Konsolidasi Nasional Buruh di Bekasi
Buruh Indonesia melakukan konsolidasi nasional di Gedung Swantantra Wibawa Mukti, Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, pada Senin (10/11/2025). Acara ini menjadi momen penting bagi gerakan buruh dalam memperkuat posisi mereka di tingkat global.
Konsolidasi tersebut mempertemukan tiga konfederasi besar, yaitu Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), dan Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI). Presiden KSPI, Said Iqbal, menjelaskan bahwa acara ini merupakan bagian dari agenda konsolidasi nasional untuk memperkuat posisi buruh Indonesia.
Dalam forum konsolidasi tersebut, pihaknya menyoroti dua agenda utama gerakan buruh di dalam negeri. Pertama adalah kenaikan upah minimum tahun 2025 dan kedua adalah pengesahan Rancangan Undang-Undang Ketenagakerjaan sesuai dengan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 168 Tahun 2004.
“Ada dua gerakan dalam konsolidasi ini, pertama soal kenaikan upah dan RUU Ketenagakerjaan,” kata Said Iqbal.
Ia menegaskan bahwa usulan pemerintah dan pengusaha melalui Kementerian Ketenagakerjaan dengan indeks kenaikan 0,2 sampai 0,7 dinilai terlalu rendah dan tidak mendukung peningkatan daya beli masyarakat. “Usulan itu tidak mendasar dan justru kembali pada rezim upah murah,” ujarnya.
Said Iqbal menambahkan bahwa kenaikan upah harus berada di kisaran 8,5 hingga 10,5 persen agar daya beli meningkat dan pertumbuhan ekonomi berbasis konsumsi bisa tercapai. “Perjuangan buruh bukan hanya untuk peningkatan upah, tetapi juga untuk memastikan keadilan sosial dan kesejahteraan bagi seluruh pekerja Indonesia,” tegasnya.
Dalam kegiatan ini, Sekretaris Jenderal International Trade Union Confederation (ITUC), Luc Triangle, hadir secara virtual. Dengan kehadiran Luc Triangle, gerakan buruh nasional diharapkan semakin solid dan memiliki dukungan moral dari komunitas pekerja internasional dalam memperjuangkan hak-hak pekerja di Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa kehadiran Luc Triangle melalui sambungan video call merupakan bentuk perhatian dunia internasional terhadap dinamika perburuhan di Indonesia. ITUC sendiri adalah konfederasi serikat buruh terbesar di dunia yang memiliki perwakilan terbanyak di International Labour Organization (ILO).
“Agenda ini menjadi momentum bersejarah karena ITUC menunjukkan dukungan terhadap perjuangan buruh Indonesia. Sekjen ITUC, Brother Luc Triangle, menyampaikan pesan kuat tentang keadilan sosial, pemberantasan korupsi, dan sistem pajak yang berpihak pada kesejahteraan rakyat,” kata Said Iqbal.
Sebelum bergabung dalam konsolidasi secara daring, Luc Triangle sempat melakukan pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto. Dalam pertemuan itu, Sekjen ITUC menekankan pentingnya peran negara dalam memastikan kesejahteraan pekerja, perlindungan sosial, dan sistem upah yang adil.
Menurut Said Iqbal, pesan ITUC dan pertemuan dengan Presiden Prabowo menunjukkan kesamaan pandangan mengenai pentingnya membangun ekonomi yang berkeadilan dan menolak praktik korupsi serta upah murah.
“Pemikiran ITUC sejalan dengan semangat pemerintah untuk menegakkan keadilan sosial dan kesejahteraan pekerja. Kami berharap hal itu menjadi perhatian Presiden agar kebijakan ketenagakerjaan nasional berpihak kepada buruh,” ujarnya.











