Kematian Pertama Tentara AS dalam Serangan Gabungan ke Iran
Pada hari Minggu (1/3/2026), Amerika Serikat (AS) mengumumkan kematian pertama tentaranya dalam rangkaian serangan gabungan bersama Israel terhadap Iran. Dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh Pentagon, tiga anggota militer AS dilaporkan tewas dan lima lainnya mengalami luka parah. Selain itu, sejumlah personel juga mengalami luka ringan akibat pecahan peluru serta gegar otak.
Beberapa di antaranya saat ini sedang menjalani perawatan dan dalam proses pemulihan untuk kembali bertugas. Sementara itu, United States Central Command (Centcom) dalam pernyataan yang diunggah melalui media sosial menyebutkan bahwa operasi tempur utama masih terus berlangsung dan upaya respons militer sedang dijalankan.
“Situasinya dinamis, sehingga untuk menghormati keluarga prajurit yang gugur, kami akan menahan informasi tambahan, termasuk identitas korban, hingga 24 jam setelah keluarga terdekat diberi tahu,” demikian pernyataan Centcom.
Pengumuman tersebut muncul di tengah eskalasi konflik yang kian memanas. Dalam 48 jam terakhir, Iran melancarkan serangan balasan ke sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa operasi militer tersebut bertujuan membawa perubahan dalam kepemimpinan Iran. Ia juga menyebut kemungkinan perang dapat berlangsung hingga empat minggu.
Di pihak lain, media pemerintah Iran mengutip laporan Bulan Sabit Merah yang menyebut sedikitnya 201 orang tewas dan lebih dari 700 lainnya luka-luka akibat pemboman oleh AS dan Israel di berbagai wilayah Iran. Serangan pembuka dalam kampanye militer tersebut juga dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang memimpin negara itu selama 37 tahun.
Hingga kini, situasi di lapangan masih terus berkembang dengan kedua pihak saling melancarkan serangan, memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Perang di Iran Bisa Berlangsung Hingga Empat Minggu
Trump mengatakan, operasi militer di Iran bisa berlangsung selama empat minggu. “Prosesnya selalu memakan waktu empat minggu. Kami memperkirakan akan memakan waktu sekitar empat minggu,” katanya kepada surat kabar Inggris Daily Mail, dalam wawancara terbaru, Minggu (1/3/2026).
“Sekuat apa pun Iran, ini adalah negara yang besar, akan membutuhkan waktu empat minggu atau kurang,” sambungnya. Pasukan Iran merespons dengan rudal dan drone yang menghantam pangkalan militer AS, serta target lain di seluruh Timur Tengah. Trump pun mendesak Iran untuk segera menghentikan serangannya.
“Sekali lagi saya mendesak Garda Revolusi, militer dan polisi Iran untuk meletakkan senjata,” ujarnya, dikutip dari AFP. “Ini akan menjadi kematian yang pasti. Ini tidak akan menyenangkan,” sambungnya.
Markas Besar IRGC Disebut Hancur
Sementara, militer AS mengatakan telah menghancurkan markas besar Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). “AS memiliki militer terkuat di dunia dan IRGC tidak lagi memiliki markas besar,” kata Komando Pusat AS dalam sebuah pernyataan.
Para pemimpin Iran yang masih hidup telah menyuarakan penentangan dan mengatakan bahwa serangan balasan dibenarkan sebagai bentuk pembelaan diri. Di Israel, serangan rudal Iran menewaskan sedikitnya sembilan orang dan melukai puluhan lainnya di kota Beit Shemesh. Sirene juga berbunyi di Israel utara setelah terdeteksi adanya proyektil dari Hizbullah yang melakukan serangan balasan atas kematian Khamenei.
Presiden Masoud Pezeshkian menyebut pembunuhan Khamenei sebagai deklarasi perang terhadap umat Muslim Iran. “Iran menganggap sebagai kewajiban dan haknya yang sah untuk membalas dendam terhadap para pelaku dan dalang kejahatan bersejarah ini,” kata Pezeshkian. Ali Larijani, kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang berpengaruh juga memperingatkan, Iran akan menyerang dengan kekuatan yang belum pernah mereka alami sebelumnya.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











