Peran dan Komitmen Aba Rawi dalam Membela Nilai Kemanusiaan
Ketua Umum DPP IKAMA, H. Mohammad Rawi atau yang akrab disapa Aba Rawi, menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga nilai-nilai kemanusiaan setelah kejadian pengusiran Nenek Elina di Surabaya. Ia secara tegas mengutuk aksi oknum yang tidak bertanggung jawab dan memperkuat pesan bahwa masyarakat Madura harus tetap menjaga etika serta moral dalam segala situasi.
Aba Rawi menekankan falsafah Madura “Bapak, Bebuk, Guru, Ratoh” sebagai pedoman utama dalam kehidupan sehari-hari. Falsafah ini mencerminkan rasa hormat terhadap orang tua, guru, dan nilai-nilai kearifan lokal. Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh pihak-pihak tertentu yang ingin memicu konflik.
Ia menyambut baik langkah tegas yang dilakukan Kapolda Jawa Timur dan Wali Kota Surabaya dalam menangkap pelaku pengusiran Nenek Elina. Menurutnya, tindakan tersebut akan memberikan efek jera bagi siapa pun yang berani melakukan tindakan serupa. Ia berharap kasus seperti ini tidak terulang lagi di masa depan.

Latar Belakang dan Perjalanan Karier Aba Rawi
H. Mohammad Rawi, atau lebih dikenal dengan nama Aba Rawi, adalah tokoh nasional yang juga menjabat sebagai Ketua Umum DPP Ikatan Keluarga Madura (IKAMA). Ia dikenal sebagai figur yang memiliki perjalanan hidup yang luar biasa, mulai dari bawah hingga mencapai posisi penting di masyarakat.
Sebelum menjadi tokoh masyarakat, Aba Rawi bekerja sebagai pengusaha besi tua di Jakarta. Dunia ini, yang penuh persaingan, menjadi awal kesuksesannya. Ia memulai perjalanan karier pada awal 1970-an ketika merantau ke ibu kota. Dengan ijazah Sekolah Dasar, ia harus bertahan hidup dengan berbagai pekerjaan sambilan.
Pada awalnya, ia bekerja sebagai tukang parkir di wilayah Jakarta. Pekerjaan ini dijalani dengan kesabaran untuk mendapatkan penghasilan harian. Selain itu, ia juga pernah berjualan sate keliling menggunakan gerobak. Keahlian meracik bumbu yang diwariskan oleh keluarganya menjadi modal utamanya dalam usaha kecil tersebut.
Selanjutnya, ia menjadi pengepul limbah seperti kardus, plastik, dan kayu di area perkantoran dan pabrik. Dari sinilah ia mulai mengenal dunia barang bekas. Minatnya terhadap bisnis ini semakin berkembang ketika ia melihat peluang di sektor besi tua. Perlahan, ia fokus pada jual-beli besi bekas.
Kesuksesan dalam Bisnis dan Kontribusi Sosial
Melalui ketekunan dan jaringan yang dibangunnya, usaha besi tua milik Aba Rawi berkembang pesat. Omzetnya mencapai miliaran rupiah. Ia pun dikenal sebagai pemasok limbah besi untuk berbagai perusahaan besar dan industri di kawasan Jabodetabek, termasuk di Cibitung dan Bekasi.
Kesuksesan ini membuatnya dijuluki sebagai “Raja Besi Tua”. Julukan ini bukan tanpa alasan, karena ia benar-benar menguasai jaringan bisnis besi bekas di Jakarta. Meski sukses sebagai pengusaha, Aba Rawi tidak melupakan akar sosialnya. Ia aktif dalam membangun komunitas dan organisasi warga Madura di perantauan.
Sebagai Ketua Umum DPP IKAMA, ia memimpin organisasi yang menjadi rumah besar bagi etnis Madura di berbagai daerah. IKAMA bukan sekadar paguyuban, melainkan organisasi yang terstruktur. Di bawah kepemimpinannya, IKAMA memiliki daya tawar sosial-politik yang diperhitungkan. Hal ini membuat IKAMA semakin dikenal di tingkat nasional.
Perhatian terhadap Kasus Nenek Elina
Kasus pengusiran Nenek Elina Wijayanti di Surabaya menjadi perhatian besar bagi Aba Rawi. Ia menyatakan bahwa semua pihak sepakat menghujat tindakan tersebut. Bahkan, beberapa negara seperti Jepang juga menelponnya untuk meminta bantuan. Namun, ia menyoroti bahwa kejadian serupa sudah sering terjadi di berbagai daerah, termasuk di Surabaya.
Ulah oknum yang mengatasnamakan Madas disebutnya memantik kekhawatiran. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi. Ia juga menegaskan bahwa kasus Nenek Elina bukanlah masalah antar etnis, tetapi lebih pada sikap yang tidak adil.
Dalam refleksi doa dan shalawat di pinggir akses Suramadu sisi Madura, Desa Morkepek, Kecamatan Labang, Bangkalan, Aba Rawi menyampaikan pesan-pesan penting. Ratusan warga dan santri hadir dalam acara tersebut. Mereka disambut lantunan pembacaan Al-Qur’an sejak malam hari.
Dalam kegiatan bertema “Evaluasi dan Komitmen IKAMA untuk Masa Depan Bangsa dan Negara”, Aba Rawi hadir bersama jajaran pengurus dan tokoh masyarakat. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Walikota Surabaya dan Kapolda Jatim atas tindakan tegas menangkap para pelaku. Ia berharap tindakan tegas kepolisian memberi efek jera. Masyarakat Madura diingatkan agar tidak mudah diajak kelompok tertentu melakukan pelanggaran hukum.
Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."











