Rizki Juniansyah Kembali Jadi Sorotan Publik
Rizki Juniansyah, atlet angkat besi yang juga merupakan anggota TNI Angkatan Laut (AL), kembali menjadi sorotan publik setelah mendapatkan kenaikan pangkat dua tingkat. Selain itu, ia juga mengaku baru saja pindah dari TNI AL ke Angkatan Darat (AD). Perpindahan ini telah dikonfirmasi oleh pihak TNI.
“Alhamdulillah, sekarang saya dipindahkan ke TNI Angkatan Darat,” ujarnya. Informasi ini pun telah dikonfirmasi oleh pejabat di lingkungan TNI pada Sabtu (10/1/2026). Bahkan, Rizki Juniansyah sendiri membenarkan kepindahannya dari AL ke AD.
Jalur Karier dan Pendidikan Militer
Untuk diketahui, Rizki Juniansyah baru saja dilantik sebagai perwira TNI AL pada 27 November 2025 melalui jalur Dikmapa Prajurit Karier (PK) Keahlian Khusus Siber. Dikmapa Prajurit Karier (PK) merujuk pada Pendidikan Pertama Prajurit Karir TNI, sebuah program pelatihan militer di Indonesia untuk prajurit karier dari latar belakang akademis sipil.
Program ini mengubah lulusan universitas menjadi perwira (Perwira Pertama atau PAMA) melalui tahapan terstruktur yang berfokus pada disiplin militer, kepemimpinan, dan kebugaran fisik. Lulusan akan diangkat menjadi Letnan Dua setelah menyelesaikan program. Pelatihan berlangsung sekitar 7 bulan dan dibagi menjadi beberapa tahapan seperti Diksarit (dasar-dasar militer untuk rekrutan Caprasis) dan Diksargolpa (keterampilan kepemimpinan perwira untuk Prasis).
Pelatihan ini dilaksanakan di lembaga-lembaga seperti Akademi Militer (Akmil) di Magelang di bawah Kodiklat TNI, dengan jalur terpisah untuk cabang TNI AD, AL, dan AU.
Pandangan Pengamat Militer
Pengamat militer sekaligus Kepala Center for Intermestic and Diplomatic Engagement (CIDE), Anton Aliabbas, menilai perpindahan tersebut merupakan langkah yang bisa dikategorikan sebagai kebijakan baru. Namun, Anton menekankan bahwa perpindahan antar matra bukan sesuatu yang asing dalam sistem militer di sejumlah negara. Ia mencontohkan militer Amerika Serikat yang telah lama menerapkan perpindahan matra untuk mengelola karier personel.
Anton menilai, jika kebijakan semacam ini dibakukan, maka perpindahan matra bisa menjadi salah satu cara mempercepat pemenuhan kebutuhan prajurit spesialis dibandingkan harus membuka perekrutan baru. “Dengan dipersiapkan dengan baik, kebijakan ini bisa ikut meningkatkan performa organisasi secara signifikan,” ujarnya.
Sementara itu, pengamat politik dan pertahanan keamanan Universitas Nasional (Unas), Selamat Ginting, mengatakan perpindahan matra di tubuh TNI sudah terjadi sejak Operasi Trikora Pembebasan Irian Barat pada 1961-1962.

Kala itu, kata Selamat, ada dua perwira Korps Zeni AD pindah matra ke AL untuk memperkuat Korps Komando Operasi (KKO) TNI AL, kini dikenal sebagai Korps Marinir. Perpindahan matra saat Operasi Trikora saat itu dilakukan untuk keperluan organisasi dan operasi militer.
Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB)
Pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISSES), Khairul Fahmi berkomentar soal Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) Rizki Juniansyah. Meski KPLB Rizki tak lazim di tubuh TNI, Fahmi menekankan hal tersebut tidak melanggar aturan. Ia mengatakan KPLB dua tingkat sekaligus seperti yang didapat Rizki, belum pernah terjadi dalam praktik pembinaan karier TNI sebelum tahun 2025.
Fahmi menjelaskan, sistem kepangkatan TNI secara umum dirancang bertahap, berbasis masa dinas, jabatan, serta pendidikan. Tak hanya itu, bagi atlet berprestasi, ungkap Fahmi, juga biasanya hanya diberikan kenaikan pangkat satu tingkat. “Bahkan bagi prajurit berprestasi (termasuk atlet nasional), kenaikan pangkat biasanya diberikan satu tingkat, atau dalam bentuk percepatan karier lain seperti prioritas pendidikan dan penugasan tertentu,” urai Fahmi.
Standarisasi Pemberian KPLB
Pengamat militer Anton Aliabbas menjelaskan bahwa pemberian KPLB bagi prajurit berprestasi memang telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 35 Tahun 2025 tentang Administrasi Prajurit TNI. Meski dinilai sah secara aturan, Anton mengingatkan pentingnya panduan lebih lanjut agar kebijakan KPLB tidak menimbulkan kecemburuan atau inkonsistensi dalam pembinaan karier prajurit.
Anton menilai standarisasi dibutuhkan agar penghargaan berbasis prestasi bisa menjadi bagian dari merit system di tubuh TNI dan tidak bersifat temporer atau bergantung pada preferensi pimpinan.
Profil Rizki Juniansyah
Rizki Juniansyah adalah atlet angkat besi Indonesia yang lahir pada 17 Juni 2003 di Serang, Banten. Ia merupakan putra dari pasangan Yasin dan Yeni Rohaeni, yang keduanya mantan atlet angkat besi, sehingga ia dibesarkan dalam lingkungan olahraga sejak kecil. Saat ini, usia Rizki 22 tahun.
Pria yang karib disapa Kijun itu kini aktif sebagai prajurit TNI Angkatan Laut sekaligus atlet nasional. Saat resmi menjadi anggota TNI AL pada November 2025 lalu, Rizki Juniansyah menyandang pangkat Letnan Dua (Letda). Letnan Dua (Letda) merupakan pangkat perwira pertama terendah dalam struktur Tentara Nasional Indonesia (TNI), termasuk TNI Angkatan Laut (AL).

Namun, pangkat Letda itu tak lama disandang Rizki Juniansyah. Pada Januari 2026, ia naik pangkat dua tingkat menjadi Kapten. Kapten merupakan pangkat perwira pertama tertinggi dalam struktur Tentara Nasional Indonesia (TNI), tepat di atas Letnan Satu (Lettu) dan di bawah Mayor. Di TNI Angkatan Laut (AL), disebut Kapten Laut dan setara dengan Captain di militer internasional.
Karier Olahraga
Rizki memulai karir dari kejuaraan nasional remaja sebelum menembus level internasional seperti Asian Junior Championship dan Junior World Championship. Ia lolos Olimpiade Paris 2024 setelah juara IWF World Cup di Phuket, Thailand, dengan total angkatan 365 kg yang memecahkan rekor dunia kelas 73 kg.
Pada 8 Agustus 2024, ia meraih emas Olimpiade pertama bagi angkat besi Indonesia dengan Clean & Jerk 199 kg (rekor Olimpiade), menjadi atlet termuda peraih emas Olimpiade Indonesia pada usia 21 tahun 52 hari, menggeser rekor Susi Susanti. Di SEA Games 2025 Thailand, ia pecahkan dua rekor dunia lagi: Clean & Jerk 205 kg dan Total 365 kg kelas 79 kg, meraih emas.
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."











