My WordPress Blog

3 Penyebab Siklon Tropis Muncul di Indonesia

Fenomena Siklon Tropis di Wilayah Indonesia

Belakangan ini, terdapat peningkatan jumlah Bibit Siklon Tropis yang muncul di sekitar wilayah Indonesia. Terbaru, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mendeteksi adanya Bibit Siklon Tropis 91S dan Bibit Siklon Tropis 93S pada Jumat (12/12/2025). Sebelumnya, BMKG juga menemukan Bibit Siklon Tropis 91S dan Siklon Tropis Senyar pada bulan November lalu.

Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, menyampaikan bahwa secara klimatologis, wilayah Indonesia seharusnya tidak mendukung pembentukan Siklon Tropis. “Fenomena seperti Siklon Tropis Senyar tergolong tidak umum di wilayah perairan Selat Malaka, apalagi jika sampai melintasi daratan,” ujarnya saat dihubungi pada tanggal 28 November 2025.

Fenomena tak biasa ini secara tidak langsung memicu terjadinya cuaca ekstrem di wilayah Indonesia. Jika tidak dimitigasi dengan tepat, berpotensi menyebabkan bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, hingga angin puting beliung.

Mengapa Bibit Siklon Tropis Banyak Muncul di Indonesia?

Prakirawan TCWC Jakarta BMKG, Azhari Putri Cempaka, menjelaskan bahwa pembentukan Bibit Siklon Tropis di dekat wilayah Indonesia disebabkan oleh berbagai faktor. “Banyaknya Bibit Siklon Tropis yang teramati akhir-akhir ini pada dasarnya masih sejalan dengan pola musim siklon tahunan di utara dan selatan Indonesia yang sedang berada pada fase beririsan antara akhir musim di utara dan awal musim di selatan,” ucapnya saat dihubungi pada Jumat (12/12/2025).

Di sisi lain, kondisi atmosfer laut saat ini juga cenderung mendukung pembentukan gangguan Siklon Tropis. Berikut ini adalah beberapa faktor penyebab Bibit Siklon Tropis bermunculan di sekitar Indonesia:

1. Faktor Musiman

Berdasarkan rekap kejadian Siklon Tropis periode 1980–2024, di utara Indonesia (sekitar Laut Cina Selatan, Laut Filipina, dan sekitarnya), November kali ini masih termasuk bulan aktif dengan total 134 kejadian selama 44 tahun. Azhari menyampaikan, aktivitas maksimum Siklon Tropis terjadi pada Juli–Oktober dan mulai menurun pada November–Desember. Meski turun, masih cukup tinggi untuk memunculkan beberapa bibit siklon sekaligus.

Sementara itu, di selatan Indonesia, yakni Samudra Hindia barat Sumatera-selatan Indonesia, musim Siklon Tropis berlangsung pada November–April dengan puncak pada Desember–Maret. “Data menunjukkan bahwa di selatan Indonesia pada November tercatat 30 kejadian selama 44 tahun, lalu meningkat tajam pada Desember menjadi 74 kejadian, dan mencapai nilai tertinggi pada Januari–Februari,” jelasnya. Ini artinya, November masih merupakan fase awal musim siklon di selatan.

2. Kondisi Laut

Faktor berikutnya adalah kondisi laut yang masih relatif hangat dan lembab, khususnya di sekitar wilayah Indonesia. Kondisi ini menyediakan energi dan uap air yang melimpah untuk pembentukan awan konvektif skala luas dan sistem tekanan rendah. “Situasi ini dapat diperkuat oleh keberadaan fenomena skala besar seperti La Nina lemah di Samudra Pasifik dan Indian Ocean Dipole (IOD) fase negatif di Samudra Hindia,” ucapnya. Kedua fenomena tersebut berkaitan dengan peningkatan aktivitas konveksi dan curah hujan di kawasan maritim Indonesia.

3. MJO dan Gelombang Kelvin/Rossby Ekuator

Selain kedua faktor di atas, gelombang atmosfer ekuator, seperti Madden–Julian Oscillation (MJO) dan gelombang Kelvin/Rossby ekuator yang sedang aktif juga dapat memodulasi daerah dengan pertumbuhan awan yang lebih intens. Kondisi ini mempermudah terbentuknya lebih banyak bibit siklon dalam satu kurun waktu.

Apa Itu Siklon Tropis?

Siklon Tropis adalah badai dengan kekuatan yang besar dengan radius mencapai 150 hingga 200 kilometer (km). Siklon tropis terbentuk di atas lautan luas dan umumnya mempunyai suhu permukaan air laut hangat, lebih dari 26,5 derajat C. Di saat yang sama, angin kencang berputar di dekat pusatnya dengan kecepatan angin lebih dari 63 km/jam.

Secara teknis, siklon tropis didefinisikan sebagai sistem tekanan rendah non-frontal yang berskala sinoptik dan tumbuh di atas perairan hangat dengan wilayah perawanan konvektif. Kecepatan anginnya maksimum mencapai 34 knot pada lebih dari setengah wilayah yang melingkari pusatnya, serta bertahan setidaknya enam jam. Adakalanya, di pusat siklon tropis terbentuk suatu wilayah dengan kecepatan angin relatif rendah dan tanpa awan yang disebut dengan mata siklon. Diameter mata siklon bervariasi mulai dari 10 hingga 100 km yang dikelilingi dengan dinding mata, yaitu wilayah berbentuk cincin yang dapat mencapai ketebalan 16 km. Masa hidup suatu siklon tropis rata-rata berkisar antara 3 hingga 18 hari. Kemudian mulai melemah karena energi siklon tropis yang didapat dari lautan hangat sehingga membuatnya lemah dan punah.

Dampak Siklon Tropis

Siklon tropis dikenal dengan berbagai istilah, yaitu “badai tropis” atau “typhoon” atau “topan” jika terbentuk di Samudra Pasifik Barat. Namun, jika terbentuk di Samudra Atlantik, Siklon Tropis disebut sebagai “siklon” atau “cyclone” jika terbentuk di sekitar India atau Australia, dan “hurricane”.

Fenomena Siklon Tropis secara tidak langsung memicu cuaca ekstrem di Indonesia. Berikut ini dampak dari kemunculan Siklon Tropis:

  • Banjir
  • Tanah longsor
  • Pohon tumbang
  • Kerusakan bangunan
  • Gelombang tinggi
Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *