Kehidupan di Hunian Sementara (Huntara) Kelurahan Kapalo Koto
Di tengah suasana yang masih penuh dengan duka, warga Kelurahan Kapalo Koto, Kota Padang, menunjukkan kekuatan dan kebersamaan mereka. Setelah dihantam banjir bandang, sekitar 20 hari lalu, mereka kini tinggal di hunian sementara (huntara). Meski kondisi tidak sempurna, kehidupan di sana terasa hangat dan penuh makna.
Tradisi Mandoa sebagai Bentuk Harapan
Di balik dinding asbes dan lantai papan huntara, warga menggelar acara Mandoa—sebuah tradisi memanjatkan doa kepada Tuhan agar selalu diberi keselamatan. Acara ini menjadi momen penting bagi masyarakat untuk saling berbagi dan merawat semangat kebersamaan.
Warga berbagi peran dalam mempersiapkan hidangan untuk acara tersebut. Ada yang menanak nasi, menggoreng ikan, dan ada pula yang tekun mengaduk gulai agar matang merata. Di satu sudut, Weri sibuk di depan kuali besar, mengaduk gulai dengan penuh perhatian. Menurutnya, Mandoa hanya diikuti oleh penghuni huntara, tanpa undangan keluar, kecuali pemuka agama yang memimpin doa.
Sekitar 40 orang akan berkumpul malam ini dalam satu ruang, menyatukan harap yang sama. “Kami masak bersama untuk Mandoa malam ini,” ujar Weri singkat, sembari memastikan bumbu tercampur rata.
Kebersamaan dalam Masakan
Di sudut lain bangunan, Asna duduk di kursi plastik, menggoreng sala lauak. Satu per satu gorengan ditiriskan hingga wadah di samping kirinya penuh. Bagi Asna, masakan itu bukan sekadar hidangan. Di baliknya ada doa agar mereka diberi keselamatan selama tinggal di huntara dan dijauhkan dari bencana.
Kebersamaan itu terasa semakin lengkap ketika anak-anak berlarian di atas lantai papan. Mereka bermain mobil-mobilan, tertawa, dan saling memanggil nama. Huntara dengan rangka kayu dan dinding triplek itu menjadi arena kecil tempat mereka melupakan sejenak apa yang telah terjadi.
Kondisi Huntara dan Lokasi
Huntara yang dibangun oleh pemerintah memiliki struktur sederhana, terdiri dari kayu dan papan lapis alias triplek. Satu bangunan terdiri dari lima kamar, dengan tiang dari balok kayu dan lantai dari papan. Meskipun jauh dari kata nyaman, huntara ini jauh lebih layak ditinggali dari tenda pengungsian.
Sampai sekarang, total yang tinggal di huntara tersebut berjumlah 10 kartu keluarga. Lokasi huntara hanya beberapa meter dari aliran banjir bandang, namun lebih aman dengan posisi mengarah ke arah perbukitan.
Untuk menuju ke lokasi huntara, bisa mengikuti jalan kecil beraspal sebelum jembatan antara perbatasan Kelurahan Kapalo Koto dengan Kelurahan Lambung Bukit di kawasan Batu Busuak. Dari simpang jalan tersebut, sekitar 3 menit sudah sampai di lokasi huntara.

Pengalaman Tinggal di Huntara
Endra Wati, salah satu warga yang tinggal di sana, mengaku sudah tinggal di sana seminggu setelah banjir bandang pada Kamis (27/11/2025) lalu. Ia menjelaskan, dua huntara yang dibangun terdapat sebanyak 10 kamar, dengan lima kamar masing-masing. “Ada 10 kartu keluarga juga yang tinggal di sini, dan ada 10 kamar,” jelasnya.
Ia mengaku di huntara ia bisa merasakan kebersamaan dengan warga atau korban bencana lainnya. Mulai dari tidur, makan, berkegiatan dan hal lainnya secara bersama. “Di sini lain juga enaknya, makan sama-sama dan tidur sama-sama,” ujarnya sembari tersenyum.
Asna juga mengungkapkan hal yang sama. Ia sudah tinggal di sana selama 20 hari pasca bencana. Meski begitu, ia merasa senang dan nyaman tinggal di huntara, karena bisa bersama-sama dengan keluarga serta masyarakat lainnya.
Harapan untuk Hunian Tetap
Meski nyaman tinggal di huntara, Asna berharap bisa mendapatkan hunian tetap oleh pemerintah. “Tentunya ingin berharap adanya rumah tetap, ngak mungkin tinggal di sini selamanya,” tuturnya.
Pantauan di lapangan sekira pukul 16:01 WIB, masyarakat yang menghuni huntara tampak memasak dan ada yang duduk-duduk bersama. Mereka menyambut dengan ramah dan mempersilahkan memasuki huntara. Sembari menyiapkan makanan, mereka juga terbuka saat dimintai keterangan, mulai dari Endra Wati, Asna dan masyarakat lainnya.
Anak-anak di sana juga terlihat bahagia, meski di tengah kondisi bencana, mereka terlihat bermain mobil-mobilan bersama teman sepantarannya.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











