Penanganan Cesium-137 di Kawasan Industri Modern Cikande
Temuan zat radioaktif Cesium-137 (Cs-137) yang mencemari lingkungan di Kawasan Industri Modern (KIM) Cikande, Serang, Banten, telah mengejutkan publik. Pemerintah mengonfirmasi bahwa cemaran tersebut berasal dari kontainer perusahaan eksportir yang berjarak sekitar dua kilometer dari sumber lokal pencemar, yakni pabrik pengolah besi bekas PT Peter Metal Technology (PMT).
Menyikapi hal ini, Satuan Tugas Penanganan Cesium-137 (Cs-137) segera bertindak dengan melakukan mitigasi di kawasan industri serta permukiman untuk mencegah meluasnya dampak radiasi dan melindungi kesehatan masyarakat maupun pekerja. Jalur keluar-masuk kawasan kini diawasi ketat menggunakan monitor portal radiasi atau radiation portal monitor (RPM) guna mendeteksi dan menahan potensi sebaran radiasi.
Pemasangan RPM di KIM Cikande
Perekayasa Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Analisis Berkas Nuklir – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dian Fitri Atmoko menjelaskan bahwa RPM dipasang di gerbang keluar KIM Cikande sebagai langkah cepat memantau kendaraan yang meninggalkan area. Tujuannya jelas, agar kontaminasi Cs-137 tidak menyebar ke luar kawasan. Kami harus memastikan setiap kendaraan yang keluar dari area Cikande aman dari paparan radiasi.
BRIN menerima informasi tentang dugaan paparan radiasi di Cikande pada akhir September 2025. Tim survei kemudian memetakan area terdampak dan mengukur laju dosis paparan. Hasilnya menunjukkan paparan Cs-137 tidak hanya berada di lokasi pabrik PMT, tetapi juga telah menyebar melalui udara dan debu ke sejumlah area industri sekitar. Paparan di beberapa titik cukup tinggi, karena itu Satgas di bawah komando Kementerian Lingkungan Hidup meminta kami segera memasang RPM di jalur keluar kawasan industri.

Central Alarm System (CAS). Dok. Tim Satgas Penanganan Cs-137
Faktor-Faktor dalam Pemasangan RPM
Menurut Dian, pemasangan RPM itu tidak dilakukan sembarangan. Tim BRIN mencari titik lokasi dengan laju dosis latar rendah agar alat bekerja optimal tanpa gangguan paparan alami. Lokasi dipilih di depan Gedung Modernland Cikande dengan laju paparan di bawah 0,05 mikrosievert per jam. Selain faktor teknis, tim juga mempertimbangkan infrastruktur, seperti listrik, jaringan komunikasi, dan ruang kendali. Karena alat ini beroperasi 24 jam nonstop, butuh sistem kelistrikan yang stabil dan ruang kontrol untuk mengoperasikan Central Alarm System (CAS).
Dalam waktu kurang dari tiga minggu, kata Dian, RPM berhasil dipasang dan diuji di lapangan. Tim bahkan menyesuaikan desain fondasi agar tidak merusak infrastruktur jalan. Awalnya kami rancang fondasi permanen dan jalur kabel di bawah beton jalan, tapi pihak pengelola mengharapkan desain fondasi tidak banyak mengubah infrastruktur jalan. Akhirnya kami pakai rangka baja portabel yang dikunci dengan dynabolt chemical sedalam 30 sentimeter.
Cara Kerja dan Keberhasilan RPM
Alat seberat 300 kilogram itu mulai beroperasi pada 21 Oktober 2025 pukul 23.50 WIB dan sejak itu bekerja nonstop. Data operasional menunjukkan hasil positif, yaitu tren kontaminasi menurun signifikan. Artinya, dengan proses dekontaminasi yang dilakukan tim gabungan Satgas, efeknya luar biasa. Laju dosis di kendaraan menurun, jumlah kendaraan terkontaminasi semakin sedikit.
Secara sederhana, kata Dian, RPM adalah perangkat pendeteksi pasif untuk menyeleksi pejalan kaki, kendaraan, atau objek lain yang membawa bahan nuklir atau radioaktif. RPM bekerja dengan prinsip deteksi radiasi gamma. Di Cikande, sistem yang digunakan adalah RPM Gross, yang berfungsi mendeteksi peningkatan radiasi tanpa mengidentifikasi jenis isotopnya. RPM jenis ini cocok untuk jalur lalu lintas padat karena kendaraan cukup melintas dengan kecepatan 8–10 km per jam.
Sejarah dan Pengembangan RPM di Indonesia
Dian mengatakan pengembangan RPM di Indonesia telah dimulai sejak 2015 oleh tim peneliti BATAN (kini BRIN) yang terinspirasi oleh meningkatnya kekhawatiran global pasca-tragedi nuklir Fukushima, Jepang. Setelah Fukushima, ada keinginan pemerintah agar pelabuhan dan bandara di Indonesia memasang RPM buatan dalam negeri untuk memantau barang impor.
Dari 2015 hingga 2023, riset RPM menunjukkan kemajuan pesat dengan menghasilkan tujuh jenis RPM. Pada 2015 lahir RPM15, alat deteksi berbasis plastik sintilator untuk kendaraan kecil. Setahun kemudian, hadir RPM16 dengan detektor NaI(Tl) dan detektor neutron untuk area berisiko tinggi, seperti reaktor nuklir. Tahun 2018, lahirlah RPM PPTI, sistem spektroskopi untuk kendaraan besar dan kargo hasil kolaborasi BATAN, UGM, dan PT LEN.
Pentingnya RPM bagi Indonesia
Dian menyebutkan Indonesia memiliki 172 pelabuhan, namun hanya tujuh di antaranya yang memiliki RPM. Ketujuh RPM tersebut merupakan hibah dari International Atomic Energy Agency (IAEA) sejak awal 2000-an, dan kini hanya empat unit yang masih berfungsi. Pelabuhan di Tanjung Priok mulai memasang RPM sendiri bekerja sama dengan perusahaan lokal, tapi sifatnya sewa. Bayangkan, negara sebesar Indonesia cuma punya empat RPM yang bekerja.
Sementara Malaysia punya lebih dari 40 unit untuk satu Pelabuhan Klang. Itu sebabnya kita tidak tahu apakah scrap metal atau kontainer impor membawa bahan radioaktif. Kondisi ini, kata dia, berisiko tinggi bagi keamanan nasional. Walaupun Indonesia tidak memiliki PLTN, berbagai sumber radioaktif buatan digunakan luas dalam industri dan medis. Di rumah sakit ada Cs-137, di industri ada iridium-192 dan cobalt-60 untuk uji tak rusak (NDT). Kalau sumber itu bocor atau hilang dan tidak terdeteksi, risikonya besar.
Tantangan dan Harapan Masa Depan
Kini fokus BRIN beralih pada hilirisasi produk agar bisa diproduksi massal oleh industri nasional. Tugas kami sebagai peneliti sudah sampai pada paten. Selanjutnya tinggal bagaimana lisensinya diberikan ke industri. Namun, ada satu tantangan besar, yakni ketergantungan impor detektor. Detektor gamma masih kita beli dari luar negeri, dan waktu tunggu bisa sampai empat bulan. Kalau industri dalam negeri bisa memproduksi detektor sendiri, itu akan jadi lompatan besar.
Meski proyek riset RPM secara teknis telah ditutup pada 2024, Dian menyebut masih ada peluang pengembangan pada perangkat lunak dan sistem kecerdasan buatan. Target kami berikutnya adalah membuat RPM yang bisa menganalisis sendiri hasil deteksi tanpa operator manusia. Begitu alarm bunyi, sistem langsung menentukan apakah sumbernya alami, buatan, atau anomali lingkungan. Tentu harapan kami bisa berkolaborasi dengan industri.
Prototipe RPM terbaru bahkan telah dilengkapi sensor cuaca untuk memantau arah angin, suhu, dan kelembaban. Misalnya setelah hujan, gas radon naik dan memicu alarm. Dengan sensor cuaca, kita tahu itu faktor alam, bukan kebocoran.
Kasus radiasi Cikande menjadi pengingat bahwa ancaman radiasi tidak selalu datang dari reaktor nuklir, melainkan bisa muncul dari aktivitas industri sehari-hari. Jangan tunggu kasus berikutnya untuk sadar pentingnya pemantauan radiasi. RPM bukan hanya alat, tapi benteng pertahanan tak terlihat yang menjaga kita semua.











