Ayah dan Anak yang Tampil di Piala Dunia
Piala Dunia tidak hanya menjadi ajang kompetisi antar negara, tetapi juga menjadi momen penting bagi keluarga-keluarga sepak bola. Banyak ayah dan anak yang berhasil tampil di ajang bergengsi ini, menciptakan warisan olahraga yang terus berlanjut dari generasi ke generasi. Dari kisah-kisah legendaris hingga pemain muda yang sedang menapaki jalan mereka, berikut adalah daftar ayah dan anak yang pernah tampil di Piala Dunia.
1. Gregg dan Sebastian Berhalter (Amerika Serikat)
Gregg Berhalter, bek tengah yang pernah memperkuat Amerika Serikat di Piala Dunia 2002 dan 2006, memiliki putra yang juga berkiprah di sepak bola. Sebastian Berhalter, gelandang Vancouver Whitecaps, dipanggil oleh pelatih Mauricio Pochettino dan langsung mencetak gol dalam pertandingan melawan Uruguay.
2. Enrico dan Federico Chiesa (Italia)
Enrico Chiesa pernah tampil di Piala Dunia 1998, sementara Federico Chiesa menjadi bintang Euro 2020. Mereka menjadi ayah-anak pertama yang sama-sama mencetak gol di Piala Eropa.
3. Sergio dan Francisco Conceição (Portugal)
Sergio Conceição bermain di Piala Dunia 2002, sementara Francisco Conceição menjadi penentu kemenangan Portugal di EURO 2024. Tiga putra Sergio juga mengikuti jejak ayahnya sebagai pesepakbola profesional.
4. Lee Eul-yong dan Lee Tae-seok (Korea Selatan)
Lee Eul-yong mencetak gol indah di Piala Dunia 2002, sementara Lee Tae-seok tampil impresif bersama Austria Wien. Keduanya merupakan contoh ayah dan anak yang berkontribusi dalam sepak bola Korea Selatan.
5. Bryan dan Angus Gunn (Skotlandia)
Bryan Gunn pernah menjadi cadangan di Piala Dunia 1990, sedangkan Angus Gunn menjadi kiper utama Skotlandia sejak 2023. Meski belum ada cap dalam penampilan resmi, ia terus berjuang untuk masuk skuad.
6. Alf-Inge dan Erling Haaland (Norwegia)
Alf-Inge Haaland pernah bermain di Piala Dunia, sementara Erling Haaland menjadi striker paling mematikan saat ini. Ia juga menjadi pemain tercepat yang mencapai 50 gol internasional dalam sejarah.
7. Gheorghe dan Ianis Hagi (Rumania)
Gheorghe Hagi adalah legenda Rumania yang bermain di Piala Dunia 1994, sementara Ianis Hagi menjadi andalan generasi baru Rumania. Keduanya membuktikan bahwa sepak bola bisa menjadi warisan keluarga.
8. Jürgen dan Jonathan Klinsmann (Jerman / AS)
Jürgen Klinsmann adalah legenda Jerman yang juara dunia pada 1990, sedangkan Jonathan Klinsmann kini berusaha masuk skuad AS. Meski belum banyak cap, ia memiliki potensi besar.
9. Patrick dan Justin Kluivert (Belanda)
Patrick Kluivert menjadi pahlawan Belanda di Piala Dunia 1998, sementara Justin Kluivert menjadi bagian penting skuad Belanda saat ini. Keduanya menunjukkan bahwa bakat sepak bola bisa diwariskan.
10. Henrik dan Jordan Larsson (Swedia)
Henrik Larsson adalah legenda Swedia dengan tiga kali tampil di Piala Dunia, sementara Jordan Larsson kembali ke timnas setelah lama absen. Mereka membuktikan bahwa pengalaman ayah bisa menjadi inspirasi bagi anak.
11. Onandi dan Damion Lowe (Jamaika)
Onandi Lowe pernah tampil di Piala Dunia, sedangkan Damion Lowe menjadi pilar lini belakang Jamaika. Keduanya menjadi contoh ayah dan anak yang berkontribusi pada sepak bola Jamaika.
12. Paolo dan Daniel Maldini (Italia)
Paolo Maldini adalah salah satu bek terbaik sepanjang masa, sementara Daniel Maldini masih mencari tempat reguler di level klub. Mereka membuktikan bahwa warisan sepak bola bisa sangat kuat.
13. Olof dan John Mellberg (Swedia)
Olof Mellberg pernah bermain di dua Piala Dunia, sementara John Mellberg masih berusia 19 tahun dan memiliki potensi besar. Keduanya menunjukkan bahwa bakat bisa berkembang dari generasi ke generasi.
14. Diego dan Giuliano Simeone (Argentina)
Diego Simeone pernah bermain di tiga Piala Dunia, sementara Giuliano Simeone menjadi pemain penting Argentina era baru. Mereka membuktikan bahwa sepak bola bisa menjadi ikatan keluarga.
15. Erik dan Kristian Thorstvedt (Norwegia)
Erik Thorstvedt pernah tampil di Piala Dunia, sementara Kristian Thorstvedt menjadi pilar lini tengah Norwegia. Keduanya menunjukkan bahwa pengalaman ayah bisa menjadi bekal bagi anak.
16. Lilian dan Khéphren Thuram (Prancis)
Lilian Thuram adalah pahlawan final 1998, sementara Khéphren Thuram mulai menapaki jalur ayahnya. Keduanya menjadi contoh ayah dan anak yang berkontribusi dalam sepak bola Prancis.
17. Sven dan Romeo Vermant (Belgia)
Sven Vermant pernah tampil di Piala Dunia, sementara Romeo Vermant adalah generasi keempat keluarga Vermant di Club Brugge. Mereka menunjukkan bahwa sepak bola bisa menjadi warisan keluarga.
18. Zinedine dan Luca Zidane (Prancis / Aljazair)
Zinedine Zidane adalah ikon sepak bola dunia, sementara Luca Zidane kini membela Aljazair setelah berganti kewarganegaraan. Keduanya membuktikan bahwa bakat sepak bola bisa melampaui batas negara.
Piala Dunia bukan sekadar soal negara, tapi juga warisan keluarga. Dari Maldini hingga Haaland, dari Zidane hingga Simeone, sepak bola menjadi ikatan lintas generasi yang terus hidup.
Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."











