My WordPress Blog

Badawi Rahman: Pemimpin JI yang Membangun Damai



jateng. SEMARANG — Mantan perakit senjata jaringan terorisme Jamaah Islamiyah (JI) kini sibuk menjual bubur kacang hijau di Kota Semarang, Jawa Tengah. Dia pun mengisahkan perjalanan dari ekstremisme menuju kedamaian dan toleransi kepada JPNN Jateng pada Rabu (11/3).

Saat ditemui JPNN, Badawi Rahman yang berusia 56 tahun itu tampak duduk tenang di antara pengurus Yayasan Kristen Jelai Kasih Indonesia dalam acara buka puasa bersama di salah satu resto di Kota Semarang. Jauh dari sosok yang bertahun-tahun menjadi bagian dari jaringan terorisme yang merakit senjata.

Dia ingat persis bagaimana pertama kali mengenal dunia ekstremisme. Bukan dari buku radikal yang disodorkan seseorang dan bukan dari internet. Namun, dari masjid dekat rumahnya, di Semarang, tempat dia tumbuh sebagai anak yang rajin mengaji.

“Dari kecil, karena memang dari masjid. Saya orang yang suka mengaji, terus kemudian ternyata di masjid itu ada orang-orang yang mengajarkan (ekstremisme) dan saya mengalir begitu saja di situ,” ungkapnya.

Ketika kerusuhan Poso memuncak di awal 2000-an, Badawi melihat sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi, yakni senjata. Di Jawa, jauh dari pusat konflik, dia dan jaringannya mendirikan bengkel perakit senjata.

“Saya belajar merakit senjata secara autodidak,” katanya.

Lokasi bengkel senjatanya berada di Prambanan dan Klaten. Bahan baku besi berkualitas tinggi didatangkan dari Surabaya. Dengan keahlian membongkar-pasang senjata hingga ke komponen terkecil, Badawi memimpin proses duplikasi berbagai jenis senjata, dari laras panjang hingga pendek.

“Kalau kami bikin (senjata) itu secara kelompok dengan bagian merakit masing-masing komponen senjara. Kalau sudah jadi, terus ditaruh di kotak, langsung dikasih ke bunker-bunker. Bunkernya ada di Jogja,” ungkapnya.

Dia bercerita dengan detail soal teknis pembuatan, mulai tentang chamber, barel, firing pin, hingga betapa sulitnya mencari besi dengan tingkat baja yang tepat agar peluru tidak meledak ke arah yang salah. Ilmu yang dia dapat bukan dari sekolah teknik mana pun. Murni dari mengamati, membongkar, dan mencoba.

“Senjata-senjata itu tidak pernah digunakan, tersimpan di bunker. Itu untuk siaga kalau konflik benar-benar datang di Jawa,” tuturnya.

Pasang Badan & Titik Mula Kesadaran

Selama bertahun-tahun, Badawi selalu lolos dari kejaran polisi. Setiap kali aparat mendekati, dia berhasil menghilang. Sampai pada 2014, di Prambanan, di bengkelnya sendiri, dia memilih untuk tidak lari.

“Waktu terakhir itu sebenarnya saya bisa lolos. Namun, saya berpikir, ada yang salah dalam perjuangan saya. Sudah saatnya saya pasang badan,” kenangnya.

Baginya, ditangkap polisi bukanlah kepasrahan semata. Itu adalah sebuah pertanyaan yang sudah lama menggantung di benaknya dan akhirnya menuntut jawaban. Dia pun divonis 5 tahun penjara. “Saya dapat remisi dan hanya menjalani 3,5 tahun penjara,” katanya.

Di dalam penjara, Badawi bertemu dua hal yang mengubahnya, yakni teman-teman seperjuangan yang justru membuatnya berpikir ulang, dan sejarah yang selama ini tak pernah dia baca dengan utuh.

“Teman-teman seperjuangan yang keras itu justru membuat saya berpikir banyak. Mereka salah menerapkan ajaran. Kemudian saya belajar berbagai macam aliran. Saya belajar sejarah Indonesia, sejarah Rasulullah,” katanya.

Dari sanalah dia menemukan kesimpulan yang baginya terasa seperti rekonsiliasi antara dua dunia yang selama ini dipikir saling bermusuhan, Pancasila dan Islam. Dia membaca Piagam Madinah, membandingkannya dengan dasar negara, dan menemukan bahwa Pancasila yang selama ini dianggap sebagai penghalang syariat justru berpijak pada kaidah-kaidah Islam itu sendiri.

“Ternyata lima sila yang mendasari negara, itu ternyata dibangun dari Alquran. Yang membuat Pancasila, kan, ulama-ulama terdahulu,” katanya.

Hari ini, Badawi berjualan bubur kacang hijau di kawasan Pusponjolo, Semarang. Yang berubah bukan hanya pekerjaannya. Cara pandangnya terhadap aparat dan institusi negara pun berbalik sepenuhnya.

“Dulu mungkin saya menakut-nakuti aparat dan pegawai pemerintah. Namun, sekarang justru malah dekat, saling membantu, saling kolaborasi bersama-sama,” katanya menutup cerita sore itu.

Pembinaan yang Berkelanjutan

Perubahan Badawi tidak terjadi dalam ruang hampa. Di baliknya ada Yayasan Persadani (Putra Persaudaraan Anak Negeri) dan Bripka Purnomo Budi Setiawan, yang selama ini mendampingi kehidupan para eks napiter di Semarang setelah mereka bebas.

Ketua Yayasan Persadani Sri Pujimulyo Siswanto menjelaskan bahwa organisasinya saat ini menaungi 67 mantan napiter yang tersebar di Jawa Tengah, 20 di antaranya berdomisili di Kota Semarang. Dari total itu, sekitar 70 persen berasal dari jaringan Jamaah Islamiyah, sisanya 30 persen dari Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Persadani baru resmi berdiri pada Maret 2020, penanda bahwa proses pelunakan ideologi di kalangan eks napiter membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sri Pujimulyo mengakui bahwa sebelum titik itu, bahkan di antara sesama anggota internal pun masih ada ganjalan untuk membuka diri kepada pihak luar.

“Dulu kesulitan bahkan mungkin dari internal kami sendiri untuk menerima pihak lain, belum cair. Masih ada ganjalan-ganjalan. Namun, setelah 2020 hal-hal seperti itu sudah mulai hilang,” tuturnya.

Dia memberikan pandangannya dengan keyakinan yang sederhana, tetapi kuat. “Kami optimistis bahwa apa yang kami dan kawan-kawan bawa ini sesuai dengan fitrah, sesuai dengan hati nurani masyarakat luar,” ungkapnya.

Bripka Purnomo, yang mendampingi dari sisi kepolisian, menegaskan bahwa program ke depan akan terus diarahkan pada pemberdayaan ekonomi.

“Ke depan, kami selalu memberikan pelatihan-pelatihan produktif yang bermuara pada kesejahteraan para mantan napiter dan keluarganya,” ungkapnya.

Badawi adalah salah satu dari mereka yang kini aktif dalam lingkaran Persadani — hadir di pertemuan, ikut dalam program, dan pada hari itu, hadir di meja buka puasa bersama yayasan Kristen.

Satu dari Ribuan

Kisah Badawi bukan menjadi salah satu yang berhasil keluar dari lingkaran terorisme. Data menunjukkan betapa massifnya tantangan deradikalisasi yang dihadapi Indonesia, sekaligus betapa nyatanya kemajuan yang telah dicapai.

Per Oktober 2023, tercatat 374 narapidana terorisme masih mendekam di berbagai lembaga pemasyarakatan di seluruh Indonesia. Sementara dalam rentang 2023 hingga September 2025, BNPT mencatat 230 orang ditangkap karena bergabung atau mendukung kelompok teroris (mayoritas afiliasi ISIS) dan 362 orang disidangkan. Di sisi lain, 27 rencana serangan berhasil digagalkan dalam periode yang sama.

Namun, Indonesia tidak mencatat satu pun serangan terorisme sejak 2023 hingga 2025, dua tahun berturut-turut nihil serangan terbuka.

Global Terrorism Index (GTI) 2025 yang diluncurkan Maret 2025 menempatkan Indonesia di peringkat ke-30 dalam kategori medium impact of terrorism, sebuah posisi yang mencerminkan perbaikan signifikan dalam penanganan ancaman teror dibanding dekade sebelumnya.

Yang tak kalah penting adalah apa yang terjadi di luar angka-angka itu. Pada 21 Desember 2024, sekitar 7.000 eks anggota Jamaah Islamiyah, jaringan yang sama dengan yang pernah menjadi rumah Badawi, mendeklarasikan pembubaran organisasi mereka dan ikrar setia kepada NKRI di Surakarta. Sebuah momen bersejarah yang menjadi deklarasi ke-45 dalam rangkaian pembubaran JI di seluruh Indonesia sejak Juni 2024.

Kini BNPT bahkan sedang mengkaji kemungkinan pemberian pembebasan bersyarat bagi dua mantan pemimpin JI serta amnesti bagi anggotanya yang masih mendekam di penjara. Di Jawa Tengah, tercatat 351 orang mitra deradikalisasi yang aktif dibina pemerintah sejak 2024.

Meski begitu, ancaman belum sepenuhnya padam. Radikalisasi kini bermigrasi ke ruang digital yang lebih senyap, lebih sulit dilacak, tetapi tidak kalah berbahaya.

Dian Sasmita

Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *