Masa Bulan Madu yang Indah dan Penuh Harapan
Saya sangat senang melihat kebahagiaan pasangan pengantin baru. Mereka selalu berdua, seperti perangko yang menempel pada amplop. Kompak dan terlihat mesra di setiap kesempatan. Suami dan istri saling memperhatikan, gerak-geriknya selalu dalam pengawasan satu sama lain. Mereka saling mengimbangi, siap mengalah demi belahan jiwa yang dicintai.
Saya juga turut bahagia karena dulu pernah merasakan hal yang sama. Diperlakukan dengan baik oleh pasangan, menjadi prioritas utama. Merasa menjadi orang paling bahagia dan beruntung. Namun, akhirnya semua memiliki masa. Begitu pula dengan masa bulan madu yang tidak akan berlangsung selamanya. Di media sosial, istilah “semua akan pret pada waktunya” sedang marak. Lucu juga, hehehe.
Realita Kehidupan Perkawinan
Semakin bertambah usia pernikahan, pasangan akan dihadapkan pada realita kehidupan. Tagihan bulanan harus dibayar, beras, minyak, gula, susu anak harus dibeli. Anak semakin besar, biaya pendidikan semakin mahal. Secara alami, perilaku pasangan akan berubah, lebih serius. Suami akan menghadapi kenyataan sehari-hari, berjuang memenuhi kebutuhan keluarga. Ada kalanya pasangan mengalami kenyataan pahit.
Itulah sunnatullah, membuka rahasia bagi pelakunya. Kesetiaan, kesabaran, keteguhan dalam menjaga janji suami istri akan diuji. Percikan api emosi muncul, gesekan sangat mungkin terjadi. Tidak ada pilihan selain bertahan, sebesar apa pun badai yang menghadang. Karena kehidupan dalam pernikahan itu mulia adanya.
Pernikahan sebagai Medan Juang
Pernikahan ibarat medan juang, yang menjadi ladang pahala tak berkesudahan. Sudah seharusnya suami istri belajar dan terus mengelola ego demi kebersamaan dengan pasangan. Ada banyak alasan mengapa suami istri tetap bersama.
Masa-Masa Awal Perkawinan
Bagi kompasianer yang sudah lama menikah pasti pernah merasakan masa-masa indah awal perkawinan. Manisnya seperti madu. Suami istri saling mengisi, memaklumi kesalahan, mengedepankan sikap mengalah. Saya pernah melihat tukang genteng yang bekerja di rumah saya. Dia masih pengantin baru, membawa istrinya ikut menemani. Saya dan istri tersenyum melihat kemesraan mereka dari gesture dan ucapan.
Karena pernah mengalami, kami tidak mengganggu apalagi mengusik. Yang penting pekerjaan selesai, genteng tidak bocor lagi. Satu atau dua tahun menikah adalah masa indah sekaligus awal perjuangan. Saya dulu mencari kontrakan, kemudian membeli perabot rumah tangga. Untuk barang elektronik, kami menabung agar bisa membelinya. Sungguh penuh effort, tapi seru untuk dijalani dengan senang hati.
Fase Kehamilan dan Kelahiran Anak
Bagi yang rejeki keturunan cepat, biasanya tidak genap setahun menikah istri telat menstruasi. Bahagia suami makin menjadi-jadi, bekerja semakin giat untuk belanja susu ibu hamil. Perhatian suami bertambah-tambah, janin di rahim menjadi tumpuan kebahagiaan. Setiap bulan tak sabar ke dokter, menunggu USG melihat kondisi calon bayi. Masa kelahiran suami mendampingi, bahagia semakin lengkap dengan hadirnya buah hati.
Kelahiran buah hati menjadi fase yang mengajarkan kerjasama. Suami istri gantian melek malam karena anak ingin digendong terus. Apalagi jika balita sedang sakit, kita orangtua merasakan kesakitan itu. Pada fase ini, rasa sayang suami istri dibentuk dan diuji. Sayang orangtua pada anak juga dibangun habis-habisan. Saya rela melakukan apa saja asalkan anak dan istri sehat dan baik-baik saja.
Alasan untuk Tetap Bersama
Selama apapun kebersamaan, suami istri tetap dua pribadi berbeda. Meski setiap hari bertemu, karakter dasar tidak hilang. Namun manusia istimewa, diberi kemampuan beradaptasi. Ketika ribuan pasangan terjadi masalah, jangan terlalu dibesar-besarkan. Selama masalah remeh temeh bisa ditoleransi, sebaiknya berbaikan demi anak-anak. Mengingat masa-masa pernah dialami, terutama saat sedang terpuruk bersama.
Mengingat awal menyewa sampai akhirnya punya rumah sendiri, dari hanya berdua sampai punya anak yang lucu-lucu. Dari tidak punya apa-apa, membeli satu persatu barang rumah tangga. Melihat anak bertumbuh dari waktu ke waktu, sampai besar dan mandiri. Haqul yaqin, pasti banyak tantangan di setiap fase. Pasti banyak tangis dan air mata, tentu juga ada senyum bahagia.
Namun dengan berkilas balik, suami istri akan merasakan kekompakan bersama. Meyakini betapa setiap masalah selalu membukakan jalan keluar. Betapa setiap masalah, tidak ada maksud kehidupan kecuali untuk menguatkan.
Kenangan yang Membuat Haru
Kompasianer yang usia pernikahannya sudah panjang, memutar ulang mengingat kejadian pernah dialami. Mustahil tidak menumbuhkan perasaan haru. Mengingat saat istri hamil dan ngidam, ingat suasana menjelang kelahiran. Suami membersamai di ruang persalinan, melihat pengorbanan istri yang besar. Niscaya kerasnya hati terlelehkan, berubah menjadi rasa sayang.
Membayangkan saat anak digendong, belajar tengkurap, berdiri, merangkak, berjalan, berlari. Mengajak anak ke taman, membawa bekal sendiri agar hemat. Bahwa kalaupun pernah ada konflik, itu sangat lumrah dan wajar. Dua kepala dengan isi yang berbeda. Justru konflik bisa menjadi bumbu, asalkan kadarnya pas tidak berlebihan.
Semua yang pernah dan telah dialami membuat suami istri semakin merapatkan gandeng tangan. Karena beratnya masa-masa itu, nyatanya bisa melanggengkan hubungan. Ya, sebenarnya ada banyak alasan suami istri untuk tetap bersama. Semoga bermanfaat.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











