My WordPress Blog

Kekhawatiran AS Berkhianat, Netanyahu Minta Klarifikasi Hubungan dengan Iran

Kekhawatiran Perdana Menteri Israel terhadap Potensi Pembicaraan Rahasia dengan Iran

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mulai merasa panik dan khawatir di tengah eskalasi serangan dari Iran yang semakin meluas. Keadaan ini memicu kekhawatiran bahwa mungkin saja terjadi pembicaraan rahasia antara Amerika Serikat dan Iran. Kekhawatiran tersebut muncul saat Israel dan AS menghadapi ketegangan dengan Teheran.

Laporan media Axios menyebutkan bahwa Netanyahu sempat mendekati Gedung Putih setelah menerima informasi intelijen yang menyatakan bahwa pemerintahan Presiden AS Donald Trump kemungkinan menjalin komunikasi dengan Iran untuk membahas peluang gencatan senjata. Namun, Gedung Putih segera menepis informasi tersebut. Pemerintah AS menegaskan bahwa tidak ada pembicaraan rahasia dengan Teheran mengenai penghentian perang.

Kecurigaan tersebut menunjukkan adanya potensi gesekan di antara sekutu dekat yang baru saja melakukan serangan bersama terhadap rezim Iran. Netanyahu disebut khawatir konflik berakhir terlalu cepat sebelum Israel mencapai seluruh tujuan militernya.

Laporan The New York Times menyebutkan bahwa intelijen Iran sempat menghubungi Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) untuk membahas kemungkinan syarat mengakhiri konflik. Namun tawaran tersebut dipandang skeptis oleh pihak AS.

Setelah menerima penjelasan dari Washington, Netanyahu kembali diyakinkan bahwa pemerintah AS tidak melakukan komunikasi dengan Iran. Seorang pejabat AS menyatakan bahwa utusan perdamaian Steve Witkoff dan Jared Kushner hampir setiap hari berkomunikasi dengan Netanyahu untuk memastikan koordinasi tetap terjaga.

“Kami tidak berbicara dengan Iran,” kata pejabat tersebut menegaskan posisi Washington. Presiden Donald Trump juga secara terbuka menolak kemungkinan pembicaraan dengan pemerintah Iran. Dalam unggahannya di platform Truth Social, ia menyebut kemampuan militer Iran telah melemah secara signifikan.

Trump menulis bahwa pertahanan udara, angkatan udara, angkatan laut, serta kepemimpinan Iran telah mengalami kehancuran akibat serangan yang terjadi. “Mereka ingin berbicara. Saya katakan sudah terlambat,” tulis Trump.

Pemerintahan Trump menyatakan tujuan utama operasi militer adalah menghancurkan program nuklir Iran, melemahkan kemampuan rudal balistik, serta menekan kekuatan angkatan laut dan kelompok proksi Iran di kawasan Timur Tengah. Meskipun tidak secara langsung menyatakan tujuan mengganti rezim, Trump beberapa kali menyerukan rakyat Iran untuk mengambil alih pemerintahan mereka sendiri.

“Itu akan menjadi milik kalian,” ujarnya. Di sisi lain, Israel menargetkan tokoh-tokoh penting dalam pemerintahan Iran. Dalam sebuah operasi militer, Israel dilaporkan melancarkan serangan udara besar di pusat Teheran yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Gedung Putih menyebut hingga Rabu sedikitnya 49 tokoh senior Iran telah tewas sejak konflik dimulai. Trump juga sempat menyebut skenario politik yang dianggapnya ideal bagi Iran adalah model seperti Venezuela, ketika Delcy Rodriguez mengambil alih kekuasaan setelah Amerika Serikat menangkap Nicolas Maduro. Namun skenario tersebut dinilai berisiko gagal karena banyak tokoh senior Iran telah menjadi target serangan udara Israel.

“Sebagian besar orang yang kami pikirkan sudah mati,” kata Trump. Sejumlah analis menilai Israel mungkin tidak menginginkan skenario yang memungkinkan rezim Iran tetap bertahan, meskipun lebih bersahabat dengan kepentingan Amerika Serikat.

Dampak Ekonomi Perang bagi Israel

Perang yang berkepanjangan juga menimbulkan tekanan besar terhadap ekonomi Israel. Kementerian Keuangan Israel memperkirakan negara itu mengalami kerugian lebih dari 9 miliar shekel atau sekitar 2,93 miliar dolar AS setiap minggu akibat konflik dengan Iran. Bila pembatasan aktivitas dalam status “zona merah” terus diterapkan, kerugian bahkan dapat meningkat hingga 9,4 miliar shekel atau sekitar 3,06 miliar dolar AS per minggu.

Kebijakan tersebut mencakup pembatasan perjalanan ke tempat kerja, penutupan sekolah, serta mobilisasi pasukan cadangan militer yang mengganggu aktivitas ekonomi di berbagai sektor. Sejak konflik dimulai, Israel juga harus menghadapi serangan balasan berupa rudal dan drone dari Iran. Beberapa kota besar seperti Haifa dan Tel Aviv dilaporkan mengalami serangan berulang.

Layanan darurat bekerja di bawah tekanan tinggi, sementara warga berkali-kali harus mencari perlindungan di bunker. Meski demikian, dukungan publik terhadap perang masih relatif tinggi.

Ekonom politik Shir Hever menilai situasi kali ini berbeda dengan konflik singkat yang berlangsung selama 12 hari pada Juni 2025. Menurutnya, masyarakat Israel saat ini menunjukkan tingkat militansi dan rasa percaya diri yang lebih besar. Sementara itu, akademisi dari Tel Aviv University, Daniel Bar-Tal, menyebut persepsi masyarakat Israel terhadap Iran sebagai musuh utama telah terbentuk sejak lama melalui sistem pendidikan dan pengalaman militer.

Ia membandingkan kondisi psikologis masyarakat Israel saat ini dengan pengalaman warga Inggris selama serangan udara Blitz pada Perang Dunia II.

Pertimbangan Militer dan Ketahanan Israel

Analis pertahanan Hamze Attar menyebut Iran meluncurkan lebih dari 200 rudal balistik ke Israel dalam tiga hari pertama konflik. Tanpa dukungan militer Amerika Serikat, Israel dinilai kemungkinan besar akan kesulitan mempertahankan kendali atas wilayah udaranya.

Israel mengandalkan tiga sistem pertahanan udara utama, yakni Iron Dome, David’s Sling, dan Arrow 2/3. Namun stok rudal pencegat sistem tersebut terbatas. Jika konflik berlangsung lama, Israel berpotensi harus mengatur ulang prioritas penggunaan sistem pertahanan tersebut.

Dalam kondisi tersebut, fokus perlindungan kemungkinan akan diprioritaskan untuk target militer dan politik, yang berpotensi meningkatkan risiko korban sipil. Di sisi lain, tekanan ekonomi juga semakin terasa. Setelah lebih dari dua tahun menghadapi konflik di berbagai front, pengeluaran militer Israel meningkat tajam.

Pengeluaran perang Israel tercatat mencapai sekitar 31 miliar dolar AS pada 2024 dan meningkat menjadi 55 miliar dolar AS pada 2025. Kondisi ini bahkan menyebabkan penurunan peringkat kredit negara tersebut.

Shir Hever menyebut Israel kini menghadapi tekanan di berbagai sektor. “Israel sedang mengalami krisis utang, energi, transportasi, dan layanan kesehatan,” ujarnya.

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *