Ancaman Blokade Trump Tidak Akan Membuat Iran Tunduk
Sejumlah analis menilai bahwa ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk memblokade Selat Hormuz tidak akan membuat Iran tunduk. Menurut analis pertahanan sekaligus mantan Menteri Informasi Pakistan, Mushahid Hussain Syed, Iran secara efektif telah mengendalikan Selat Hormuz dan tidak benar-benar menutupnya. Ia menjelaskan bahwa situasi di selat tersebut dikelola seperti gerbang tol jalan raya di beberapa negara seperti Inggris, Pakistan, atau Amerika Serikat.
Akses ke Selat Hormuz diatur dengan memerlukan pembayaran, meskipun bukan dalam mata uang petrodolar. Syed menyebut bahwa Iran lebih memilih dibayar dengan mata uang China, yaitu petro-yuan. Ia juga menyarankan bahwa ancaman dari Donald Trump untuk memblokade Selat Hormuz kemungkinan besar hanya gertakan belaka.
Menurut Syed, Selat Hormuz tetap terbuka bahkan sebelum serangan gabungan Israel-AS, dan Iran masih memiliki keunggulan militer di kawasan tersebut. Ia menegaskan bahwa melalui retorika bombastis dan gertakan, Trump berharap dapat menekan atau mengintimidasi Iran agar tunduk. Namun, ia menilai hal itu tidak akan terjadi, baik dalam 43 hari terakhir maupun dalam waktu dekat.
Gertakan AS Buntut Gagal Negosiasi
Keputusan Trump untuk memblokade Selat Hormuz diambil setelah Iran menolak menghentikan ambisi nuklirnya dalam perundingan damai yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu. Meski perundingan panjang diklaim berjalan cukup lancar dan mayoritas hal sudah mencapai kesepakatan, persoalan program nuklir masih menjadi hambatan utama.
Trump menyatakan blokade akan segera diberlakukan terhadap semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz. Ia menulis di platform Truth Social: “Mulai sekarang, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang terbaik di dunia, akan memulai proses MEMBLOKADE setiap dan semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz.” Ia juga mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran, dengan menyatakan bahwa setiap warga Iran yang menembaki AS atau kapal akan DIHANCURKAN.
Negosiasi Buntu
Negosiasi antara AS dan Iran di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan setelah 21 jam kedua belah pihak melakukan pembicaraan. Iran menolak sejumlah syarat yang diajukan AS dan dianggap sebagai tuntutan yang tak masuk akal. Dilansir dari media Iran, Tasnim, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan perundingan antara Iran dan AS berakhir tanpa kesepakatan karena tuntutan berlebihan yang diajukan pihak AS.
Baqaei mengatakan sebetulnya dalam pembicaraan Iran dan AS telah mencapai kesepahaman mengenai sejumlah isu, tetapi ada dua tiga hal penting berbeda pandang dari kedua belah pihak. Kata dia, negosiasi berlangsung dalam suasana ketidakpercayaan dan kecurigaan setelah kedua belah pihak terlibat perang selama 40 hari.
“Wajar jika sejak awal kita tidak mengharapkan tercapainya kesepakatan dalam satu pertemuan,” kata Baqaei dilansir dari Tasnim, Minggu (12/4/2026). “Tidak ada yang mengharapkan itu juga,” lanjut dia.
Situasi Terkini di Selat Hormuz
Selat Hormuz tetap menjadi titik kritis dalam dinamika geopolitik regional. Meski ancaman blokade dari AS muncul, para ahli percaya bahwa Iran akan terus mempertahankan kendali atas jalur strategis ini. Dengan adanya penggunaan petro-yuan sebagai alat transaksi, Iran menunjukkan keinginan untuk mengurangi ketergantungan pada sistem moneter global yang didominasi oleh dolar AS.
Di sisi lain, kegagalan negosiasi antara AS dan Iran menunjukkan bahwa perbedaan pendapat terkait program nuklir masih menjadi penghalang utama. Meskipun terdapat kesepahaman di beberapa isu, kedua pihak masih memiliki perbedaan mendasar yang sulit diatasi dalam waktu singkat.
Pengamatan terhadap situasi ini menunjukkan bahwa konflik antara AS dan Iran tidak akan segera berakhir. Bahkan, ancaman militer dan retorika politik akan terus menjadi bagian dari dinamika hubungan bilateral. Pemantauan terhadap perkembangan di Selat Hormuz dan wilayah sekitarnya akan menjadi kunci dalam menilai arah dari konflik ini.










