Pentingnya Puasa dalam Menjaga Kedisiplinan Diri
Mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan menjalankan semua ibadah yang diperintahkan selama Ramadan merupakan hal yang wajib dilakukan oleh setiap muslim. Penanaman kesadaran dalam diri seorang muslim untuk beribadah dan mengumpulkan amal sebanyak-banyaknya perlu diwujudkan dalam tindakan nyata. Sebab, puasa menjadi salah satu bentuk ibadah yang memiliki pahala yang tidak tergantikan oleh ibadah lainnya.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Rasulullah SAW, dijelaskan bahwa seluruh amal ibadah bani Adam adalah miliknya, dan setiap kebaikan akan dibalas 10x lipat hingga 700x lipat. Namun, kecuali ibadah puasa, ia adalah milik Allah dan akan langsung dibalas. Alasan pahala yang besar dari seseorang yang menahan diri dari syahwat makanan dan minuman karena Allah semata adalah karena kegembiraan saat berbuka dan ketika bertemu dengan Allah.
Ini menjadi tolak ukur besar bagi setiap muslim yang menjalankan puasa, karena puasa bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga memiliki andil penting di sisi Tuhannya jika dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Berbagai Amalan yang Bisa Dilakukan Selama Ramadan
Ada banyak amalan atau ibadah yang bisa dikerjakan selama bulan Ramadan, salah satunya adalah dengan mendengarkan kultum atau ceramah. Untuk mempermudah, telah dirangkum naskah kultum Ramadhan yang bisa digunakan setelah melaksanakan salat subuh berjamaah maupun saat jelang tarawih di malam hari.
Puasa sebagai Tips untuk Jomblo yang Belum Menikah
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Pertama-tama marilah kita sampaikan rasa puji dan syukur kepada Allah SWT sehingga kita dapat berkumpul dalam kondisi sehat walafiat. Shalawat serta salam kita kirimkan kepada Nabi Muhammad SAW, Nabi yang telah membawa kita dari alam kegelapan menuju alam yang terang benderang.
Hadirin yang saya hormati,
Puasa merupakan ibadah yang menjadi rahasia antara seorang hamba dan Tuhannya. Dalam praktiknya, puasa tak hanya sekedar menahan makan dan minum serta hal-hal lain yang dapat membatalkan puasa. Puasa juga menjadi sarana untuk meredam hawa nafsu yang menyebabkan kriminalitas, terutama kriminal yang berhubungan dengan seksualitas.
Sebab, sumber dari syahwat sendiri adalah makanan dan minuman yang dikonsumsi manusia sebagai sumber energi. Dalam hal ini, puasa dapat dijadikan media untuk mengendalikannya. Seperti yang dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin:
“Puasa dapat menundukkan musuh Allah, sebab media yang digunakan oleh setan ialah syahwat; dan syahwat menjadi kuat dengan makan dan minum. Karenanya Rasulullah saw bersabda: ‘Sungguh setan mengalir pada diri anak Adam dalam aliran darahnya, maka persempitlah tempat alirannya dengan lapar (puasa)’. Rasulullah saw juga berkata pada Siti Aisyah ra: ‘Perbanyaklah mengetuk pintu surga’. Aisyah bertanya: ‘Dengan apa?’. ‘Dengan rasa lapar (puasa)’.”
Puasa juga dalam hal ini dapat menjadi alternatif sarana bagi para pemuda jomblo yang belum mampu menikah. Nabi Muhammad SAW sudah memberi tips kepada pemuda jomblo yang belum mampu menikah karena belum adanya biaya dengan cara mendawamkan puasa.
Berikut adalah hadits yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari dalam Kitab Shahih-nya:
“Kami diberitahu oleh Abdan dari Abi Hamzah dari Al-A’masyh dari Ibrahim dari Alqamah, ia berkata: ‘Ketika aku berjalan bersama Abdullah ra, ia berkata: ‘Aku bersama Nabi saw, kemudian Nabi bersabda: ‘Barangsiapa mampu untuk menikah, maka menikahlah karena dapat menjaga pandangan mata dan menjaga kelamin. Barangsiapa belum mampu maka baginya berpuasa, karena puasa ialah perisai baginya’.”
Puasa sebagai Sarana Mengendalikan Nafsu
Selain sebagai sarana bagi pemuda jomblo untuk belajar mengendalikan syahwatnya, puasa juga dapat menjadi sarana untuk mengendalikan nafsu ghadabiyah (amarah) pada diri manusia. Karena puasa tidak hanya menuntut seseorang untuk menahan makan, minum dan syahwat seksual saja, melainkan juga menuntut untuk menjaga seseorang agar tidak mencela, memusuhi orang lain serta mengendalikan amarah ketika ada yang mencela kita.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Puasa adalah perisai, jika pada hari puasa salah satu dari kalian maka hendaknya ia tidak berkata kotor dan tidak memusuhi. Jika ada seseorang yang mencela atau memusuhinya hendaknya ia berkata: ‘Aku dalam keadaan berpuasa’.”
Jamaah sholat Isya dan tarawih rahimakumullah,
Akhir kata, semoga puasa yang kita laksanakan tidak hanya mendapatkan lapar dan haus saja, melainkan mendapatkan keberkahan karenanya. Serta menjadikan kita setelahnya terbiasa untuk mengendalikan diri baik dari jeratan syahwat dan amarah. Aamiin ya Rabbal alamiin. Wallahu a’lam.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











