Serangan Rudal dan Drone Iran ke Pangkalan Militer AS di Wilayah Teluk
Iran kembali meluncurkan serangan terhadap instalasi militer AS di beberapa negara Teluk. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan bahwa gelombang serangan ke-51 dilakukan sebagai balasan atas tindakan Amerika-Israel. Serangan ini menggunakan kombinasi rudal berbahan bakar cair dan padat, yang ditujukan terhadap pasukan AS di Pangkalan Udara Al Kharj di Arab Saudi.
Menurut pernyataan IRGC, pangkalan Al Kharj berfungsi sebagai awal mula serangan AS terhadap Iran. Pernyataan tersebut menyebutkan bahwa pangkalan tersebut menjadi tempat persiapan bagi jet tempur F-35 dan F-16 AS yang terlibat dalam serangan terhadap Iran. Selain itu, pangkalan ini juga menampung pesawat pengangkut bahan bakar dan berfungsi sebagai pusat utama bagi pesawat pengintai AWACS Amerika.
Target Serangan Iran
Serangan Iran tidak hanya ditujukan ke Pangkalan Udara Al Kharj, tetapi juga ke sejumlah pangkalan militer AS di wilayah Teluk. Beberapa pangkalan yang disebut dalam pernyataan termasuk Pangkalan Udara Al Dhafra dan Fujairah di UEA, Jufair di Bahrain, Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait, serta Pangkalan Udara Al Azraq di Yordania. Selain itu, sistem radar peringatan dini yang ditempatkan di seluruh wilayah juga menjadi target serangan.
Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya mengonfirmasi bahwa gelombang ke-50 operasi Iran berhasil menghantam beberapa pangkalan militer AS. Serangan tepat sasaran ini dilakukan oleh drone serang presisi dan peledak yang dioperasikan oleh Angkatan Udara IRGC. Drone-drone tersebut diklaim telah mematikan tempat persembunyian tentara AS di wilayah tersebut setelah melakukan pengumpulan informasi intelijen.
Klaim Arab Saudi Mengenai Pencegatan Serangan
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengklaim telah mencegat 20 drone dan satu rudal balistik sejak Jumat (13/3/2026) malam. Gelombang serangan baru dimulai pada Jumat pukul 19.00 waktu setempat, atau 10 jam setelah serangan sebelumnya yang dilaporkan terjadi pada Jumat pagi sekira pukul 09.00.
Pada Sabtu (14/3/2026), dua drone dicegat dan dihancurkan di wilayah Timur. Juru Bicara Kementerian Pertahanan, Mayor Jenderal Turki Al-Maliki, melaporkan bahwa pihaknya telah menangkal enam rudal balistik yang diluncurkan ke arah Kegubernuran Al-Kharj. Dalam laporan tersebut, 17 drone dicegat di Provinsi Timur, dua di Gurun Rub’ al Khali, dan satu di provinsi utara Al-Jouf.
Rudal tunggal tersebut diarahkan ke Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Al-Kharj, sekitar 80 kilometer tenggara kota Riyadh. Meskipun Kementerian Pertahanan Arab Saudi tidak menyebutkan asal serangan tersebut, klaim mereka menunjukkan bahwa upaya pertahanan negara tersebut cukup efektif.
Dampak Serangan di Wilayah Teluk
Dilansir dari Aljazeera.com, Iran terus melancarkan serangan rudal dan drone di seluruh wilayah Teluk. Serangan Teheran menargetkan beberapa negara, termasuk Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA), pada Jumat malam hingga Sabtu pagi.
Di emirat Fujairah, Uni Emirat Arab, kebakaran terjadi di pusat pengisian bahan bakar utama setelah puing-puing berjatuhan saat pencegatan drone. Seorang warga negara Yordania mengalami luka ringan dalam insiden tersebut. Pasukan pertahanan sipil menangani insiden tersebut dan berupaya memadamkan api. Sejumlah operasi pemuatan minyak dihentikan sementara setelah kejadian tersebut.
Fujairah, yang terletak di luar Selat Hormuz, merupakan jalur keluar untuk sekitar satu juta barel minyak mentah Murban milik UEA setiap harinya. Sementara itu, Kantor Media Dubai mengatakan puing-puing yang berjatuhan menghantam fasad sebuah bangunan di area pusatnya, setelah serangan Iran berhasil ditembak jatuh.











