Penundaan Peresmian RDMP Balikpapan dan Reaksi Masyarakat
Pada 17 Desember 2025, rencana peresmian proyek strategis nasional Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan oleh Presiden Prabowo Subianto mengalami penundaan. Kedatangan presiden yang sebelumnya dijadwalkan untuk acara tersebut belum dipastikan karena masih dalam proses sinkronisasi dan pengujian sistem Pertamina. Proyek ini merupakan salah satu investasi terbesar BUMN dengan nilai sebesar USD 7,4 miliar atau setara Rp 126 triliun.
Proyek RDMP Balikpapan diharapkan dapat memenuhi antara 22 hingga 25 persen kebutuhan BBM nasional serta mengurangi ketergantungan impor hingga 60 persen untuk Pertalite. Dengan kapasitas produksi yang besar, kilang ini akan menjadi pusat utama dalam memenuhi permintaan bahan bakar minyak dalam negeri.
Kilang Balikpapan juga akan mampu menghasilkan BBM Euro V serta residu yang dapat digunakan sebagai bahan baku industri petrokimia. Hal ini akan mendukung pengembangan industri lokal dan meningkatkan efisiensi produksi nasional.
Reaksi Warga atas Penundaan
Penundaan kedatangan Presiden Prabowo Subianto ke Balikpapan menuai berbagai reaksi dari warganet. Di media sosial, seperti akun Instagram @balikpapanfolks, banyak warga yang justru bersyukur atas penundaan tersebut. Beberapa komentar menunjukkan rasa terima kasih kepada Presiden Prabowo atas perhatiannya terhadap daerah.
“Makasih pak @prabowo jalannya jadi tidak bolong lagi karena agenda bapak ke sini, sering-sering agendakan ke Balikpapan pak biar semua fasilitasnya mendadak mendapatkan perbaikan,” tulis salah satu warganet. Selain itu, banyak warga yang menyampaikan bahwa jalan-jalan utama di Balikpapan mulai lebih mulus.
Proses Pengujian dan Sinkronisasi
Menurut Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung, agenda peresmian RDMP Balikpapan yang awalnya direncanakan pada pertengahan Desember 2025 hingga kini belum dapat dipastikan waktunya. “Masih perlu sinkronisasi dan pengujian antar sistem di RDMP,” ujar Yuliot, Senin (15/12/2025).
Hasil pengujian teknis yang tengah dilakukan oleh Pertamina akan menjadi faktor utama dalam menentukan kesiapan kilang, baik untuk peresmian maupun untuk memasuki tahap operasi komersial. Pemerintah masih menunggu hasil uji coba tersebut sebelum menetapkan jadwal peresmian yang baru.
Kebutuhan BBM Nasional dan Upaya Mengurangi Impor
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan Pertalite nasional. Dari total kebutuhan sekitar 39 juta kiloliter per tahun, sebanyak 60 persen masih dipasok dari luar negeri. Ketergantungan ini menunjukkan bahwa kapasitas kilang domestik belum sepenuhnya mampu mengikuti tingginya konsumsi BBM masyarakat.
Untuk mengurangi ketergantungan impor, pemerintah kini berupaya menekan impor dengan meningkatkan efisiensi dan kapasitas produksi kilang dalam negeri. Salah satu langkah strategis yang tengah dikejar adalah penyelesaian proyek Refinery Development Master Plan (RDMP), termasuk RDMP Balikpapan yang dijadwalkan mulai beroperasi pada Desember 2025.
Persiapan Stok BBM untuk Nataru
Selain itu, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung juga memastikan bahwa stok bahan bakar minyak (BBM) pada Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 akan ditingkatkan. Ketahanan stok yang biasanya berada pada level 23 hari akan ditingkatkan menjadi 27 hari.
Peningkatan tersebut dilakukan karena momen Nataru tahun ini berdekatan dengan sejumlah hari besar keagamaan seperti Imlek, Ramadan, dan Lebaran. “Kita juga harus memastikan bahwa stok BBM di dalam negeri tersedia cukup untuk kebutuhan masyarakat dan industri,” ucap Yuliot.
Fasilitas dan Kapasitas RDMP Balikpapan
RDMP Balikpapan terdiri dari fasilitas produksi dan juga fasilitas pendukung termasuk fasilitas infrastruktur oil storage untuk 2 juta barel. Proyek ini akan diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada Desember 2025. Dengan kapasitas produksi yang besar, kilang ini akan menjadi pusat utama dalam memenuhi permintaan bahan bakar minyak dalam negeri.
Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Taufik Aditiyawarman menjelaskan bahwa sejumlah tahapan penting telah dilalui KPI untuk memastikan proyek ini berjalan dengan baik. Di antaranya pengoperasian awal unit utama pengolahan atau Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex RDMP Balikpapan, yang telah dilakukan pada 10 November 2025 lalu.
RFCC merupakan unit utama kilang untuk menghasilkan produk berstandar setara Euro V. RFCC juga akan meningkatkan efisiensi serta nilai ekonomi Kilang Balikpapan. Selain memproduksi BBM ramah lingkungan, nantinya Kilang Balikpapan setelah beroperasi penuh juga akan mengolah residu-residu yang ada untuk menghasilkan produk-produk industri kimia bernilai tinggi seperti propylene dan ethylene.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











