Perkembangan Teknologi dan Kecerdasan Buatan
Di kehidupan yang serba modern ini, mencari informasi atau membutuhkan sesuatu lewat internet, kita tinggal menggunakan Artificial Intelligence atau yang bisa kita sebut dengan AI atau kecerdasan buatan. Contoh AI yang biasa digunakan adalah Gemini dari Google, Chat GPT, DeepSeek, dan masih banyak lagi. Ini tergantung penggunaannya. Apakah hanya sekadar cari informasi atau bisa juga untuk edit gambar hingga video.
Ada satu AI yang cukup menarik perhatian, yaitu Grok yang dikembangkan oleh xAI, perusahaan milik Elon Musk. Grok ini masih bisa diakses ketika kamu memiliki akun sosial media X atau yang dulu dikenal dengan sebutan Twitter. Uniknya, Grok bisa dimanfaatkan langsung lewat topik yang sedang ada di X tersebut. Cukup mention dan tanyakan informasi detail yang ingin kamu ketahui. Sebagai AI, Grok akan memberikan jawaban secepat mungkin dengan bahasa yang lebih santai seakan sedang bicara dengan teman sendiri.
Dengan kehadiran Grok ini tentu memudahkan pengguna untuk mendapat informasi tanpa perlu pindah ke aplikasi lain. Namun sayangnya, akhir-akhir ini ada kontroversi dari Grok yang cukup membuat netizen (khususnya Indonesia) geram dan khawatir akan privasinya.
Masalah Privasi yang Muncul
Karena semakin canggih, saat ini Grok bisa diminta untuk mengedit sebuah gambar yang orang unggah di X milik seseorang. Misalnya saja, Hai mention Grok, tolong hilangkan orang-orang yang ada di belakangku. Dan simsalibim, Grok akan membalas menggunakan gambar sesuai dengan apa yang diminta barusan.
Tapi, orang-orang memanfaatkan ini untuk hal yang justru tidak senonoh. Misalnya ketika seseorang mengunggah potret dirinya di X, orang lain dengan bebas membalas dengan menyebutkan Grok didalamnya dan menyuruh untuk mengedit potret seseorang itu dengan hanya mengenakan pakaian dalam saja. Hal ini bisa terjadi pada siapa saja, baik itu laki-laki ataupun perempuan. Laki-laki misalnya tiba-tiba diedit oleh Grok menjadi shirtless, lalu perempuan hanya mengenakan bikini saja. Parahnya lagi, untuk perempuan, yang dijadikan objek justru ada juga yang dari kalangan berhijab. Di mana sesungguhnya ia sudah berusaha untuk menutup aurat, tapi malah dibuat jadi seksi dan tak senonoh oleh kecerdasaan buatan yang disalahgunakan seseorang.
Kekhawatiran Terhadap Privasi Pengguna
Tentu saja ini membuat khawatir para pengguna X karena foto pribadi yang diunggah bisa diedit tiba-tiba oleh siapapun tanpa persetujuan orang yang bersangkutan. Dan masalahnya adalah setiap hasil foto yang dibuatkan Grok bisa dilihat oleh publik siapapun itu. Berbeda dengan AI lain yang hanya bisa dilihat oleh orang yang minta dieditkan saja.
Hal ini memberi tanda tanya besar bahwa privasi pengguna X ini sama sekali tidak dilindungi dan bisa jadi konsumsi publik ketika diedit tanpa persetujuan pihak utama. Keresahan karena foto kita bisa diedit jadi tak senonoh, dilihat publik, hingga tak bisa dihapus (karena itu diunggah langsung oleh AI Grok), memberi pertanyaan selanjutnya bahwa apakah memang sosial media X/Twitter ini bukan tempat yang aman untuk mengunggah foto diri?
Langkah Preventif yang Bisa Dilakukan
Memang sih, ketika kita mengunggah sesuatu di internet tentunya sudah paham bahwa akan dikonsumsi oleh orang lain, bahkan kemungkinan diedit jadi macam-macam pun masih ada. Namun kasusnya di sini tidak sesederhana itu. Kecerdasan AI dari Grok secara terang-terangan memberikan bukti bahwa di zaman dengan serba AI ini keamanan pengguna jadi semakin mengecil.
Mungkin hari ini hanya tentang Grok. Tidak menutup kemungkinan selanjutnya akan ada AI lain yang menyatu dengan akun sosial media yang bisa lebih parah dari Grok dengan menyebarluaskan sesuatu tanpa persetujuan kita sebagai pemiliknya.
Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai langkah preventif?
Tips untuk Menghindari Bahaya AI
Pertama, tentu membatasi apa yang ingin diunggah di sosial media, terutama potret diri sendiri. Kenali bahwa semakin canggih zaman, semakin mudah juga sebuah foto disalahgunakan. Memang kesannya kebebasan diri jadi semakin terbatas, tapi ini memang cara preventif awal yang bisa dilakukan.
Lalu jika tahu bahwa AI semacam Grok hadir di X, maka potret diri kita sebaiknya tak diunggah di sana, terutama jika kamu punya pengikut yang banyak, seorang ‘seleb’, dan bisa berpotensi viral dan dilihat banyak orang. Gunakan platform sosial media lain yang sekiranya lebih ‘safe’. Ya meski namanya sosmed selalu ada celahnya sih.
Kedua, jangan jadi pelaku! Tidak perlu ikut-ikutan tren ingin mengedit foto (baik diri sendiri atau orang lain), yang kemudian terunggah dan dilihat publik. Menginginkan foto seseorang jadi tanpa busana sudah masuk ke kategori pelecehan seksual. Dan sekalipun kamu melakukannya untuk diri sendiri, tetap saja kamu mendukung tindakan tersebut.
Tiga, pahami bahwa AI itu bagai pisau bermata dua. Oke memang kita sangat terbantu, tapi di sisi lain ada hal berbahaya yang mungkin tidak terlihat oleh kita. Contohnya adalah ketika mengunggah foto diri sendiri. Di AI manapun, dengan kamu menggunggah foto diri sendiri, itu artinya database foto kita sudah tersimpan di sana dan tidak menutup kemungkinan akan merugikan di waktu yang akan datang.
Itulah salah satu alasan saya tak begitu mengikuti tren edit foto AI dimanapun itu. Karena hanya ingin berhati-hati saja pada hal terburuk yang tidak diinginkan.
Kesimpulan
Dengan ramainya AI Grok ini, sebenarnya memberi satu pelajaran penting untuk kita semua bahwa internet bukan jadi tempat yang benar-benar aman di situs manapun. Yang salah bukan soal teknologi atau AI-nya, tapi dari penggunanya sendiri. Ketika kita tidak bisa mengontrol mereka, maka cukuplah mengontrol diri sendiri agar tidak jadi pelaku yang menyalahgunakan.
Di sini juga pemerintah setidaknya mengambil sikap tegas atas privasi masyarakat yang semakin tak terlindungi. Jika memang dibutuhkan, pemblokiran akses ke AI Grok di negara sendiri bisa diterapkan untuk antisipasi kejadian yang semakin buruk.
Itu tadilah sedikit curahan hati saya yang melihat fenomena AI (khususnya Grok) yang semakin cerdas, namun juga punya sisi gelap yang mesti diperhatikan. Tidak perlu takut juga atas kehadiran AI asalkan kita masih bisa mengontrolnya tanpa keluar batas.
So, sekian untuk tulisan kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai jumpa di tulisan selanjutnya!











