My WordPress Blog
Budaya  

Legenda Rara Anteng dan Jaka Seger dalam Tradisi Yadnya Kasada Suku Tengger Bromo

Tradisi Yadnya Kasada: Ritual Sakral Masyarakat Suku Tengger di Gunung Bromo

Tradisi Yadnya Kasada merupakan ritual sakral yang dilakukan oleh masyarakat Suku Tengger di sekitar kawasan Gunung Bromo. Ritual ini menjadi bentuk rasa syukur dan doa keselamatan kepada Sang Hyang Widhi. Upacara ini memiliki makna spiritual yang dalam dan menjadi bagian dari kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun.

Asal Usul Upacara Yadnya Kasada

Ritual ini berawal dari legenda pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger, yang dipercaya sebagai leluhur masyarakat Tengger. Nama “Tengger” sendiri berasal dari gabungan akhir nama keduanya, yaitu “teng” dari Rara Anteng dan “ger” dari Jaka Seger.

Kisah tersebut mengisahkan bahwa Rara Anteng, putri Raja Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit, melarikan diri ke Pegunungan Tengger setelah keruntuhan Majapahit. Ia kemudian diasuh oleh seorang pendeta bernama Resi Dadap Putih dan bertemu dengan Jaka Seger dari Kediri. Pasangan ini menikah dan akhirnya dikaruniai 25 orang anak.

Namun, mereka pernah berjanji akan mengorbankan salah satu anaknya kepada para dewa. Ketika janji itu tidak dipenuhi, Gunung Bromo meletus dan mengambil anak bungsu mereka, Raden Kesuma. Dari peristiwa ini, muncul pesan gaib agar keturunan mereka setiap bulan Kasada mempersembahkan hasil bumi ke kawah Gunung Bromo.

Makna Spiritual dan Pelaksanaan Upacara Kasodo

Upacara Yadnya Kasada dilaksanakan setiap tahun pada bulan Kasada dalam kalender Tengger, biasanya pada malam purnama sekitar tanggal 14 atau 15. Ritual ini berlangsung dari tengah malam hingga menjelang dini hari.

Prosesi dimulai dengan sembahyang di Pura Luhur Poten yang terletak di lautan pasir Gunung Bromo. Setelah itu, masyarakat Tengger melanjutkan perjalanan menuju kawah gunung untuk melaksanakan ritual utama. Beberapa tahapan upacara termasuk puja purkawa, manggala upacara, ngulat umat, tri sandiya, muspa, pembagian bija, hingga penyerahan sesaji ke kawah Bromo.

Ritual ini menjadi ungkapan rasa syukur masyarakat Tengger kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus permohonan agar terhindar dari berbagai marabahaya.

Persembahan Sakral Masyarakat Tengger

Salah satu unsur penting dalam perayaan Kasada adalah ongkek, yaitu rangkaian sesaji yang berisi berbagai hasil bumi dari masyarakat Tengger. Ongkek biasanya dibuat dari bambu sebagai rangka utama, lalu dihias dengan berbagai hasil pertanian seperti pisang, jagung, kelapa, singkong, cabai, wortel, kentang, dan beragam bahan pangan lainnya.

Ongkek tersebut nantinya dibawa ke Pura Luhur Poten untuk didoakan bersama sebelum akhirnya dilarung ke kawah Gunung Bromo sebagai bentuk persembahan kepada para dewa. Menurut tokoh masyarakat Tengger, Supoyo, tradisi ongkek memiliki nilai spiritual yang sangat mendalam. Persembahan hasil bumi tersebut menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas hasil pertanian yang melimpah sekaligus bentuk penghormatan terhadap leluhur mereka, yaitu Jaka Seger dan Rara Anteng.

Ritual Buka dan Tutup Gerbang Bromo

Selain prosesi utama Kasada, terdapat pula ritual lain yang dilakukan masyarakat Tengger, yaitu tradisi buka dan tutup gerbang Bromo. Ritual ini menjadi bagian penting dalam rangkaian upacara Kasada.

Sebelum gerbang menuju Gunung Bromo dibuka, masyarakat terlebih dahulu menggelar doa bersama di Desa Ngadisari, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Dalam ritual tersebut, doa dipimpin oleh kepala dukun adat Tengger yang membacakan mantra Tri Sandia untuk memohon perlindungan kepada Sang Hyang Widhi. Prosesi doa juga dilengkapi dengan kembang tujuh rupa, makanan persembahan, serta asap dupa.

Setelah doa selesai dilakukan, pemangku adat bersama aparat pemerintah dan masyarakat kemudian melaksanakan prosesi membuka gerbang menuju kawasan Bromo. Sementara itu, ritual penutupan gerbang dilakukan kembali setelah seluruh rangkaian Upacara Yadnya Kasada selesai dilaksanakan.

Tradisi yang Terus Dijaga

Tradisi Yadnya Kasada tidak hanya menjadi ritual keagamaan bagi masyarakat Tengger, tetapi juga menjadi simbol identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Hingga kini, tradisi tersebut tetap dijaga sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus wujud keharmonisan manusia dengan alam.

Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *