My WordPress Blog

Karena Seekor Ikan, Air Mata Ibu Ini Mengguncang Hati Banyak Orang

Kehidupan yang Diuji oleh Kelaparan

Di tengah kegembiraan tahun baru 2026, dunia maya kembali dihebohkan oleh sebuah gambar yang menyentuh hati. Seorang ibu muda berdiri dengan tali mengikat tangannya, seperti teroris, menjadi pusat perhatian di pasar Kalimantan. Bukan sorak-sorai yang ia terima, melainkan pandangan dingin dan jari telunjuk yang menuding.

Ibu ini tidak sedang mencuri uang atau barang berharga. Ia hanya mengambil satu ekor ikan. Satu ekor ikan yang harganya tidak seberapa, namun bagi dirinya, itu adalah pertaruhan antara harga diri dan hidup anaknya. Ikan itu bukan untuk dijual, bukan juga untuk dimakan sendiri. Ia mengambilnya karena anaknya menangis minta makan sejak pagi hari.

Dengan suara yang hampir habis oleh isak, ia berbisik, “Anak saya dari pagi menangis minta makan ikan…” Kata-kata sederhana ini bisa meruntuhkan gunung kesombongan. Di baliknya, tersimpan kenyataan pahit bahwa ia hidup sebatang kara. Tidak ada suami yang bisa ia andalkan, tidak ada tangan yang membantu memikul beban hidup yang semakin berat.

Ia rela dipermalukan, rela dianggap kotor, asalkan perut mungil anaknya tidak lagi perih karena lapar. Di titik ini kita tersadar, kemiskinan sering kali bukan soal kemalasan, melainkan perjuangan ekstrem untuk bertahan hidup satu hari lagi.

Kemanusiaan yang Hilang

Mencuri memang salah di mata hukum dan agama. Tidak ada yang bisa membenarkan tindakan mengambil milik orang lain, meski hanya seekor ikan. Namun, memperlakukan seorang ibu yang terdesak lapar seperti penjahat kelas kakap adalah bentuk ketidakmanusiawian yang lebih mengerikan.

Bukankah seekor harimau yang paling garang pun tidak akan tega memangsa anaknya sendiri? Lantas, di mana letak kemanusiaan kita jika kita lebih buas dari binatang saat menghadapi sesama yang malang?

Ironi ini terasa semakin tajam saat kita menoleh ke arah para koruptor. Mereka yang merampok uang rakyat dalam jumlah miliaran, yang merampas hak-hak jutaan orang seperti ibu ini, justru sering kali tetap bisa tersenyum lebar di balik layar kaca. Seharusnya merekalah yang diikat, merekalah yang dipajang di tengah lapangan terbuka dengan papan besar bertuliskan, “AKU MALING UANG RAKYAT”.

Negeri ini seolah terlalu sering “melupakan” rakyat kecilnya yang tertatih, sementara kasih sayang dan empati perlahan luntur dari sendi-sendi bangsa.

Belajar Menjadi Manusia

Belajar menjadi manusia ternyata jauh lebih sulit daripada sekadar mempelajari ilmu agama secara tekstual. Tanpa empati, agama hanya menjadi deretan aturan yang menghujat, bukan pelita yang merangkul.

Astagfirullah, lisan ini terasa kelu. Rasanya kita telah sampai pada zaman di mana manusia kehilangan rasa iba. Main hakim sendiri seolah menjadi hobi, sementara hukum di tanah air terus-menerus menunjukkan wajahnya yang tidak adil: tajam ke bawah, namun tumpul ke atas.

Kisah ibu ini adalah cermin retak bagi kita semua. Sebelum kita mengangkat batu untuk melempar kesalahan orang lain, lihatlah ke dalam hati: masihkah ada sisa kemanusiaan di sana, ataukah kita telah menjadi bagian dari kerumunan dingin yang tak lagi punya rasa?

Ternyata benar, menjadi ahli ilmu itu mungkin, tapi menjadi manusia seutuhnya adalah perjalanan batin yang paling terjal.

Erina Syifa

Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *