JAKARTA — Kondisi pasar otomotif domestik yang sedang lesu memaksa Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) untuk merevisi target penjualan mobil baru pada 2025 menjadi sebanyak 780.000 unit. Di sisi lain, Malaysia tampaknya sedang bersiap untuk menggeser posisi Indonesia sebagai pasar otomotif terbesar di kawasan Asia Tenggara.
Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto, memperkirakan bahwa penjualan mobil wholesales hingga akhir 2025 akan turun sekitar 10% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari realisasi 2024 yang mencapai 865.000 unit. Perkiraan ini didasarkan pada kinerja penjualan hingga Oktober 2025 yang masih terkontraksi dua digit dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Karena sampai Oktober 2025 angka penjualan turun 10% dibanding tahun 2024, maka kami berasumsi bahwa hingga akhir tahun juga akan turun 10% dari angka penjualan tahun lalu,” ujar Jongkie kepada Bisnis, dikutip Kamis (4/12/2025).
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa posisi Indonesia sebagai pasar otomotif terbesar di Asean bisa digeser oleh Malaysia. Asosiasi Otomotif Malaysia (MAA) mencatat penjualan kendaraan pada Oktober 2025 mencapai 75.992 unit, meningkat 30% secara bulanan dibandingkan September 2025 sebanyak 58.490 unit.
“Kita sedang pelajari bagaimana penjualan di Malaysia bisa lebih baik dibanding Indonesia untuk tahun ini,” katanya.
Meski pasar sedang tertekan, Jongkie tetap optimistis bahwa pemulihan dapat terjadi jika ditopang oleh kebijakan pemerintah yang tepat dan konsisten. Sebelumnya, Gaikindo berharap penjualan domestik bisa mendekati 800.000 unit hingga akhir tahun. Pameran Gaikindo Jakarta Auto Week (GJAW) pada 21–30 November 2025 juga diharapkan membantu mendorong penjualan di penghujung tahun.
Sebagai catatan, Gaikindo awalnya menargetkan penjualan mobil 2025 berada pada kisaran 850.000–900.000 unit, mengacu realisasi 2024 sebesar 865.000 unit secara wholesales.
Sementara itu, penjualan mobil wholesales sepanjang Januari–Oktober 2025 hanya tercatat 635.844 unit, turun 10,6% yoy dibandingkan 711.064 unit pada periode yang sama 2024.
Malaysia Siap Jadi Raja Otomotif Asean
Di lain pihak, dominasi Indonesia di pasar otomotif Asean terancam digeser oleh Malaysia. Sepanjang 10 bulan 2025 penjualan mobil Malaysia tercatat 655.328 unit, hanya turun tipis 1,8% dibandingkan dengan 666.905 unit pada periode yang sama tahun lalu.
Adapun, pada tahun lalu, penjualan mobil di Malaysia mampu menembus angka 816.747 unit, sedangkan Indonesia sebesar 865.723 unit di 2024. Padahal, populasi Negeri Jiran hanya sekitar 34 juta jiwa, jauh di bawah Indonesia yang mencapai lebih dari 280 juta jiwa.
Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azam, mengatakan, Indonesia perlu mempertahankan reputasi sebagai pasar otomotif terbesar di Asean. Sebab, jika pasar otomotif semakin terpuruk, dikhawatirkan pelaku industri hengkang dari Tanah Air.
“Kami harapkan bisa 800.000 total marketnya, supaya kita masih bisa di atas Malaysia, karena reputasi itu penting, kalau Indonesia sudah tidak nomor satu di Asean, nanti khawatirnya ekosistemnya pindah,” ujar Bob di Tangerang, belum lama ini.
Lebih lanjut, Bob mengatakan, sejumlah negara di Asean seperti Vietnam dan Malaysia masih memberikan insentif untuk menggenjot penjualan otomotifnya.
“Nah negara lain tuh [insentifnya] macam-macam, seperti Vietnam menurunkan PPN dari 10% jadi 8%. Malaysia juga kasih insentif untuk otomotifnya sejak Covid, bahkan kalau tidak salah pembeli mobil pertama itu dapat insentif dari pemerintah Malaysia,” katanya.
Pasalnya, industri otomotif memiliki efek pengganda (multiplier effect) dan juga berkontribusi signifikan terhadap pendapatan daerah.
“Saat ini sebagian besar pajak daerah kan tergantung penjualan mobil. Kalau jualan mobilnya turun, ya pendapatan daerah juga turun. Apalagi tahun depan kan dana transfer ke daerah dipotong. Nah, jadi harus dipikirkan betul-betul ya,” pungkas Bob.
Sinyal Minim Insentif 2026
Sejatinya, pasar otomotif Indonesia masih memiliki potensi besar untuk bertumbuh. Sebab, dengan populasi sekitar 280 juta jiwa, rasio kepemilikan kendaraan masih tergolong rendah, yaitu 99 kendaraan per 1.000 penduduk.
Namun, untuk mendukung industri otomotif, perlu adanya injeksi stimulus dari pemerintah untuk mendongkrak daya beli masyarakat, terutama kalangan kelas menengah. Sayangnya, pemerintah memberi sinyal bahwa tahun depan minim insentif untuk sektor otomotif.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberi sinyal bahwa tidak akan ada insentif khusus bagi industri otomotif pada 2026.
“Insentif [otomotif] tahun depan tidak ada,” ujar Airlangga usai menghadiri Kompas100 CEO Forum di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (26/11/2025).
Airlangga menilai absennya insentif tersebut karena industri otomotif saat ini dianggap sudah cukup stabil dan tangguh sehingga dukungan fiskal tidak lagi mendesak.
Selain itu, menurutnya, geliat industri terlihat jelas dari penyelenggaraan berbagai pameran otomotif sepanjang tahun, seperti Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS), Indonesia International Motor Show (IIMS), serta Gaikindo Jakarta Auto Week (GJAW).
Di lain sisi, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai industri otomotif saat ini sangat membutuhkan insentif guna memperkuat ekosistem industrinya dari hulu ke hilir. Insentif tersebut untuk mempertahankan utilisasi produksi, melindungi investasi dan pekerja industri dari PHK, serta meningkatkan daya saing produk otomotif dalam negeri.
Oleh karena itu, Kemenperin menegaskan bahwa insentif otomotif menjadi instrumen krusial dalam upaya memulihkan pasar kendaraan bermotor sekaligus menjaga keberlangsungan industri otomotif nasional, serta dapat mendorong daya beli masyarakat sebagai konsumen kendaraan.
“Walaupun Kemenperin belum merumuskan jenis, bentuk dan target insentif atau stimulus, tapi usulannya akan mengarah ke segmen kelas menengah-bawah dan didasarkan pada nilai TKDN,” ujar Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief.
Kalangan pelaku industri otomotif pun masih sangat menantikan adanya insentif pada 2026, mengingat penjualan mobil hingga menjelang tutup tahun 2025 berada di ujung tanduk.
Gaikindo berharap pemerintah kembali memberikan insentif untuk mendukung penjualan mobil domestik, dengan skema serupa seperti saat pandemi Covid-19.
Sebagai pengingat, pada awal 2022, pemerintah memperpanjang insentif Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) Ditanggung Pemerintah (DTP) sebagai bagian dari program pemulihan industri otomotif, yang terbukti mendorong penjualan mobil hingga menembus lebih dari 1 juta unit pada 2022.











