My WordPress Blog

Manfaatkan AI, Monash Tingkatkan Akses Riset Kesehatan

Inovasi AI untuk Akses Informasi Kesehatan yang Lebih Cepat dan Akurat



Monash University berencana meluncurkan platform berbasis kecerdasan buatan (AI) yang bertujuan mempercepat akses terhadap riset dan bukti ilmiah terbaru di bidang kesehatan. Platform ini akan menyajikan informasi kesehatan secara real-time, sehingga dapat digunakan oleh tenaga kesehatan, pembuat kebijakan, serta anggota komunitas yang terkait dengan sektor kesehatan.

Platform berbasis AI ini akan dikembangkan melalui penyusunan peta jalan teknologi yang mendukung terciptanya bukti kesehatan yang berkesinambungan (living evidence). Monash menilai bahwa panduan klinis yang usang menjadi tantangan besar bagi sektor kesehatan. Keterlambatan dalam pengambilan keputusan dapat menghambat respon terhadap kondisi darurat, yang berpotensi meningkatkan risiko hasil kesehatan yang buruk. Oleh karena itu, inisiatif ini diharapkan bisa mencegah hal tersebut.

Peran Penting Platform dalam Situasi Darurat Kesehatan

Platform berbasis AI ini akan berperan penting saat menghadapi situasi darurat kesehatan seperti wabah penyakit atau krisis lainnya. Untuk menyusun peta jalan tersebut, Monash menggelar dua lokakarya pada 2025 bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Cochrane, jaringan nirlaba global penyedia informasi kesehatan tepercaya.

Lebih dari 70 perwakilan sektor kesehatan dari berbagai negara seperti Australia, Tiongkok, India, Indonesia, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Korea Selatan, Swiss, dan Thailand hadir dalam kegiatan tersebut. Proyek regional ini mengidentifikasi berbagai kebutuhan, hambatan, dan faktor pendukung untuk menghadirkan bukti riset kesehatan serta medis yang diperbarui secara berkesinambungan bagi para pengambil keputusan di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik Barat.

Hasil dari lokakarya tersebut tertuang dalam sebuah laporan ilmiah baru bertajuk Co-designing a Living Evidence Architecture: Understanding the needs of South-East Asia and the Western Pacific. Laporan ini menjelaskan bagaimana platform bukti ilmiah di bidang kesehatan berbasis AI yang dikoordinasikan secara regional dapat meningkatkan akses terhadap riset kesehatan terkini.

Kolaborasi Multidisipliner dalam Pengembangan Platform

Inisiatif ini dipimpin oleh Australian Living Evidence Collaboration (ALEC) dari Monash. Sebuah kolaborasi penyedia bukti kesehatan yang berkesinambungan di Australia, bersama dengan Fakultas Seni, Desain, dan Arsitektur (MADA) dan Fakultas Teknologi Informasi (FIT) di kampus pusat Monash di Australia, serta Monash University, Indonesia.

Direktur ALEC Tari Turner menyebut, living evidence sebagai infrastruktur baru untuk pengetahuan kesehatan yang mampu berkembang seiring dengan meningkatnya pemahaman dan kemampuan kita untuk menyesuaikan dengan kondisi lokal. “Proyek ini menunjukkan bahwa, melalui kolaborasi dan perancangan bersama, kita dapat membuat bukti ilmiah benar-benar bisa diakses dan berdampak global,” jelasnya.

Indah Suci Widyahening dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menegaskan bahwa dokter dan pasien membutuhkan panduan yang dapat dipercaya. “Akses ke bukti kesehatan yang mutakhir dan tepat waktu akan membantu kami dalam memberikan rekomendasi yang relevan dan praktis. Sehingga hasil kesehatan (health outcome) di kedua kawasan dapat meningkat. Selain itu, upaya ini dapat mengurangi biaya yang tidak perlu,” lanjutnya.

Penyesuaian Platform untuk Berbagai Komunitas

Pemimpin co-design dari MADA Leah Heiss mengatakan, riset yang dipimpin secara regional ini menempatkan Australia di garis terdepan dalam merancang ulang cara dunia memanfaatkan bukti ilmiah untuk meningkatkan health outcome. “Para peserta menekankan pentingnya platform terpusat berbasis AI yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan berbagai komunitas untuk menyampaikan informasi kesehatan tepercaya,” kata Heiss.

Grace Wangge dari program Master of Public Health, Monash University, Indonesia, mengatakan bahwa inisiatif ini akan menyoroti bukti ilmiah di bidang kesehatan dan praktik medis terbaik dari Asia Tenggara. “Wawasan medis berharga dari kawasan ini seringkali tidak dimanfaatkan dalam praktik klinis sehari-hari, padahal sangat relevan dengan konteks lokal kita,” ungkapnya.

Sementara itu, John Grundy dari Fakultas Teknologi Informasi, Monash University Australia, mengatakan bahwa AI yang dikembangkan secara lokal dan etis sangat penting bagi kedua kawasan. “Langkah kami berikutnya adalah menyusun peta jalan teknologi untuk mendukung terciptanya living evidence platform yang mencerminkan kebutuhan dan nilai-nilai lokal, serta mendorong pengambilan keputusan yang transparan dan adil,” tegasnya.

Langkah Berikutnya dan Dukungan Pendanaan

Usai peta jalan teknologi dibuat, tim proyek akan proaktif mencari pendanaan untuk mendukung pengembangan, pengujian, dan penerapan platform tersebut di seluruh kawasan ASEAN dan Pasifik Barat. Didanai oleh Monash University 2025 Incubator Program, inisiatif ini membangun fondasi bagi Living Evidence Architecture (LEA) regional, yakni sebuah visi jangka panjang untuk mempercepat penerjemahan hasil riset kesehatan ke dalam kebijakan dan praktik lintas negara.

Zaiful Aryanto

Penulis yang dikenal dengan gaya bahasa lugas dan informatif. Ia aktif meliput berita cepat, tren daring, hingga liputan human interest. Hobi utamanya adalah bersepeda, menonton video edukatif, dan mencoba tempat kuliner baru. Motto: "Tulisan yang baik selalu lahir dari kejujuran."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *