“Bu, Adek mau game, game! Game yang di tablet itu!”
Baru saja hari Sabtu kemarin, Adek pulang sambil menangis tersedu-sedu meminta diizinkan bermain game di tablet. Ia mengadu pada ibunya karena Abang tidak mengizinkannya bermain. Hampir 15 menit lebih ia menangis, mengulangi kata-kata yang sama, “Adek mau main game, tapi nggak boleh sama Abang, Bu.”
Saya memang berpesan pada Abang, supaya tidak bermain game di depan Adek. Jika Adek tidak sengaja melihat, meminta game itu, jangan diberikan, ajak bermain yang lain saja. Sebab, Adek baru mau tiga tahun, masih sangat dibatasi dalam penggunaan gadget.
Abang pun sama, masih dibatasi dalam pemakaian gadget. Hanya saja, memiliki kesempatan untuk mengakses gadget lebih lama, dan beberapa hal yang boleh dilakukan sesuai usianya yang sebentar lagi menginjak enam tahun.
Abang mengerti hal itu, dan menuruti nasihat ibunya. Akan tetapi, Adek memang cukup keras kalau menginginkan sesuatu, sulit sekali dialihkan. Peristiwa ini tidak hanya terjadi sekali, beberapa minggu lalu pernah juga terjadi.
Sejujurnya, saya saat ini belum memiliki tablet. Adek melihat Abang bermain game di tablet milik cucu saya, saat sedang bermain di rumah encangnya (sebutan untuk kakak dari ayah atau ibu). Di smartphone yang saya gunakan pun tidak ada game yang bisa dimainkan anak-anak. Hanya ada YouTube Kids dan YouTube biasa. Beberapa bulan lalu pernah mengunduh aplikasi edukatif, tetapi hanya digunakan sebulan, dan sudah dihapus. Sampai saat ini pun saya belum mengenalkan anak-anak pada media sosial, kecuali WhatsApp untuk melakukan video call atau telepon kepada keluarga saja.
Namun, saya tidak bisa mencegah tren di sekitar anak yang sedang populer. Ketika anak sedang bermain di luar rumah, saya tidak dapat memantaunya seharian. Sehingga, terkadang kecolongan anak bermain game ya biasa terjadi. Saat di rumah, baru saya nasihati Abang agar tak sering bermain game, kalau bisa jangan bermain game.
Wah, makin makin, dong. Saya jadi kepikiran, bagaimana nanti setelah hadiah tablet dari itu datang? Bagaimana caranya agar Adek tak merengek meminta game atau gadget terus menerus?
Lalu, beberapa hal berusaha saya rencanakan bersama bapaknya anak-anak. Memang mengenai perencanaan, suami saya lebih matang, dan lebih sering berhasil dilakukan.
Beberapa strategi yang saya terapkan:
- Pertama, ketika anak menangis meminta game di gadget, jangan langsung dituruti. Alihkan anak dengan hal menarik lainnya. Misalnya, alihkan dengan permainan menarik lain, atau memberikan makanan dan minuman yang mereka suka. Ajak anak berbincang, bermain di luar rumah, agar lupa tentang gadget dan game.
- Kedua, berikan aturan pada anak dalam bermain game atau gadget dengan konsekuensinya. Misalnya, saya melarang Abang bermain game di depan Adek. Jika Adek melihat, taruh smartphone, ajak Adek bermain dulu. Hanya boleh bermain game maksimal 1 jam. Jika anak melanggar, saya tidak akan memberikan camilan kesukaannya.
- Ketiga, apabila anak di bawah dua tahun meminta game sembari menangis, coba alihkan dengan tontonan lain di YouTube yang lebih mengedukasi. Selain itu, dapat juga mengenalkan anak pada aplikasi edukatif sesuai usianya.
- Keempat, awasi anak dalam penggunaan gadget. Saat anak bermain game, usahakan ada yang mendampingi. Misalnya kalau di rumah encangnya, anak-anak biasa diawasi oleh encang saat bermain gadget. Saya sendiri, tidak pernah membiarkan anak membuka aplikasi lain di smartphone, kecuali YouTube, dengan pembatasan tontonan yang diterapkan.
Jangan biarkan anak membuka media sosial atau aplikasi yang ia tidak ketahui sama sekali di smartphone atau tablet. Sebab, media sosial baru boleh diakses anak pada usia mendekati remaja, dengan pengawasan. Jika anak mengakses aplikasi game yang tidak seharusnya, maka tegur dan langsung hapus. Berikan ketentuan pada anak aplikasi game apa saja yang boleh dimainkan di gadget.
Menurut informasi dari American Academy of Pediatrics (AAP), untuk anak usia 6-12 tahun boleh bermain game dengan estimasi waktu 30-60 menit per hari pada hari sekolah atau weekday. Sedangkan pada hari libur, anak dapat bermain game maksimal 2 jam per hari dengan pengawasan.
Screen time-nya pada gadget juga harus diawasi, lho. Tidak cuma game yang dibatasi. Sesuai panduan durasi screen time menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bayi di bawah 1 tahun tidak dianjurkan screen time sama sekali. Saat berusia 1-2 tahun, sebaiknya hanya dikenalkan saat melakukan video call atau panggilan video dengan keluarga.
Ketika anak berusia 2-6 tahun, maksimal akses gadget 1 jam per hari, ketika usia 6-12 tahun anak dapat mengakses gadget 1,5 jam per hari. Nah, saat anak sudah berusia 12-18 tahun disarankan maksimal screen time 2 jam per hari.
Tentu batasan ini ditetapkan bukan tanpa tujuan. Semua demi menjaga kesehatan fisik dan mental anak, agar anak lebih banyak melakukan aktivitas yang dapat merangsang perkembangan motorik dan sosial daripada sibuk bermain gadget.
Hal yang tak kalah penting, jangan pernah bosan memberikan pemahaman pada anak tentang bahaya gadget, sesuai bahasa yang mudah dipahami anak berdasarkan usianya masing-masing. Walaupun sulit karena tren dan lingkungan juga sangat memengaruhi, tetapi kita tak boleh menyerah agar anak kelak tumbuh menjadi anak hebat.
Yang dibutuhkan anak, kehadiran orangtua dan teman sebaya. Saat anak dapat menikmati waktu di dunia nyata, mereka tak akan meminta gadget. Dunia nyata jauh lebih menarik dan menyenangkan daripada dunia maya.
Ketika anak menangis ingin meminta game, inilah yang harus ibu lakukan. Tidak semua permintaan anak harus dituruti. Jika hal itu tidak baik bagi anak, lebih baik dijauhkan. Kebiasaan menikmati waktu bersama keluarga tanpa gadget sejak bayi, akan terus diingat anak. Sehingga, anak dapat menghormati waktu yang mereka miliki bersama keluarga.
Saat anak tumbuh dewasa, ia akan lebih bijak menggunakan gadget. Siapa yang tidak tertarik dengan game di gadget? Namun, pemberian aturan, batasan, dan sedikit kelonggaran tentang bermain game pada anak akan lebih baik.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











