Perjalanan Hidup dan Warisan Almarhum H Muh Tonang
Almarhum H Muh Tonang (wafat 19/12/2024) adalah tokoh yang sangat dihormati dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Ia dikenal sebagai tokoh yang visioner, berwibawa, dan kharismatik. Kepergiannya meninggalkan jejak yang kuat bagi kader-kadernya, terutama di kalangan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Gerakan Pemuda Ansor Sulawesi Selatan.
Salah satu amanah terakhir almarhum sebelum menghadap sang Ilahi adalah sebagai Sekretaris NU Sulawesi Selatan serta jabatan-jabatan lain dalam bidang amal jariah. Warisan perjuangan almarhum terus mengalir kuat ke generasi muda NU, sehingga para aktivitas banom NU ini menyelenggarakan hajatan haul untuk mengenang wafatnya almarhum.
Sahabat PW GP Ansor Sulawesi Selatan telah mengagendakan haul setahun kepergian almarhum dengan acara ziarah makam dan tahlilan. Pada hari Sabtu, 20 Desember 2025, pukul 10.00 WITA, kader-kader PMII dan Ansor akan menziarahi makam almarhum di Kompleks Pemakaman Darussalam Valey, Bontomarannu, Gowa. Esok malam, pada pukul 19.30 WITA, di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Imam Ashim Makassar (PPTQ Imam Ashim), akan diadakan tahlilan untuk mendoakan dan mengenang jasa-jasa H Muh Tonang. Acara ini dipimpin langsung oleh H Rusdi Idrus, Ketua PW GP Ansor Sulawesi Selatan.
Almarhum juga merupakan Ketua Dewan Penasehat GP Ansor Sulawesi Selatan. Rusdi Idrus, salah satu kader terbaiknya, tidak ingin melepas begitu saja kepergian almarhum. Oleh karena itu, selain mengagendakan haul setahun atas wafatnya, ia juga menjadwalkan haul tahun-tahun berikutnya sebagai tanda mahabbah dan kecintaan kader terhadap seniornya.
Selama hidupnya, almarhum selalu menitip pesan kepada sahabatnya, Mahmud Suyuti, untuk memperhatikan adik-adik kader dan menasehati mereka. Suatu waktu, karena sangat terpaksa, almarhum sempat marah, tetapi kemarahannya itu dalam bentuk nasehat yang dititipkan ke sahabatnya untuk Rusdi, salah satu junior kesayangannya.
Mahmud Suyuti dan almarhum bersahabat sejak awal tahun 1993. Selama 32 tahun keduanya selalu bersama. Menurut Mahmud Suyuti, almarhum tidak pernah sekalipun membicarakan kejelekan seseorang. Jika ada kesalahan yang dilakukan kader-kadernya seperti Rusdi dan yang lainnya, almarhum mengamanahkan ke sahabatnya itu untuk menasehati mereka.
Sebagai Wakil Ketua Dewan Penasehat GP Ansor Sulawesi Selatan, Mahmud Suyuti tidak bisa dan tidak mau menggantikan almarhum sebagai ketua Dewan Penasehat. Namun, ia tetap berada di posisi saat ini. Jika suatu waktu ia menasehati kader-kader Ansor atau bahkan memarahi mereka, maka yakinlah bahwa itu adalah pesan dan amanah almarhum yang diwakilkan kepadanya.
Kisah Perjalanan Hidup
H Muh Tonang lahir di Sanrego, Kabupaten Bone, pada tanggal 14 September 1974. Setelah tamat Sekolah Dasar 298 di kampungnya tahun 1987, ia hijrah nyantri di Ma’had Hadis Biru Kabupaten Bone dan lulus pada tahun 1990. Selanjutnya, ia melanjutkan kuliah di IAIN (UIN) Alauddin Makassar dengan jurusan Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin, lulus pada tahun 1998. Ia melanjutkan studi magister pada institusi yang sama dan lulus pada tahun 2001.
Selama masa kuliah S2, ia diberi amanah untuk menjadi Sekretaris Korcab PMII Sulawesi Selatan. Pada tahun 2007, ia menjadi Pengurus Harian PW GP Ansor Sulawesi Selatan dan terpilih menjadi Ketua Wilayah pada tahun 2012 di Banom NU tersebut. Selain itu, ia juga menjadi Dewan Pembina PW MATAN Sulawesi Selatan, hingga akhirnya menjadi Ketua Dewan Penasehat GP Ansor Sulawesi Selatan dan salah satu unsur Ketua di Jam’iyah Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassari.
Pada tanggal 28 Oktober 2024, almarhum dilantik sebagai Sekretaris Tanfidziyah PWNU Sulawesi Selatan. Dengan posisi tersebut, ia merancang rencana strategi penguatan jamaah dan jamiyah. Jabatan formal almarhum sebagai Kakanwil Kementerian Agama (Kemenag) Sulawesi Selatan, sejak 24 Februari 2024, meskipun singkat, namun memberikan banyak darmabakti terbaiknya terhadap umat.
Sebagai Kakanwil Kemenag, almarhum menata bagaimana masjid yang ramah lingkungan, masjid ramah lansia dan anak-anak, serta langkah-langkah yang diambil untuk mewujudkannya. Salah satu rekomendasi penting almarhum terhadap bawahannya adalah agar setiap masjid dipastikan layak untuk aksesibilitas yang baik. Tempat duduk yang nyaman, kursi roda, toilet khusus lansia, dan akses yang mudah menjadi prioritasnya.
Pada bagian terakhir tulisannya, almarhum menulis sebuah disertasi yang dalam kata pengantarnya membuat catatan khusus dan ungkapan kekaguman disertai doa terhadap kedua orang tuanya, ayahanda almarhum Yuna Jafar dan ibunda almarhumah Hj Indo Tang. Mereka telah menghabiskan waktu mengasuh almarhum selama hidupnya.
Tidak ketinggalan, almarhum juga mengulas tentang istrinya tercinta, Nurlina Anas, yang senantiasa tulus, ikhlas, tabah, dan sabar mendampinginya baik dalam suka maupun duka, mengayomi anak-anak tersayang, ananda Zahra Nur Ramadhani, Ziyad Ahmadan Ansory, dan Zaydan Ahmad Syahbani. Merekalah yang senantiasa memberikan nuansa kebahagiaan sakinah mawaddah dalam keluarga penulis.
Kini, sahabat Ansor, PMII, dan kader-kader NU menjadi bagian penerus amal jariah almarhum. Bagi generasi muda nahdliyin, kepergian almarhum terasa begitu cepat, semua kenangan dan jasa terbaik sulit terlupakan darinya. Segala tauladan pada kebaikan almarhum selama hidupnya menjadi uswatun hasanah dan semoga mendapatkan tempat terindah di sisi-Nya, amin, amin, amin ya Rabbal Alamin.











