Kisah Tunjinah, Seorang TKW di Hong Kong yang Berjuang demi Anak
Tunjinah adalah seorang wanita berusia 30 tahun asal Desa Tinumpuk, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Ia dikenal sebagai seorang single parent yang menjadi tulang punggung keluarga. Dengan tekad kuat dan rasa cinta yang besar kepada anaknya, ia memutuskan untuk bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Hong Kong.
Anah, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa keputusan tersebut bukanlah hal mudah. “Khawatir tinggalin anak pasti ada, apalagi seorang ibu, mana ada yang mau jauhan sama anak. Tapi ya bagaimana lagi, demi masa depan anak aku,” ujarnya. Sejak ia berangkat ke Hong Kong, buah hatinya tinggal bersama neneknya di kampung halaman. Anah juga bercerita bahwa anak laki-lakinya itu akan segera masuk TK, usianya kini sudah lima tahun.
Namun, di balik itu, Anah mengaku ada rasa dilema yang selalu ia rasakan karena tak bisa menyaksikan dari dekat bagaimana anaknya bertumbuh dan berkembang. Dari kejauhan, Anah selalu mendoakan agar anaknya tumbuh menjadi anak yang pintar, berprestasi, dan bisa menempuh pendidikan setinggi mungkin. Sesuatu yang dulu tidak bisa ia dapatkan.
Anah yang dulu hanya bisa menempuh pendidikan sampai SMP, ingin nasib anaknya kelak bisa jauh lebih baik dari ibunya dan jadi kebanggaan orangtua. “Apa yang aku lakukan ini juga demi kebaikan anak, kalau bisa aku pinginnya anak itu sekolahnya lebih tinggi dari orangtuanya, jadi orang yang pintar,” ujar Anah lirih.
Di Hong Kong, Anah bekerja sebagai asisten rumah tangga. Gajinya sekitar Rp 10 juta per bulan, uang itu bisa untuk menabung, membantu orang tua, serta memenuhi kebutuhan anaknya. “Saya di Hong Kong itu dari 2020, selain karena alasan ekonomi. Alasan utama saya ke luar negeri memang demi anak,” ucapnya.
Untuk mengobati kerinduan, Anah bisa menelepon ke kampung halaman. Hal itu ia lakukan bahkan setiap hari ketika ia punya waktu luang. Hal ini sekaligus bentuk kontrol Anah sebagai orangtua dalam mengawasi tumbuh kembang anaknya. “Alhamdulillah kalau telepon, selalu, setiap waktu, setiap hari,” ujar Anah.
Sebagai ibu muda, Anah juga mencoba untuk mengasah diri menjadi lebih kreatif. Ibu satu anak ini rupanya aktif di media sosial sebagai kreator konten. Dari yang awalnya hanya iseng, Anah sekarang punya penghasilan tambahan dari sana. “Iseng-iseng sih ngisi waktu saja,” ujarnya.
Meski sudah terbiasa dengan ritme hidup sebagai pekerja migran, Anah menyampaikan, tidak akan selamanya ia menjadi pekerja migran. Suatu saat nanti, Anah ingin pulang kembali ke Tanah Air untuk bisa berkumpul dengan keluarga, terutama dengan anaknya. Oleh karenanya, sedari sekarang Anah sudah memikirkan langkah ke depan yang akan ia lakukan di Indonesia. Rencana-rencana pun sudah ia mulai susun pelan-pelan, sambil menabung dari penghasilannya selama bekerja untuk modal usaha nanti.
Anah ingin bisa hidup mandiri dengan membuka usaha agar keluarga kecilnya juga bisa selalu tercukupi semua kebutuhannya. “Alhamdulillah kalau planning sih banyak ya, malah banyak banget, cuma nanti lihat ke depannya, lihat bujet juga, minta doanya,” ujar Anah.
Cerita Lain tentang TKW
Selain cerita Tunjinah, ada juga kisah lain tentang seorang pria bernama Dargo (bukan nama sebenarnya) yang merelakan dirinya ditinggal istri yang merantau ke Malaysia menjadi TKW. Di ingatan warga Kabupaten Batang tersebut masih terlihat jelas kenangan saat melepas istrinya merantau ke Negeri Jiran, 10 tahun silam.
Dargo dan istri yang dikaruniai satu anak, mengalami peliknya ekonomi rumah tangga yang naik turun. Berbekal kesepakatan bersama, Dargo mantap melepas istri dengan tangis. Tapi di baliknya, ada harapan membuncah untuk kelangsungan hidup di masa depan. Ketika pagi masih gelap, Dargo mengantar istri menuju rumah seseorang yang ia kenal. Orang itulah yang membujuk istrinya untuk pergi ke Malaysia.
Dengan iming-iming gaji tinggi, istrinya langsung merelakan hati meninggalkan anak dan suami. “Istri saya ikut orang yang saya kenal ditawari untuk ikut ke Malaysia,” kata Dargo. “Karena dia sudah lama kerja di Malaysia dan gajinya besar, tapi saya lupa berapa besarannya,” imbuhnya.
Keberangkatan istrinya ke Malaysia tersebut bukan melalui jalur resmi. Namun, ia tetap percaya kenalannya bisa memberikan jalan perekonomian yang lebih mulus. Terlebih, Dargo yang hidup di kampung mengandalkan peruntungan warung kelontong, hanya bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Untuk biaya sekolah anaknya pun, ia kelimpungan.
Hampir tiga tahun berlalu, istrinya rutin mengirim pundi-pundi rupiah kepada Dargo dan anaknya. Namun di tahun berikutnya, gelagat istrinya mulai berubah. Ketika istrinya pulang ke rumah yang menyatu dengan toko kelontong tersebut, Dargo justru diusir. Dengan terpaksa, ia dan anaknya harus kembali ke rumah orang tuanya.
Di kepulangan pada tahun keempat itulah, Dargo baru mengetahui istrinya memiliki lelaki simpanan yang tak lain ialah kenalannya saat bekerja di Malaysia. “Saya sudah tidak mau sama kamu, saya sudah punya yang lain,” ujar Dargo menirukan ucapan istrinya. Tubuh Dargo pun seketika bergetar, jantungnya berdegup kencang, dan matanya berkunang-kunang. Ia hanya mampu menahan sakit hati amat mendalam, sembari berlalu pergi.
Setelah bertahun-tahun berlalu, Dargo tak lagi mendengar kabar tentang istrinya. Informasi terbaru yang ia dapat, istrinya sempat kembali lagi ke rumah orang tua. “Katanya yang saya dengar begitu, tapi saya sudah tidak peduli. Yang penting fokus saya sekarang adalah membesarkan anak saya, itu saja,” tandasnya.











