Sejarah dan Keunikan Pembangkit Listrik Tenaga Air Renun
Desa Silalahi, yang dulu dikenal sebagai daerah miskin di sekitar Danau Toba, kini telah berubah menjadi tempat yang penuh dengan kekayaan. Salah satu buktinya adalah adanya Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Renun yang berdiri megah di ujung desa tersebut. PLTA ini memiliki kapasitas 80 MW, yang cukup besar untuk ukuran Indonesia. Namun, kekayaan yang dimaksud tidak hanya terletak pada jumlah listrik yang dihasilkan, tetapi juga pada kontribusi teknologi sipil yang digunakan dalam pelestarian alam Danau Toba.
Saya mengunjungi PLTA Renun beberapa waktu lalu, dan meskipun sudah mengetahui cerita uniknya, baru kali ini saya melihat langsung. PLTA Renun bukanlah pembangkit biasa – ia termasuk langka di dunia. Ceritanya bermula dari fakta bahwa Danau Toba ibarat sebuah mangkuk yang memiliki bagian timur yang “cuil” atau cekung. Akibatnya, air di bagian timur tumpah dan membentuk air terjun Sigura-gura, yang kemudian mengalir ke Sungai Asahan.
Pada tahun 1970-an, Jepang membangun PLTA besar di Sigura-gura dengan kapasitas 600 MW. Listrik yang dihasilkan sepenuhnya digunakan untuk menghidupkan pabrik peleburan aluminium milik Jepang di Kuala Tanjung, dekat muara Sungai Asahan. Tidak ada satu pun watt listrik yang dialokasikan untuk masyarakat sekitar Danau Toba.
Ketika terjadi krisis listrik di Sumut, saya sangat iri melihat pasokan listrik yang melimpah dari PLTA Sigura-gura. Beberapa tahun setelah krisis itu, pabrik peleburan aluminium milik Jepang tersebut akhirnya menjadi 100 persen milik Indonesia, termasuk PLTA Sigura-gura.
Jepang sangat tertarik menjaga volume air Danau Toba karena takut jika air berkurang akibat penggundulan hutan atau pendangkalan. Mereka takut hal ini akan mengganggu operasi pabrik peleburan aluminium mereka. Untuk itu, Jepang melakukan penelitian intensif untuk menemukan cara terbaik dalam menjaga ketersediaan air Danau Toba. Penelitian ini dilakukan oleh perusahaan konsultan Nippon Koi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagian barat Danau Toba berupa pegunungan tinggi dengan ketinggian 1.600 meter, sedangkan bagian timur yang “cuil” berada pada ketinggian 1.000 meter. Di wilayah Kabupaten Dairi, beberapa sungai kecil mengalir ke arah Karo dan Aceh Singkil, akhirnya terbuang ke laut selatan. Air dari sungai-sungai ini dibendung dan dipaksa mengalir ke “sungai” buatan sepanjang 11 km. Sembilan atau 11 sungai kecil lainnya juga dipaksa menyatu ke sungai buatan tersebut.
Kontur alam Dairi membuat air sungai mengalir ke barat, menjauhi Danau Toba. Sungai buatan ini dibuat menurun ke timur, mengarah ke Danau Toba. Sungai buatan ini tidak terlihat dari luar, karena berupa terowongan di bawah gunung batu. Terowongan ini begitu besar sehingga bisa dimasuki truk besar.
Di dekat Desa Silalahi, terowongan sungai buatan itu dibuat lubang ke bawah sedalam 100 meter, melubangi gunung batu. Proses pembuatan terowongan sepanjang 11 km dan lubang sedalam 100 meter ini sangat sulit dan mahal.
Air dari 11 sungai kecil ini dikumpulkan sebanyak 10 m³/menit, lalu diterjunkan ke lubang 100 meter tersebut. Hasilnya adalah air terjun buatan yang tidak terlihat dari luar. Semua proses terjadi di dalam perut gunung batu Dairi.
Air terjun ini disambut oleh dua turbin yang berputar cepat, menggerakkan generator dan menghasilkan listrik. Jika aliran air dari sungai-sungai kecil itu tidak dipaksa balik arah, air itu akan masuk ke Sungai Renun dan terbuang ke Samudera Hindia.
Tujuan utama dari pemindahan aliran air ini bukan untuk menghasilkan listrik, tetapi untuk menjaga volume air Danau Toba. Air 10 m³/detik ini, setelah memutar turbin, dibuang kembali ke Danau Toba, mengisi dan menjaganya.
Ide ini datang dari konsultan ternama Jepang, Nippon Koi. Perusahaan ini paling paham tentang peta sumber air di seluruh Indonesia. Bahkan, data yang tidak diketahui orang lokal pun diketahui oleh Nippon Koi.
PLTA Renun bukanlah PLTA biasa. Bupati Dairi saat ini, Vicker Sinaga, mantan salah satu direktur PLN, tahu persis soal ini. Ia bahkan berjuang agar Renun masuk dalam warisan UNESCO.
Dairi yang dulu miskin kini telah banyak menyumbang negara kaya. Kebutuhan listrik seluruh Dairi sendiri saat ini hanya 50 MW, sedangkan Renun saja menghasilkan 80 MW. PLTA Renun sudah berusia lebih dari 50 tahun dan siap merayakan ulang tahun emasnya. Investasi yang dikeluarkan pasti sudah kembali berkali-kali.
Jika ada yang kasihan melihat kemiskinan Dairi, PLTA ini pasti sudah disedekahkan ke Dairi, lalu menjadi sumber dana untuk mengurangi kemiskinan di sana – jika mau.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











