My WordPress Blog

Jembatan Mahakam Sering Ditabrak, Akademisi Sebut Manajemen Alur Sungai Kacau

Insiden Kapal yang Kembali Menghantam Jembatan Mahakam Memicu Perdebatan Publik

Insiden kapal yang kembali menghantam Jembatan Mahakam pada malam hari Minggu, 8 Maret 2026 lalu, telah memicu perdebatan di ruang publik. Tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, insiden ini juga membawa isu lebih dalam terkait pengelolaan infrastruktur dan kebijakan pemerintah daerah.

Wakil Ketua DPRD Kaltim, Ananda Emira Moeis, menjadi salah satu tokoh yang vokal menyuarakan kekhawatiran warga terhadap kondisi jembatan tersebut. Ia menyoroti pentingnya penanganan masalah ini secara sistematis, bukan hanya sekadar menghitung ganti rugi akibat kerusakan.

Akademisi Universitas Mulawarman (Unmul), Khairil Anwar, turut memberikan komentarnya. Ia setuju bahwa penanganan insiden selama ini masih dangkal dan tidak menyentuh akar masalah sistemik di alur Sungai Mahakam. Menurutnya, frekuensi tabrakan yang semakin sering menunjukkan manajemen lalu lintas sungai yang amburadul.

“Sebagai orang Kaltim tentu kita sedih, marah, dan kesal melihat kejadian yang terus berulang. Dulu jembatan memang pernah ditabrak, tetapi tidak sesering sekarang. Ini menunjukkan lalu lintas di Sungai Mahakam semakin padat, tapi pengawasannya minim,” tegas Cody, sapaan akrabnya kepada Tribun Kaltim, Kamis (1/3/2026).

Ia mengkritik pola penanganan otoritas terkait yang selama ini dianggap hanya ‘main mata’ dengan urusan ganti rugi fisik, tanpa memikirkan umur teknis jembatan. Untuk itu, tidak salah jika DPRD Kaltim menyematkan salah satu poin terkait keterlibatan Perusahaan Daerah (Perusda) dalam setiap aktivitas di aliran sungai yang melewati aset daerah.

Penanganan Masalah yang Harus Lebih Serius

DPRD Kalimantan Timur menyayangkan banyak kapal yang justru langsung berurusan dengan Pelindo tanpa melibatkan pemerintah daerah seperti juga yang diungkapkan oleh Ketua DPRD Kaltim merespons insiden terbaru. Pemprov Kaltim bisa dilibatkan dalam lalu lintas alur Sungai Mahakam dan titik tambat, dan hal ini mesti dikomunikasikan secara intens dengan otoritas terkait.

“Begitu ditabrak, yang dihitung hanya kerusakan lalu ganti rugi. Padahal jembatan itu dibangun untuk puluhan tahun. Kalau terus-menerus ditabrak, umur teknisnya pasti pendek. Siapa yang rugi? Rakyat Kaltim,” imbuhnya.

“Pemprov seharusnya dilibatkan dalam pengaturan lalu lintas. Misal mengatur jadwal melintas atau titik parkir sebelum melewati jembatan, tentu komunikasi intens mesti dilakukan ke otoritas terkait,” sambung Cody.

Lebih jauh, Cody menyoroti ketimpangan manfaat yang didapat daerah. Sungai Mahakam menjadi jalur emas bagi pengangkutan logistik hasil Sumber Daya Alam (SDA) Kaltim, namun dampaknya justru merugikan masyarakat lokal. Setiap kali jembatan ditabrak dan harus ditutup untuk pengecekan, urat nadi logistik macet total.

Truk-truk pengangkut kebutuhan pokok mengantre panjang, dan biaya ekonomi melonjak. “Logistik SDA lewat sungai, tapi begitu turun ke air tidak ada lagi pendapatan bagi Kaltim. Yang ada justru kita menanggung resiko kerusakan, pencemaran, hingga kecelakaan. Kerugian ekonomi akibat macetnya distribusi tidak pernah dihitung dalam ganti rugi,” bebernya.

Framing Negatif di Media Sosial

Di sisi lain, Cody juga menyoroti fenomena framing negatif di media sosial yang menyerang pribadi Ananda Moeis. Menurutnya, publik mesti menyadari bahwa ada upaya sistematis untuk mengaburkan substansi masalah dengan menyerang gaya penyampaian legislator ini.

Bukan hanya pada insiden terbaru saja, politikus PDI Perjuangan ini juga angkat bicara terkait insiden penabrakan yang terjadi di Jembatan Mahulu Samarinda. “Yang terjadi sekarang justru substansinya hilang. Yang disorot malah personalnya. Padahal apa yang disampaikan Ananda Moeis itu menyangkut kepentingan masyarakat Kaltim,” kata Cody.

Ia menilai, keresahan yang disampaikan Ananda adalah suara hati banyak warga Kaltim yang merasa aset daerahnya dirusak tanpa ada efek jera bagi pelaku pelayaran. “Selama yang disampaikan adalah kepentingan publik terkait jembatan, framing negatif tidak akan menghentikan substansinya. Masyarakat merasakan persoalan yang sama,” tandasnya.

Kekhawatiran tentang Dampak Ekonomi

Sebelumnya, Wakil Ketua DPRD Kaltim, Ananda Emira Moeis menyuarakan agar kejadian yang terus berulang ini tidak sekadar persoalan ganti rugi kemudian berlalu begitu saja. Kekhawatiran mendalam terkait dampak ekonomi kerakyatan yang terancam jika infrastruktur vital tersebut terus-menerus mengalami kerusakan akibat insiden serupa menjadi poin penting.

Ia menegaskan bahwa jembatan-jembatan yang membentang di atas Sungai Mahakam, seperti Jembatan Mahakam, Jembatan Mahkota, dan terlebih lagi Jembatan Mahulu ialah urat nadi distribusi logistik bagi masyarakat Kaltim. Jembatan yang membentang diatas Sungai Mahakam ini sekadar penghubung antar wilayah di Kota Samarinda saja, melainkan sangat vital bagi perputaran ekonomi.

Ia menggarisbawahi bahwa gangguan pada jalur transportasi darat, akan berdampak langsung pada biaya hidup warga. “Ini modal vitalnya Kaltim untuk transportasi penghubung dan ekonomi kemasyarakatan. Memang begitu seriusnya Samarinda ini menjadi penghubung akses antar Kabupaten/Kota, ini yang mesti disadari bersama,” ungkap Ananda Moeis kepada Tribun Kaltim, Kamis (12/3/2026).

Jembatan Mahulu misalnya yang sempat terjadi insiden 3 kali tabrakan tongkang, hingga akhirnya mewajibkan adanya uji dinamis dengan menutup akses untuk melintas. Kendaraan berat yang biasanya melintas kala itu mesti memutar jauh untuk mengantar logistik ke area pergudangan, pasar–pasar, bahkan tempat warga berusaha seperti gudang grosir dan distributor bahan pokok penting (bapokting). Hal ini membuat ekonomi di beberapa wilayah sempat macet sehingga ada keterlambatan, belum lagi biaya yang dikeluarkan pengirim barang melonjak.

“Jalur distribusi, jalur logistik, transportasi kita utamanya di situ. Kalau jembatan bermasalah, dampaknya banyak, ekonomi kita tumbuh tapi melambat, distribusi logistik terhambat, ujung-ujungnya inflasi karena harga barang jadi naik,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya pengawasan ketat dari Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) serta Pelindo dan instansi terkait lainnya. Ananda Moeis meminta dengan sangat, agar Standar Operasional Prosedur (SOP) pengolongan kapal, terutama terkait penggunaan kapal pandu (escort dan assist), dilaksanakan tanpa celah.

Aktivitas pengolongan mesti berjalan dengan kontrol waktu yang ketat, agar potensi kesalahan diminimalisir sehingga faktor keamanan harus menjadi prioritas utama demi menjaga ‘umur’ jembatan. “Infrastruktur ini mesti kita jaga bersama, para pengusaha dibantu otoritas maritim yang ada saya yakin dapat memperbaiki sistem keamanan yang ada, serta meminimalisir insiden serupa terjadi,” tukasnya.

Ananda Moeis juga mendorong adanya tindakan yang lebih memberikan efek jera (punishment). Ia tidak ingin insiden ini hanya dianggap sebagai human error semata tanpa ada evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan di alur sungai. DPRD Kaltim berkomitmen akan terus memonitor evaluasi dari Pelindo dan KSOP agar urat nadi ekonomi masyarakat Kaltim ini tidak lagi terancam oleh kelalaian di masa mendatang.

“Harus ada sanksi tegas, supaya kerjanya lebih hati-hati. Bukan cuma penabraknya, tapi sistem pengawasannya juga dievaluasi,” pungkasnya.


Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *