Di sudut meja makan, ketika matahari sore mulai menyelinap masuk lewat celah jendela, saya sering kali menemukan diri saya berada di posisi yang sama dengan jutaan orang tua lain di luar sana. Posisi itu adalah menjadi “pendengar setia” dari sebuah rengekan kecil yang manis namun menuntut dari anak, tentang menu makan malam.
Anda pasti tahu bunyinya. Bukan tangisan sedih, melainkan negosiasi yang gigih. “Ma, aku ingin pizza yang ada mozzarella-nya,” pinta si Kakak. “Nggak mau, Ma, aku maunya waffle cokelat!” seru adiknya menimpali. Atau di hari lain, “Ma, malam ini kita masak spaghetti ya?”
Sebagai orang tua, jujur saja, kadang ada helaan napas panjang yang keluar tanpa sadar. Lelah bekerja seharian, pikiran masih tertinggal di tumpukan tugas kantor atau urusan rumah tangga yang tak ada habisnya, lalu disambut dengan permintaan kuliner yang spesifik.
Rasanya ingin saja membuatkan telur ceplok dengan nasi kecap. Namun, saya selalu berhenti sejenak dan menatap wajah-wajah penuh harap itu. Di mata mereka, sepotong pizza atau sepiring waffle bukan sekadar makanan pengganjal lapar. Itu adalah impian.
Saya sering merenung, membandingkan dunia kecil mereka dengan dunia “raksasa” kita orang dewasa. Pinta dari anak-anak ini—tentang junk food, tentang kudapan manis, tentang masakan favorit—sesungguhnya memiliki bobot emosional yang setara dengan keinginan-keinginan besar kita.
Jika kita, orang dewasa, mendambakan mobil baru yang di garasi, merenovasi rumah agar lebih nyaman, atau liburan ke luar negeri sebagai wujud pencapaian diri, maka bagi anak-anak, pencapaian itu terwujud dalam bentuk sepiring makanan yang mereka idamkan.
Bedanya, dan ini adalah pembenaran logis yang sering saya gunakan: keinginan mereka jauh lebih affordable.
Saya sangat jarang menolak permintaan anak saya. Bukan karena saya ingin memanjakan mereka tanpa batas, tetapi karena kalkulasi sederhananya: mengabulkan permintaan waffle jauh lebih murah dan mudah daripada mewujudkan keinginan saya membeli rumah baru, bukan? Makanan adalah kemewahan yang terjangkau. Ia adalah “mobil mewah” versi saku mereka.
Namun, kisah ini tidak berhenti pada transaksi memberi dan menerima. Jika hanya sebatas membelikan lalu mereka kenyang, itu hanyalah proses biologis biasa. Hewan pun memberi makan anaknya sampai kenyang.
Di sinilah peran saya sebagai “pembangkit mimpi” dimulai. Ada satu ritual kecil yang selalu saya selipkan setelah piring-piring itu licin tandas, menyisakan remah-remah di ujung bibir mereka.
Saya akan bertanya dengan nada pelan, “Bagaimana rasanya, Nak?”
Pertanyaan ini sering kali disalahartikan. Saya tidak sedang mengharapkan ulasan rasa yang rumit layaknya Chef Juna atau Gordon Ramsay. “Oh, teksturnya al dente, Ma,” atau “Flavor profile-nya kurang seimbang.” Tidak, tentu saja bukan itu. Toh, anak kecil belum terlalu paham tentang kompleksitas rasa seperti orang dewasa. Lidah mereka jujur dan sederhana; hanya mengenal enak, tidak enak, atau enak sekali.
Lalu, jawaban apa yang saya harapkan dari pertanyaan itu?
Yang saya harapkan adalah Karsa.
Karsa adalah sebuah kata yang indah. Dalam filosofi Jawa dan psikologi manusia, karsa dimaknai sebagai kehendak, niat, atau dorongan jiwa yang kuat untuk melakukan sesuatu. Karsa adalah jembatan antara pikiran dan tindakan.
Saya percaya, setelah melahap sepiring makanan, akan tercipta sebuah cerita yang membangun ingatan. Dan dari ingatan yang membekas itu, akan terbangun keinginan untuk melakukan sesuatu setelah mengecap rasa tersebut. Makanan hanyalah pemicunya, namun ledakan kecil di dalam jiwa merekalah tujuannya.
Mari saya berikan contoh konkret dari meja makan kami.
Suatu sore, setelah saya mengabulkan permintaan anak saya untuk menyantap waffle dengan es krim di atasnya, saya bertanya, “Gimana, enak?” Anak saya mengangguk antusias, matanya berbinar. “Ma, aku senang makan waffle. Hari Minggu nanti boleh ya makan lagi?” Kalimat itu sederhana, bukan? Tapi bagi saya, itu adalah benih karsa. Dari rasa senang di lidah, tumbuh sebuah kemampuan untuk merencanakan masa depan. Ia belajar tentang anticipation (penantian). Ia belajar menata keinginannya, menempatkannya di sebuah titik waktu di masa depan (hari Minggu), dan menjadikan itu sebagai motivasi. Ia tidak sekadar kenyang lalu lupa. Ia memiliki dorongan untuk mengulang kebahagiaan itu.
Tinggal bagaimana saya memberi syarat baginya “Boleh, asal rajin belajar mewarnai ya tiap malam.”
Karsa itu tumbuh semakin liar dan indah pada momen yang lain.
Pernah suatu ketika, makanan yang tersaji bukanlah menu restoran mahal. Hanya sepiring jagung goreng, hasil panenan kebun belakang rumah yang kami tanam ala kadarnya. Sederhana sekali. Tidak ada keju mozarella, tidak ada saus bolognese. Hanya jagung, sedikit garam, dan gurihnya mentega.
Anak-anak memakannya dengan lahap, duduk melingkar di antara meja, ditemani angin sore. Mereka makan sambil tertawa-tawa bersama saudara-saudaranya, berebut butiran jagung terakhir.
Saat saya tanya, “Bagaimana rasanya?” Jawaban yang keluar membuat hati saya berdesir. Si Kecil berkata, “Ma, aku mau lagi makan jagung sama saudara dan teman-teman. Nanti kalau panen lagi, goreng jagungnya lagi, Ma?” Lihatlah transformasinya. Sepiring cerita dari jagung goreng itu bukan hanya tentang karbohidrat yang masuk ke perut. Ia menghadirkan karsa yang jauh lebih mulia: Karsa untuk berbagi. Karsa untuk makan bareng saudara dan teman-temannya lagi.
Dari rasa gurih jagung, muncul dorongan untuk berkumpul (komunal). Muncul keinginan untuk tidak menikmati kebahagiaan itu sendirian. Makanan itu telah menjadi medium sosial yang mengajarkan mereka bahwa rasa enak itu menjadi berlipat ganda jika dirasakan bersama “saudara dan teman-teman”.
Di zaman sekarang, kita sebagai orang tua sering kali terjebak pada angka-angka. Kita sibuk menghitung kalori, menakar protein, memastikan vitamin, dan membaca label nutrisi di kemasan. Itu semua baik, dan tentu saja penting. Kita ingin anak kita tumbuh sehat secara fisik.
Namun, sepiring cerita bukan hanya tentang nutrisi biologis. Jangan sampai kita melupakan nutrisi batin.
Jika protein membangun otot, dan kalsium membangun tulang, maka “cerita” dan “perasaan” saat makanlah yang membangun karakter. Makanan yang disajikan dengan cinta, yang permintaannya didengar dan dikabulkan, serta dinikmati dengan penuh kesadaran, mengandung dorongan untuk melakukan sesuatu (lagi) di masa depan.
Inilah yang saya sebut sebagai Sejuta Karsa.
Setiap suapan yang masuk ke mulut anak kita berpotensi menjadi memori jangka panjang. Ketika dewasa nanti, mungkin mereka akan lupa berapa harga pizza yang mereka rengekkan hari ini. Mereka mungkin lupa rasa spesifik dari spaghetti buatan ibunya. Tetapi, “karsa” yang tertanam di alam bawah sadar mereka akan tetap hidup.
Mereka akan tumbuh menjadi manusia yang tahu cara merencanakan kebahagiaan (seperti merencanakan makan waffle di hari Minggu). Mereka akan tumbuh menjadi manusia yang hangat dan gemar menyambung silaturahmi (seperti keinginan berbagi jagung dengan teman).
Mereka akan memahami bahwa meja makan bukan sekadar tempat mengisi bahan bakar, melainkan tempat di mana keinginan didengar, hati dipuaskan, dan rencana-rencana baik disusun.
Jadi, para orang tua, para Mama yang mungkin hari ini sedang pusing mendengar rengekan “Mau ini, mau itu”… Tarik napas. Ingatlah analogi mobil dan rumah tadi. Permintaan mereka itu murah, tapi dampaknya mahal. Kabulkanlah selagi bisa. Masaklah atau belikanlah dengan hati yang ringan.
Dan jangan lupa, tutuplah ritual makan itu dengan pertanyaan keramat kita: “Bagaimana rasanya, Nak?” Dengarkan jawabannya. Bukan untuk mencatat kurang asin atau kurang manisnya, tapi untuk menangkap getaran karsa yang sedang tumbuh di dalam dada kecil mereka. Sebab dari sepiring cerita hari ini, kita sedang menanam sejuta kehendak baik bagi masa depan mereka.
Sepiring cerita, sejuta karsa. Sebuah investasi rasa yang niscaya tak akan pernah merugi.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."











