Peran Desa Tangguh Bencana dalam Meningkatkan Kesiapsiagaan

Kabupaten Bandung Barat (KBB) merupakan salah satu wilayah di Jawa Barat yang memiliki tingkat kerawanan bencana yang sangat tinggi. Hampir seluruh kecamatan di wilayah ini rentan terhadap berbagai jenis bencana seperti longsor, banjir, angin kencang, dan kebakaran hutan. Untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KBB mendorong setiap desa untuk membentuk Desa Tangguh Bencana (Destana) sebagai garda terdepan dalam menghadapi situasi darurat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD KBB, Dedi Supriadi, menjelaskan bahwa pembentukan Destana di tiap desa menjadi kebutuhan mendesak agar penanganan bencana bisa dilakukan lebih cepat dan efektif. Menurutnya, KBB adalah daerah rawan bencana di semua wilayahnya, sehingga penting bagi setiap desa untuk mandiri dalam kebencanaan. Destana dapat menjadi wadah bagi relawan dan masyarakat agar mampu merespons cepat ketika terjadi bencana.
Desa Didorong Mandiri Hadapi Bencana
Dedi menegaskan bahwa keberadaan Destana tidak berarti BPBD dapat absen dalam penanganan bencana. Namun, dengan kesiapan masyarakat di tingkat desa, proses evakuasi dan tanggap darurat dapat dilakukan lebih cepat sebelum bantuan utama tiba di lokasi. Ia berharap, setiap desa memiliki sarana, prasarana, dan tim tanggap yang siap turun di lapangan.
Sampai saat ini, baru 72 dari total 165 desa di Bandung Barat yang memiliki Destana aktif. Hal ini disebabkan oleh kondisi geografis KBB yang terdiri dari pegunungan, perbukitan, dan lembah, membuat sebagian besar wilayah rawan terhadap bencana. Oleh karena itu, penguatan kesiapsiagaan melalui Destana menjadi prioritas utama.
Peran Destana dalam Mitigasi dan Edukasi Warga
Lebih lanjut, Dedi menjelaskan bahwa keberadaan Destana memungkinkan pemerintah desa melakukan mitigasi dini, seperti memetakan wilayah rawan, menyiapkan jalur evakuasi, serta mengadakan pelatihan dasar kebencanaan bagi warga. Ia menyatakan bahwa BPBD terus mendorong agar desa-desa lain membentuk Destana, termasuk melalui pelatihan dan pendampingan langsung dari BPBD.
Selain pelatihan, BPBD juga memberikan dukungan berupa pemetaan risiko bencana dan sarana komunikasi darurat untuk mempercepat koordinasi antara aparat desa dan petugas penanggulangan di tingkat kabupaten. Dengan demikian, pengambilan keputusan dan respons terhadap bencana dapat dilakukan secara lebih efektif.
Membangun Budaya Sadar Bencana
Kepala Pelaksana BPBD KBB, Asep Sihabudin, menegaskan bahwa kesadaran masyarakat terhadap potensi bencana menjadi faktor kunci dalam mitigasi. Ia menekankan bahwa semua pihak harus memahami langkah-langkah mitigasi, terutama sadar bencana, yaitu masyarakat tahu apa yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi.
Menurut Asep, membangun kesiapsiagaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga kolaborasi antara lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, dan kelompok relawan. Pengetahuan dan pelatihan kebencanaan harus menjadi bagian dari budaya masyarakat di daerah rawan bencana. Jika semua pihak siap, risiko bencana bisa ditekan seminimal mungkin.
Target 100 Persen Destana Aktif pada 2027
Sebagai bagian dari rencana jangka menengah, BPBD KBB menargetkan seluruh desa di wilayahnya memiliki Destana aktif pada tahun 2027. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pelatihan relawan, serta penyediaan peralatan tanggap darurat berbasis komunitas.
Dengan adanya Destana di setiap desa, diharapkan penanganan bencana di KBB dapat berlangsung lebih cepat, tepat, dan terkoordinasi, sekaligus memperkuat peran masyarakat sebagai ujung tombak dalam menghadapi risiko bencana.











