JAKARTA — Danantara mengungkapkan bahwa teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSA) yang akan diterapkan di beberapa wilayah di Indonesia telah dirancang dengan standar terbaru yang lebih canggih dan ramah lingkungan. Teknologi ini tidak hanya mampu menghasilkan energi, tetapi juga memastikan tidak adanya senyawa berbahaya seperti dioksin dalam proses pembakaran.
Fadli Rahman, lead of Waste Energy Danantara, menyampaikan bahwa empat kota dan kabupaten rencananya akan memulai proyek PLTSA pada Maret 2026. Keempat wilayah tersebut adalah Kota dan Kabupaten Bogor, Denpasar dan sekitarnya, Yogyakarta dan sekitarnya, serta Kota Bekasi.
“Kita harus sama-sama jelas bahwa ini bukan peralatan teknologi lama. Ini adalah teknologi baru yang bahkan lebih canggih dibandingkan 80 persen yang sudah diterapkan di China,” ujar Fadli saat berbicara di Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Teknologi PLTSA yang Lebih Canggih
Teknologi yang digunakan oleh Danantara menggunakan sistem pembakaran termal dengan suhu tinggi, berkisar antara 800 hingga 1.000 derajat Celsius. Dengan tingkat panas tersebut, proses pembakaran berlangsung sempurna sehingga mencegah terbentuknya gas beracun.
Selain itu, sistem PLTSA dilengkapi dengan teknologi penyaringan berlapis untuk menangkap sisa gas berbahaya. Fadli menjelaskan bahwa emisi yang dilepaskan ke udara telah memenuhi standar lingkungan yang bahkan lebih ketat dibandingkan regulasi Uni Eropa, serta melampaui standar nasional yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup dan SNI.
“Teknologi yang kita gunakan adalah teknologi dengan pembakaran sempurna ditambah dengan beberapa filtering untuk memastikan gas-gas atau residu beracun itu ditangkap,” ujarnya.
“Asap yang keluar adalah asap bersih. Standarnya lebih ketat dari standar Eropa dan lebih ketat dari standar yang kita miliki saat ini,” tambahnya.
Proses Pembakaran yang Tidak Sempurna
Menanggapi kekhawatiran sejumlah pengamat lingkungan terkait penggunaan insinerator yang berpotensi menghasilkan dioksin, Fadli menegaskan bahwa teknologi yang akan digunakan berbeda dengan insinerator konvensional.
Insinerator lama menghasilkan dioksin karena proses pembakarannya tidak sempurna. “Insinerasi yang dulu dipakai dan sekarang dilarang itu pembakarannya tidak sempurna. Dioksin muncul karena pembakaran yang tidak optimal,” jelasnya.
Kolaborasi dengan Penyedia Teknologi
Fadli menambahkan bahwa mayoritas penyedia teknologi berasal dari China, namun hal tersebut tidak membuat teknologi yang digunakan sama dengan teknologi lama yang selama ini menuai kritik. Seluruh penyedia teknologi diwajibkan bekerja sama dengan perusahaan lokal Indonesia sebagai bagian dari skema alih teknologi (technology transfer).
“Ini penting karena kita tidak hanya membangun fasilitas, tapi juga membangun kapasitas nasional. Mereka punya teknologinya, tapi diwajibkan berkolaborasi dengan perusahaan lokal,” tegas Fadli.
Pada 2 dan 12 Januari 2026, Danantara telah menerima proposal feasibility study dari berbagai anggota Daftar Penyedia Teknologi (DPT) yang sebelumnya telah melalui proses seleksi.
Kritik Terhadap Penggunaan Insinerator
Mengutip pernyataan Senior Advisor Nexus3 Foundation, Yuyun Ismawati, sampah di Indonesia tidak layak untuk penggunaan insinerator. Ia menyoroti bahwa pengeringan sampah membutuhkan waktu dan dana, serta leachate-nya harus diolah di Indonesia. Namun, aturan dan lokasi insinerator masih belum memiliki standar nasional (SNI).
Ia menegaskan bahwa penggunaan insinerator atau proses pembakaran dalam PLTSa justru akan menambah polusi baru dan tidak sesuai dengan tujuan PLTSa untuk mencapai target energi bersih.
“Sampahnya tidak sesuai, dan kalau tidak layak bakar harus didorong pake batubara, ini akan menghasilkan abu lebih banyak lagi karena temperaturnya tidak bisa mencapai 1.000 (derajat Celcius),” ujarnya.
“Kalau pembakaran tidak mencapai 1.000 artinya pembakaran tidak sempurna, maka racun yang terbentuk. Racun yang paling berbahaya ada racun dioksin. Itu adalah sumber racunnya,” tegas dia.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











