My WordPress Blog
Budaya  

Kubah Datu H Abdullah, Destinasi Wisata Religi di HSU Dukungan Sahrujani Jadi Cagar Budaya

Kubah Datu H Abdullah: Destinasi Wisata Religi di Hulu Sungai Utara

Kubah Datu H Abdullah yang berada di Desa Jumba, Amuntai Selatan, menjadi salah satu destinasi wisata religi yang menarik perhatian masyarakat. Bukan hanya warga dari Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) saja yang sering berkunjung ke tempat ini, tetapi juga banyak pengunjung dari luar kabupaten dan bahkan luar provinsi Kalimantan Selatan.

Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa keturunan Datu H Abdullah kini tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Sehingga tidak heran jika kubah ini menjadi pusat perhatian bagi keluarga besar yang ingin melakukan ziarah dan mengenang perjuangan leluhur mereka.

Bupati Hulu Sungai Utara, Sahrujani, menyampaikan dukungan penuh terhadap usulan untuk menjadikan makam Datu H Abdullah sebagai cagar budaya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa proses penetapan tersebut harus melalui prosedur yang telah ditentukan.

“Ulun dukung diusulkan menjadi cagar budaya,” ujar Sahrujani saat hadir dalam acara Haul Datu H Abdullah di Desa Jumba, Amuntai Selatan, beberapa waktu lalu. Ia juga mendukung pembuatan jalan tembus dari Desa Jumba ke Sungai Malang, agar mempermudah akses bagi warga Amuntai yang ingin berziarah ke kubah ini.

Sahrujani menekankan pentingnya pengawasan terhadap pembuatan jalan tersebut, dengan mengimbau kepada para pembakal, lurah, dan camat untuk bersama-sama mengawal proyek ini.

Dalam acara haul kemarin, Bupati Sahrujani juga menyampaikan rasa syukur atas kesempatan untuk hadir dalam kegiatan tersebut sekaligus bersilaturahmi dengan warga Amuntai Selatan. Acara haul Datu H Abdullah dilaksanakan setiap tahun pada tanggal 3 Syawal, dan selalu dihadiri oleh tokoh agama, tokoh masyarakat, serta jemaah dari berbagai daerah di HSU.

Tampak hadir pula beberapa keturunan dari Datu H Abdullah, seperti H Abdul Latief Hanafiah, H Muhammad Indra Putera, anak dari mantan Bupati Batola Eddy Sukarma, serta perwakilan dari mantan Wakil Gubernur Kalsel Rudy Resnawan.

Perjalanan Perjuangan Datu H Abdullah

Datu H Abdullah adalah seorang tokoh pahlawan yang gugur dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda. Ia tidak pernah mau bersekutu dengan pihak kolonial hingga akhirnya tewas ditembak oleh pasukan Belanda.

Salah satu keturunan Datu Abdullah, Abdul Latief Hanafiah, menjelaskan bahwa Datu Abdullah gugur dalam perang Banjar pada 15 September 1860 di Sungai Malang, Amuntai Tengah. Ia memimpin pertempuran puputan bersama Panglima Hampang melawan penjajah Belanda.

Sejarah ini dikutip dari buku Banjarmasinsche Krijg oleh Van Rees. Setelah proklamasi 11 Juni 1860 tentang penghapusan Kesultanan Banjar oleh pemerintah Hindia Belanda, wilayah-wilayah Kesultanan Banjar mulai dikuasai oleh penjajah, termasuk di Amuntai.

Pada masa itu, rakyat Amuntai masih setia kepada Kesultanan Banjar, sehingga sering terjadi gangguan terhadap konvoi Belanda yang berpatroli di sekitar Amuntai. Salah satu pimpinan perlawanan yang terkenal adalah Datu Haji Abdullah, seorang ulama yang memiliki semangat perang sabil.

Ia sering menggelorakan semangat perang dari masjid ke masjid sekeliling Amuntai. Saat itu, pasukan Belanda sangat kewalahan menghadapi aksi pencegatan oleh pasukan Haji Abdullah.

Pada suatu sergapan di Sungai Banar, Haji Abdullah tertembak peluru Belanda di bagian paha dan terpaksa mundur ke Kampung Sungai Malang. Asisten Residen van Oijen mengetahui informasi ini dan mengirimkan 3 peleton tentara bersenjata lengkap ke Sungai Malang.

Tiga peleton ini dipimpin oleh Letnan van Emde, Letnan Verspyck, dan Letnan van Der Wijck. Mereka tiba di rumah Haji Abdullah di Sungai Malang tanpa rombongan tambur dan terompet, namun langsung mengepung rumah tersebut.

Haji Abdullah tidak percaya niat baik Belanda dan segera menyiagakan 19 orang pasukannya. Pada akhirnya terjadi pertempuran jarak dekat, dan Haji Abdullah beserta 24 pasukan dan keluarganya gugur dalam medan perang.

Seluruh pasukan Haji Abdullah dimakamkan di Desa Jumba, Telaga Silaba, Amuntai, Hulu Sungai Utara. Satu-satunya anak yang selamat adalah Matarip, yang saat itu berusia 9 tahun dan bersembunyi di atas pohon.

Keturunan Matarip, Sanang, kini tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Beberapa keturunan H Datu Abdullah juga tercatat sebagai tokoh penting, seperti mantan Menteri Agraria era Soekarno, H Mohammad Hanafiah, mantan Wali Kota Banjarbaru Rudy Resnawan, mantan Bupati Batola Eddy Sukarma, hingga mantan Gubernur Kaltim A Wahab Syahrani.

Tradisi Haul Datu H Abdullah

Haul Datu H Abdullah dilakukan setiap tahun pada tanggal 3 Syawal, sesuai dengan tradisi yang telah berlangsung sejak lama. Acara ini selalu dihadiri oleh para keturunan dan masyarakat luas, dengan suasana yang khidmat dan penuh kebersamaan.

Dalam kesempatan ini, Bupati Sahrujani menyampaikan pesan penting bahwa kegiatan haul bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga menjadi sarana untuk mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.

“Melalui kegiatan ini, kita diingatkan akan perjuangan dan jasa para ulama seperti Datu H. Abdullah, yang telah memberikan kontribusi besar bagi daerah dan bangsa. Semoga kita dapat meneladani semangat perjuangan dan keikhlasan beliau,” ujarnya.


Rafitman

Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *