengan baik.
Laporan pemerintah independen menyebut peristiwa ini sebagai “bencana buatan manusia” dan menyalahkan Tepco, meskipun pengadilan kemudian membebaskan tiga eksekutif mereka dari tuduhan kelalaian. Rasa takut dan kurangnya kepercayaan memicu penentangan publik terhadap tenaga nuklir. Jepang menangguhkan seluruh armada 54 reaktornya setelah bencana Fukushima.
Selama dekade terakhir, Tepco telah berupaya untuk menghidupkan kembali pembangkit listrik tersebut. Sejak 2015, mereka telah menghidupkan kembali 15 dari 33 reaktor yang beroperasi. Pembangkit Kashiwazaki-Kariwa adalah yang pertama dari pembangkit milik Tepco yang dihidupkan kembali.
Perencanaan Energi Jepang
Sebelum 2011, tenaga nuklir menyumbang hampir 30 persen dari kebutuhan listrik Jepang. Negara ini berencana meningkatkan angka tersebut menjadi 50 persen pada 2030. Rencana energi tahun lalu menunjukkan tujuan yang lebih moderat, yaitu Jepang ingin tenaga nuklir menyediakan 20 persen dari kebutuhan listriknya pada 2040.
Momentum global semakin meningkat terkait energi nuklir. Badan Energi Atom Internasional memperkirakan bahwa kapasitas tenaga nuklir dunia dapat meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2050. Di Jepang, pada 2023, tenaga nuklir hanya menyumbang 8,5 persen dari total listrik.
Perdana Menteri Sanae Takaichi menekankan pentingnya tenaga nuklir untuk kemandirian energi Jepang. Jepang memperkirakan permintaan energi akan melonjak karena pusat data dan manufaktur semikonduktor. Namun, biaya pengoperasian reaktor nuklir telah melonjak karena pemeriksaan keselamatan baru yang membutuhkan investasi besar.
Tantangan dan Penolakan Publik
Pemerintah dapat mensubsidi biaya tersebut atau membebankannya kepada konsumen. Namun, kedua pilihan ini tidak disukai oleh para pemimpin Jepang yang selama beberapa dekade memuji keterjangkauan energi nuklir. Tagihan energi yang mahal juga bisa merugikan pemerintah saat rumah tangga memprotes kenaikan biaya.
Dalam beberapa minggu setelah bencana Maret 2011, 44 persen warga Jepang berpendapat bahwa penggunaan tenaga nuklir harus dikurangi, menurut survei oleh Pew Research Center. Angka tersebut melonjak menjadi 70 persen pada 2012. Sejak saat itu, ribuan warga telah mengajukan gugatan perwakilan kelompok terhadap Tepco dan pemerintah Jepang, menuntut ganti rugi atas kerusakan properti, tekanan emosional, dan masalah kesehatan yang diduga terkait paparan radiasi.
Pada 2023, pelepasan air radioaktif yang telah diolah dari pembangkit nuklir Fukushima Daiichi memicu kecemasan dan kemarahan baik di dalam maupun luar negeri. Hingga kini, banyak yang masih menentang pengaktifan kembali pembangkit listrik tenaga nuklir. Pada Desember lalu, ratusan demonstran berkumpul di luar gedung dewan prefektur Niigata tempat Kashiwazaki-Kariwa berada, menyuarakan kekhawatiran tentang keselamatan.
Standar Keselamatan yang Ditingkatkan
Standar keselamatan nuklir telah ditingkatkan setelah Fukushima. National Nuclear Safety Agency (NRA), sebuah badan kabinet yang dibentuk pada 2012, kini mengawasi pengaktifan kembali pembangkit nuklir negara tersebut. Di Kashiwazaki-Kariwa, tembok laut setinggi 15 meter telah dibangun untuk melindungi dari tsunami besar dan pintu kedap air kini melindungi peralatan penting di fasilitas tersebut.
Beberapa ahli khawatir bahwa kebijakan-kebijakan ini tidak cukup mempertimbangkan kenaikan permukaan laut akibat perubahan iklim atau gempa bumi dahsyat yang terjadi sekali dalam seabad yang telah diantisipasi oleh Jepang.











