My WordPress Blog
Budaya  

Kasih Ibu, Lontong Cap Go Meh, dan Kerasnya Bisnis Kuliner

Kenangan Masa Kecil yang Kembali Dihidupkan

Pasar subuh selalu menghadirkan kenangan masa kecil. Zaman ketika Ibu dan Bapak dengan tangan mereka yang kuat memegang jari mungil anak-anak sambil berkeliling mencari kue untuk sarapan. Kini, jari-jari itu sudah tumbuh besar, namun kembali melangkah kembali ke atmosfer yang sama, hanya saja dengan cerita yang berbeda.

Beberapa hari ini, kondisi kesehatan saya sedikit menurun. Pada hari minggu pagi kemarin (07/12/25), akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke faskes terdekat guna melakukan pemeriksaan kesehatan dasar.

Bila anak sakit, Ibu pasti tak bisa tidur dan uring-uringan semalaman. Ia akan terus memikirkan cara agar hati anaknya kembali ceria. Cara tersebut biasanya digunakan sejak anak-anak masih kecil, entah dengan membelikan sesuatu yang diinginkan anak atau mengajaknya ke tempat makan dan bermain.

Setelah pemeriksaan kesehatan, Ibu enggan diajak pulang. “Harus jalan-jalan dan bahagia,” katanya. Ia membawa saya ke tempat jajan masa kecil, yaitu Pasar Subuh di kawasan Blok M Jakarta.

Sepiring Cerita dan Lontong Cap Go Meh

Saat memasuki pasar subuh, suasana tidak berubah. Titik dagang penjual pun tetap seperti dulu, seperti soto khas Lamongan di depan pintu masuk gedung parkir dan deretan mie ayam di selasar parkir motor Melawai 9.

Sebelum menuju area kue subuh, saya dan Ibu memilih untuk sarapan. Berbagai pilihan makanan tersedia, tinggal dipilih. Terlihat beberapa lapak sudah penuh dengan pelanggan, bahkan ada yang antre dan tak kebagian meja.

Akhirnya, kami memilih lapak yang masih sepi. Dari empat menu yang ditawarkan, kami memilih Lontong Cap Go Meh. Sepiring penuh berisi potongan lontong, sambal goreng krecek dan tempe, telur balado, potongan ayam opor, tahu kulit besar, serta sayur lodeh labu siam. Tidak lupa kerupuk dan segelas es teh manis yang dipilih Ibu.

Ini pertama kalinya saya mencoba menu ini. Rasanya enak! Semua rasa pas, tidak terlalu asin maupun pedas. Yang membuat saya sedikit kaget adalah jumlah lauk yang cukup banyak dibandingkan lontongnya. Saya baru tahu bahwa ini adalah ciri khasnya. Porsi lauk juga cukup besar, sehingga saat dinikmati terasa pas tanpa merasa kekenyangan.

Saya sempat bertanya tentang harga. Ibu menjawab, “Kalau makan bersama Ibu, jangan pikirkan harga. Kan bantu usaha orang lain. Yang penting kamu sehat dan senang, mau makan apa lagi?”

Kasih Ibu benar-benar tak pernah berubah. Meski saya sudah dewasa, perlakuannya tetap sama, seperti dulu ketika saya masih anak kecil.

Masih dalam satu piring Lontong Cap Go Meh, kami berbincang tentang kesehatan. Ibu mengatakan bahwa seorang ibu selalu memperhatikan anaknya, meskipun sudah dewasa.

“Sehat itu mahal. Jaga dan cek kesehatan itu penting. Penyakit tidak pandang usia. Kalau anak sakit, Ibu juga!” nasihat Ibu.

Obrolan sederhana ini akhirnya membuat saya sadar bahwa tidak perlu menunda cek kesehatan sampai tua. Saya tak menyangkal, sebagai anak muda sering kali suka ngeyel.

Sepiring cerita dan dua porsi Lontong Cap Go Meh hanya membutuhkan kocek sebesar Rp50.000.

Kue Subuh dan Strategi Memperoleh Celah Persaingan

Setelah sarapan, Ibu mengajak saya berkeliling ke bagian kue-kue. Sebagian pedagang menjajakan kue yang hampir sama, tapi tidak sepenuhnya. Harga pun berbeda.

Salah satu pedagang menawarkan kuenya dengan harga murah, “Murah kok Bu, cuma 2000-an aja.” Namun, wajah lesu dan kebingungan di tengah ramainya pasar menggambarkan kesulitan yang dihadapi.

Beberapa pelanggan menyampaikan keluhan bahwa harga kue subuh biasanya lebih murah, terutama karena sering dibeli untuk dijual kembali.

Saya lanjut berjalan dan membandingkan harga serta situasi di beberapa lapak. Ternyata, ada beberapa faktor yang membuat lapak tertentu sepi:

  • Variasi: Menyediakan variasi yang berbeda dari penjaja lain, baik dalam hal kualitas, rasa, atau harga.
  • Harga terjangkau: Masih banyak pedagang yang menggetok harga tinggi padahal produk sama. Akibatnya, banyak pelanggan memilih lapak dengan harga lebih murah.
  • Jangan menggetok: Jika harga digetok naik sebesar Rp2.000, itu bisa menjadi perbedaan signifikan. Rata-rata harga kue adalah Rp1.000, namun ada yang menggetok menjadi Rp3.000. Banyak pelanggan yang kabur karena melihat harga yang berbeda meskipun produk sama.
  • Kondisi: Lapak yang kurang rapi dan bersih bisa mengurangi daya tarik. Penataan atau penumpukan box bisa menjadi solusi sederhana.

Ibu mengamati hal ini dari empat lapak yang kami kunjungi. Tiga lapak terlihat sepi dan menggetok harga dengan selisih Rp2.000, sedangkan di lapak keempat, penjual sangat royal menjajakan dagangan dengan harga dasar.

Saya sempat berbincang dengan penjual, “Semua seribuan Bu rata, pilih aja ngelarisin. Untung dikit ngga apa Bu, yang penting bisa laku, abis ngga kebuang.”

Di rumah, Ibu kembali mengajak diskusi. Bagi Ibu, harga jual masih tergolong wajar, terlebih jika mengingat modal sang penjual. Namun, sebagai pelanggan, pasti akan beralih jika ada penawaran yang lebih murah dengan variasi dan rasa sama.

Kami mengingat perbincangan di lapak keempat, mengenai celah di tengah persaingan usaha kuliner. Ketika penjual memanfaatkan waktu dan harga. Sesederhana itu, jika dagangan masih banyak tapi waktu sudah semakin siang dan segera tutup, menjual dengan harga tinggi + tidak boleh dinego pasti akan rugi — entah dari sisi pendapatan atau dagangan yang bersisa.

“Kalau kekeh ngasih harga mahal tapi ngga laku buat apa. Ya menyesuaikan situasi lah, apalagi sistem usaha yang jamnya terbatas kaya gini, makin siang harga kudu diturunin,” papar Bapak penjual sembari merapikan kue-kue.

Kesimpulan

Saya memperhatikan bahwa kue-kue bervariasi sama (plus bungkusnya) yang beli di lapak berbeda. Lemper isi ayam, kue talam, dadar gulung, talam ketan, kue pepe. Rasanya sama, tak ada beda. Harganya selisih Rp1.000 – Rp1.500.

Tidak menjadi soal. Saya tetap menikmati kue-kuenya. Sebab, tujuan utamanya adalah jalan pagi dan ikut membantu melariskan dagangan penjaja pasar subuh. Jika dapat pelajaran, maka bonus bagi saya untuk belajar hal baru.

Kasih Ibu, menggandeng tangan yang bertumbuh besar ini melihat dan mendengarkan banyak cerita tentang sebuah ingin dan secolek dunia usaha.

Kami menutup perjalanan pagi dengan membeli selebaran koran di loper keliling sepeda. Lama tak menjumpainya.

Hendra Susanto

Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *