Kehidupan di Bantaran Rel
Di tengah deru kereta yang melaju cepat dan hembusan angin kencang, Sri Mulyani (43), yang akrab disapa Mul, menjalani kehidupannya sehari-hari. Ia tinggal di sebuah gubuk sederhana yang berada di bantaran rel, tepat di antara Stasiun Gang Sentiong dan Stasiun Senen, Jakarta Pusat. Jarak tempat tinggalnya dengan rel hanya sekitar lima langkah orang dewasa, sehingga getaran kereta terasa sampai ke lantai tanah tempat ia dan keluarganya berpijak.
Siang itu, Mul sibuk merapikan tumpukan kardus hasil memulung sejak subuh. Dengan gerobak sederhana, ia menyusuri kawasan Senen hingga Cikini untuk mengumpulkan barang bekas yang kemudian dijual demi menyambung hidup. Dari pekerjaan itu, ia hanya mampu membawa pulang sekitar Rp50 ribu per hari, uang yang harus cukup untuk menghidupi dirinya, ibunya yang telah lanjut usia, serta tiga anaknya.
Mul tidak sendiri. Di dalam gubuk beralaskan tanah dan kerikil itu, ia tinggal bersama ibunya, Karisa (74), serta tiga anaknya yang masih kecil, Ayla (12), Fadila (10), dan seorang balita berusia 3 tahun. Sementara itu, sang suami telah meninggal dunia pada tahun 2025 akibat sakit.
Pahitnya keadaan membuat dua anak tertuanya harus merelakan bangku sekolah. Ayla berhenti sejak kelas 2 SD, sementara Fadila bahkan belum pernah merasakan pendidikan formal. Keterbatasan ekonomi menjadi alasan utama. Sejak merantau dari Bekasi pada 2022, Mul belum mendapatkan pekerjaan tetap. Pilihan menjadi pemulung adalah satu-satunya jalan agar keluarganya tetap bisa makan setiap hari.
“Kalau beras kadang ada yang kasih bantuan. Lauk seadanya saja, yang penting anak-anak bisa makan. Telur dua butir juga kami bagi bersama,” ujar Mul dengan terisak saat ditemui, Kamis (23/4/2026).
Untuk kebutuhan sehari-hari, Mul harus pintar berhemat. Ia membayar listrik sekitar Rp50 ribu per bulan, sementara untuk air bersih ia mengeluarkan Rp7 ribu per hari untuk dua dirigen. Bahkan untuk mandi, ia harus membayar Rp2 ribu setiap kali, sehingga ia dan keluarganya memilih mandi hanya sekali sehari.
Tempat tinggal mereka jauh dari kata layak. Gubuk berlapis terpal itu kerap terasa panas menyengat di siang hari, dan bocor saat hujan turun. Ember-ember diletakkan di berbagai sudut untuk menampung air agar tidak menggenang. Di dalamnya hanya terdapat satu tempat tidur kayu beralaskan karpet tipis, tiga lemari plastik, serta kipas angin tanpa pelindung.
Meski hidup dalam keterbatasan, Mul menyimpan harapan besar. Ia ingin anak-anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik, sesuatu yang tidak pernah ia rasakan karena tidak menamatkan pendidikan. “Saya tidak mau anak saya tidak bisa baca tulis. Biar mereka bisa punya mimpi,” katanya.
Harapan itu sempat mendapat secercah cahaya ketika ia didata sebagai salah satu warga bantaran rel yang akan direlokasi ke hunian yang lebih layak. Program tersebut merupakan bagian dari kebijakan pemerintah di bawah Presiden RI, Prabowo Subianto. Namun hingga kini, Mul belum mengetahui kapan kepindahan itu akan terealisasi.
Ia sempat menerima bantuan uang sebesar Rp2 juta saat kunjungan presiden. Uang itu tidak digunakan untuk hal konsumtif, melainkan untuk memperbaiki gubuknya mengganti terpal agar sedikit lebih tahan dari panas dan hujan.
Harapan Mul terhadap masa depan anak-anaknya kini semakin besar. Baru-baru ini, anaknya, Ayla, telah didata untuk mengikuti program Sekolah Rakyat yang digagas oleh Prabowo Subianto. Meski demikian, hingga saat ini belum ada kepastian mengenai waktu dimulainya sekolah maupun lokasi penempatannya.
Ayla sendiri menunjukkan semangat tinggi untuk melanjutkan pendidikan. Ia bercita-cita menjadi seorang polisi wanita (polwan) agar dapat membanggakan ibunya. “Aku senang kalau nanti bisa lanjut sekolah. Aku ingin membanggakan mamah,” ujar Ayla.
Bagi Mul, hidup mungkin terasa berat. Namun di tengah keterbatasan, ia tetap bertahan, selama anak-anaknya masih bisa makan hari ini, selalu ada harapan untuk esok yang lebih baik.











