Kabupaten Tasikmalaya, Daerah Rawan Bencana dengan Relawan yang Tak Pernah Berhenti
Kabupaten Tasikmalaya memiliki 39 kecamatan dan 351 desa. Daerah ini dikenal sebagai wilayah yang rentan terhadap bencana alam. Hal ini disebabkan oleh topografi yang sangat sensitif terhadap berbagai jenis bencana seperti longsor, banjir, dan pergerakan tanah. Setiap kali terjadi bencana di kawasan ini, tidak hanya lembaga pemerintah yang sibuk menangani situasi, tetapi juga ada sebuah lembaga relawan non-pemerintah yang aktif dalam penanganan bencana.
Salah satu lembaga tersebut adalah Taruna Siaga Bencana (Tagana). Tagana merupakan organisasi relawan sosial yang lahir dari masyarakat yang peduli terhadap bencana, khususnya dalam bidang perlindungan sosial. Tagana dibentuk oleh Kementerian Sosial dan terlibat dalam berbagai kegiatan mulai dari pra-bencana, tanggap darurat hingga pasca-bencana. Mereka bekerja secara sukarela tanpa gaji tetap, membantu korban bencana di seluruh Indonesia.
Dedikasi yang Tidak Kaleng-Kaleng
Dalam setiap peristiwa bencana di Kabupaten Tasikmalaya, sosok Jembar Adisetya sering muncul menjadi figur penting. Ia adalah seorang pria muda berusia 39 tahun yang bertubuh kekar dan ramah. Saat ini, ia menjabat sebagai Ketua Forum Komunikasi (FK) Tagana Kabupaten Tasikmalaya. Selain itu, Jembar juga aktif dalam membentuk Kampung Siaga Bencana (KSB) di daerah-daerah yang rawan bencana.
Dalam setiap bencana yang terjadi di berbagai wilayah Kabupaten Tasikmalaya, Jembar selalu hadir sebagai sosok sentral dalam penanganannya. Sebagai Ketua Tagana, Jembar bukan hanya sekadar pemimpin administratif, tapi juga komandan lapangan yang sering tiba lebih dulu daripada bantuan resmi.
“Alhamdulillah, tahun ini saya tepat 15 tahun bergabung dengan Tagana. Saya mulai masuk Tagana pada tahun 2010 dan saya bukan PNS atau ASN bahkan bukan juga PPPK, tapi relawan,” tulis Jembar dalam pesan elektroniknya.
Dedikasi dan pengabdian Jembar tidak diragukan lagi. Ia telah bertahan selama 15 tahun sebagai relawan tanpa gaji tetap bulanan seperti pegawai negeri. Ini adalah bentuk pengorbanan yang jarang ditemui di era modern saat ini. Jembar telah membuktikan bahwa kapasitas dan otoritas di lapangan tidak ditentukan oleh SK Kepegawaian, tetapi oleh kepercayaan masyarakat dan penguasaan medan.
Bantuan ke Aceh: Pengalaman yang Menyentuh Hati
Baru-baru ini, Jembar bersama lima anggota Tagana Kabupaten Tasikmalaya berangkat ke Aceh untuk membantu para korban bencana banjir. Mereka bergabung dengan Tim Tagana Jawa Barat yang jumlah personilnya mencapai 23 orang. Mereka ditempatkan di Kabupaten Pidie Jaya dan Kabupaten Bireuen untuk membantu Tagana lokal di sana.
Selama sekitar 22 hari, tim ini menyediakan layanan dapur umum untuk para penyintas dengan kisaran 4 hingga 6 ribu porsi setiap hari. Rombongan ini berangkat melalui jalur udara dari Bandara Sukarno Hatta menuju Bandara Sultan Iskandar Muda Aceh. Dari sana, mereka disebar ke lokasi yang telah ditentukan menggunakan travel.
Misi ini terus berlanjut dengan bergilirnya personil ke berbagai daerah seperti Jawa Timur, Kaltim, dan Gorontalo.
Kembali ke Tasikmalaya, Persiapan untuk Musim Hujan
Setelah kembali ke habitatnya, yakni Kabupaten Tasikmalaya, Jembar memahami betul daerah-daerah yang rawan bencana di kawasan ini. Untuk itu, ia siap kembali berkonsentrasi ke wilayahnya mengingat musim hujan masih berlangsung dan sesuai dengan arahan BMKG serta Pemprov Jabar.
Jembar kini tengah bersiap-siap menyusun schedule pemantauan di 13 titik daerah rawan bencana. Ke-13 daerah tersebut antara lain:
- Kecamatan Salawu
- Kecamatan Cigalontang
- Kecamatan Parung Ponteng
- Kecamatan Bojong Gambir
- Kecamatan Taraju
- Kecamatan Sodong Hilir
- Kecamatan Sukaresik
- Kecamatan Ciawi
- Kecamatan Pageurageung
- Kecamatan Kadipaten
- Kecamatan Salopa
- Kecamatan Cikatomas
- Kecamatan Jatiwaras


Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











