Penolakan SP PLN terhadap Dominasi Swasta dalam RUPTL 2025–2034
Serikat Pekerja PLN (SP PLN) secara tegas menolak dominasi swasta dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034. Penolakan ini didasarkan pada pengalaman masa lalu yang menyakitkan, khususnya pemadaman total di Pulau Nias pada tahun 2016. Peristiwa tersebut menjadi bukti nyata bahwa kelistrikan bukan hanya urusan bisnis, tetapi juga berkaitan dengan kedaulatan negara dan hajat hidup rakyat.
Pengalaman Masa Lalu yang Mengguncang
Pemadaman total di Pulau Nias terjadi setelah pembangkit swasta (IPP) bernama American Power Rent berhenti beroperasi. Akibatnya, pasokan listrik di Nias lumpuh total selama 13 hari. Situasi ini menyebabkan aktivitas masyarakat terganggu, sekolah tidak bisa berjalan normal, ekonomi rakyat terhenti, dan kehidupan sehari-hari berubah menjadi perjuangan bertahan hidup.
Saksi fakta atas nama Herdin Hironimus Zebua, mantan Operator Tenaga Alih Daya (TAD) Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Gunungsitoli milik PLN, menjelaskan kondisi lapangan saat itu. Ia mengungkap bahwa pemadaman terjadi karena pihak swasta menghentikan pasokan listrik karena PLN belum membayar hutang. Warga Nias marah dan melakukan aksi pelemparan batu serta ancaman pembakaran pembangkit swasta.
Kelistrikan sebagai Urat Nadi Kedaulatan Negara
Dalam sidang lanjutan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) yang digelar pada 8 Januari 2026, SP PLN menghadirkan saksi fakta dari Nias untuk menunjukkan bahwa kelistrikan adalah urat nadi kedaulatan negara dan hajat hidup rakyat. Saksi tersebut menyampaikan bahwa masyarakat hanya tahu bahwa listrik padam disebabkan oleh PLN, padahal sebenarnya pembangkit dimatikan oleh pihak swasta karena utang.
“Kami tidak ingin kejadian Nias 2016 terulang kembali. Listrik adalah kebutuhan dasar, bukan komoditas spekulasi,” ujar saksi di hadapan majelis hakim.
Perspektif Politik dan Keamanan Nasional
Ketua Umum DPP SP PLN, M. Abrar Ali, menegaskan bahwa kelistrikan nasional tidak boleh dipandang semata sebagai urusan ekonomi dan investasi. Namun, listrik juga menyangkut hukum, karena merupakan amanat konstitusi. Selain itu, kelistrikan juga berkaitan dengan politik, karena menyangkut kedaulatan energi, serta keamanan nasional, karena berdampak langsung pada stabilitas sosial.
“Dominasi swasta dalam pembangkitan, jika tidak dikendalikan, berpotensi menempatkan negara hanya sebagai pembeli listrik, kehilangan kendali atas sistem kelistrikan nasional, dan membuka jalan bagi unbundling sektor kelistrikan,” ujarnya.
Skema Power Wheeling dan Gugatan
SP PLN menyoroti masuknya skema power wheeling ke dalam RUPTL 2025–2034 sebagai salah satu dasar utama gugatan. Skema ini dinilai membuka ruang besar bagi dominasi swasta dan berpotensi bertentangan dengan putusan Mahkamah Konstitusi yang menegaskan bahwa sistem ketenagalistrikan harus dikelola secara terintegrasi, mencakup pembangkitan, transmisi, distribusi, penjualan tenaga listrik dan tidak boleh dipisahkan (unbundling).
Sidang PTUN ini turut dihadiri oleh perwakilan DPD SP PLN dari seluruh Indonesia sebagai bentuk solidaritas nasional dan dukungan moral terhadap saksi yang memperjuangkan suara rakyat daerah terluar.
Harapan dan Langkah Berikutnya
SP PLN berharap, melalui gugatan ini, pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dapat meninjau ulang dan membatalkan RUPTL 2025–2034 agar tragedi pemadaman total seperti yang dialami masyarakat Nias pada tahun 2016 tidak kembali terulang di wilayah lain se-Indonesia.
Kuasa Hukum SP PLN, Dr. Redyanto Sidi Jambak, menyampaikan bahwa sidang selanjutnya akan menghadirkan para ahli seperti AHLI HAN Prof. Kamarullah, Pengamat Politik Ekonomi Indonesia Dr. Ichsanuddin Noorsy, dan Intelektual Publik Indonesia Rocky Gerung.
“Kita akan hadirkan para ahli pada persidangan berikutnya, ada Prof Kamarullah, Pak Ichsanuddin Noorsy dan Bung Rocky Gerung, Insyaallah,” tuturnya.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











